Pahlawan Tak Dikenal

User Rating:  / 0
PoorBest 

Gelar pahlawan di Indonesia lazimnya hanya diperuntukkan bagi mereka yang berjasa dan sudah tutup usia.   Di Amerika orang berjasa disebut juga pahlawan, heroes, meskipun masih hidup.  Unsung Heroes adalah pahlawan-pahlawan yang berjasa tapi tidak populer—kurang dikenal dan tidak pernah didengar namanya.   Mungkin karya, accomplishment, atau jasa mereka tidak begitu spektakuler atau tokoh-tokoh itu media-shy, menghindari publisitas, nama mereka tidak dikenal dan hampir tidak pernah muncul di media.

 

Satu tempat di AS yang sengaja dibikin untuk mengenang pahlawan adalah Arlington National Cemetery, makam pahlawan di Arlington, Virginia, kurang dari 30 menit dengan mobil ke arah selatan dari White House.  Di situ dimakamkan ribuan serdadu AS yang gugur dalam tugas.  Selain untuk serdadu, makam pahlawan juga diperuntukkan bagi presiden, wakil presiden dan anggota kongres yang gugur dalam tugas.  Tapi di Arlington ada tugu lain yang menarik perhatian yaitu Tomb of the Unkown, Makam (Pahlawan) Tak Dikenal, menghormati mereka yang tidak kembali dari medan laga, juga jenazah pejuang yang tidak dapat diidentifikasi lalu dikebumikan tanpa nama.  Inskripsi-nya:  Here Rests in Honored Glory An American Soldier Known But to God,  Disini Dibaringkan Dengan Kehormatan Serdadu Amerika Yang Dikenal Hanya Oleh Allah.  Itu contoh Unsung Heroes.

Apa ada unsung heroes dalam Alkitab?  Ada banyak.  Dan banyak pelajaran boleh kita petik dengan menelusuri episode kehidupan para pahlawan ini, hamba-hamba Allah yang tidak atau kurang dikenal.

Yason dengan senang hati menampung di rumahnya team pekabar injil yang demikian berhasil menobatkan banyak orang.  Tetapi para pemimpin agama di kota iri hati lalu memperalat preman-preman di pasar untuk bikin huru-hara.  Akibatnya massa menyerbu rumah Yason untuk menangkap tim pekabar Injil.  Tidak menemukan Paul dan Barnabas di rumah itu, Yason diseret ke dewan kota Tesalonika.  Ia mesti bayar jaminan baru dilepas.  Yason siapa?  Baca Kisah Rasul 17.

Kenal Rhoda?  Jemaat Yerusalem sedang berdoa khusus untuk pemimpin mereka yang dijebloskan ke penjara, Kisah 12. Tengah malam mereka masih berdoa, tak disangka si pemimpin sudah lolos secara ajaib dari penjara, datang mengetuk pintu dan memanggil-manggil.  Rhoda kenal suara si pemimpin dan ia beritahu tua-tua, tapi tak seorangpun percaya.  “Masak, dia kan di penjara!” mereka menegornya.  Tapi Nona Rhoda berkeras, lalu akhirnya pintu dibuka, dan Petrus, si pemimpin, melangkah masuk.

Jasa Ananias lain lagi.  Kisah 9:10-19, gereja Damaskus sedang gempar karena berita-berita penganiayaan yang datang dari ibukota.  Tiba-tiba pesan datang kepada Ananias untuk pergi menemui si bosss penganiaya.  Gemetar ketakutan, tapi patuh pada perintah Tuhan, Ananias pergi menemui dan mendoakan si penganiaya.  Saul bertobat menjadi Rasul Paulus. Time magazine menulis Paulus-lah yang membawa agama Kristen ke seluruh dunia.

Kisah 23 menceriterakan seorang pemuda anonim keponakan Paulus sendiri.  Paulus sudah dalam tahanan, diamankan tentera Roma dari amukan massa yang dihasut tua-tua Yahudi. Si pemuda saat jalan-jalan di “bendar” mendengar preman-preman bisik-bisik:  ternyata komplotan fanatik telah bersumpah untuk membunuh Paulus.  Tua-tua Yahudi bersiasat minta perdebatan babak II dengan Paulus, sementara gang berani mati siap menghadang dan membunuhnya nanti dalam perjalanan menuju balai debat.  Si pemuda memberanikan diri menghadap penguasa dan kita tahu ceriteranya.  Gubernur memerintahkan agar Paulus, warga Roma, diungsikan ke Roma.  Paulus terhindar dari teror berkat jasa pemuda tanpa nama.

Ceritera pengungsian Paul ini berlanjut.  Muncul pahlawan kurang dikenal lain, Yulius, seorang kafir, komandan pasukan Roma yang mengawal rombongan tahanan termasuk Paulus dalam perjalanan laut dari Kaisaria ke Roma.  Kisah 27:3, “Yulius memperlakukan Paulus dengan ramah dan membolehkannya mengunjungi sahabat-sahabatnya . . .”  Paulus diberi kesempatan melawat anggota-anggota di semua tempat kapal itu singgah selama pelayaran yang berbulan-bulan, maklum kapal layar kecil hanya tergantung angin.  Tanpa nyana kapal menabrak karang dan mulai tenggelam.  Prajurit-prajurit siap membunuh semua tahanan supaya tidak melarikan diri--itu prosedur militer biasa.  Untung Yulius si komandan bertindak, “Tetapi perwira itu ingin menyelamatkan Paulus.  Karena itu ia menggagalkan masud mereka . . .” ayat 42,43.  Jasa yang perlu dihargai.  Paulus selamat tiba di Roma dan sempat mengabar injil kemana-mana dan mendirikan jemaat waktu ia dibebaskan dari penjara untuk sementara.

Pahlawan yang berikut mestinya sangat tenar tapi hampir tidak pernah dapat pengakuan.  Kisah 15 melaporkan adanya rapat “eksekutif general conference” di Yerusalem yang membicarakan gereja-gereja di luar Yudea.  Pembicaraan berjalan seru, dan setelah “... beberapa waktu“ (ayat 6-7) maka “... berkatalah Yakobus...,” dan isi pidatonya, 13-22,  diterima “rasul-rasul dan penatua-penatua” menjadi keputusan konferensi.  Hebat si Yakobus, tapi Yakobus siapa?  Apa Yakobus saudara Yohanes, anak Zabdi, yang Yesus sebut “anak-anak guruh”?  Bukan, karena menurut Kisah 12:2 ia sudah dihukum mati.  Jadi, Yakobus mana yang “mengarahkan” konferensi? 

 Baik kita periksa daftar murid-murid Yesus dalam Markus 3:16-19:

1.  Simon Petrus-Kefas 2. Yakobus Zabdi 3. Yohanes Zabdi

4.   Andreas      5. Filipus 6.  Bartolomeus

7.   Matius     8. Thomas 9.  Yakobus Alpius

10. Thadeus    11.Simon Zelot     12.Yudas Iscariot.

Aha, murid ke sembilan, Yakobus Alpius.  Apa ini orangnya? 

Galatia 2:9, “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugrahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan  Yohanes, yang sokoguru jemaat . . .”  Yakobus Zabdi sudah lama mati, apa sokoguru ini Yakobus Alpius?  Galatia 1:19, “Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus.” Saudara Tuhan Yesus?  Apakah saudara dalam pengertian proverbial, kita semua umat Tuhan ber-saudara?

Markus  12:46,47  ”Sementara Ia berbicara kepada orang banyak, lihat, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar, ingin berbicara kepada-Nya . . . .  Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu berdiri di luar ingin berbicara dengan-Mu.” Yesus dikunjungi Ibu dan saudara-saudaraNya.  Matius 13:55,56 mencatat hal yang sama.  Bicara ibu dan saudara-saudara itu hubungan darah, bukan proverbial.  Markus 6:1-3 mengisahkan Yesus pulang ke Nazareth, berkhotbah dan buat mujizat.  Orang-orang sekampung heran--mereka kenal Dia dari kecil, pekerjaannya, ibu-bapa, rumahnya, saudara-saudaranya.  Nama-nama brothers-Nya disebut: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas, dan sisters.  Catatan lain lagi, 1 Korintus 15:7, waktu Yesus bangkit, Ia ambil waktu menemui Yakobus, saudara-Nya.  Ini menunjukkan hubungan erat, kakak-adik.

Yesus punya saudara-saudara kandung laki-laki dan perempuan—anda kaget?  Ia dibesarkan oleh ibu Maria dan bapa Yusuf.  Maria masih virgin waktu kawin dengan Yusuf, Yesus anak sulung. Kalau ada saudara-saudara itu adik-adik: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas, dan adik-adik perempuan.  Zaman dulu keluarga banyak anak itu lazim. Sesudah Maria melahirkan Yesus yang dikandung dari Roh Kudus, boleh dong Yusuf punya anak dengan Maria isteri tercinta.  Apa mungkin Yusuf itu duda dan punya anak-anak sebelum ketemu Mariam?  Tidak ada anak yang dicatat ikut Yusuf dan Maria pergi dari Nazareth ke Betlehem untuk sensus.   Atau mungkin saudara-saudara sepupu?  Alkitab explicit menyebut brothers dan sisters, bukan cousins.

Lebih jauh.  Buku Yakobus yang terletak di antara buku Ibrani dan I Petrus; siapa penulisnya?  Bukan Yakobus Zabdi atau Yakobus Alpius tapi Yakobus saudara Yesus.  Alkitab New International Version terbitan Zondervan berkomentar,  Penulis:  Yakobus, saudara Yesus, salah satu pemimpin gereja Yerusalem.

 Jadi kita punya satu lagi pahlawan yang hampir tak dikenal, Yakobus saudara Yesus. Dan masih banyak lagi.

 Tapi Yakobus membuat berita headline belum lama berselang. [Lihat box, kutipan  National Geography].

Manusia secara alami suka dikenal, dicinta, dihargai.  Kalau kita berhasil,  kita ingin mendapat kredit atas hasil atau prestasi itu.  Itu normal, itu hak kita.  Tapi itu bukan yang dicontohkan Yesus.  Ia menghampakan diri, Filipi 2:5-7, menjadi seperti seorang hamba.  Waktu orang banyak mengelu-elukanNya, mau menjadikan Dia Raja, Dia mengasingkan diri dan menangis.  Beda dengan kita—umumnya.  Kita suka ditonjolkan.  Kurang senang kalau nama kita tidak disebut atau dicantumkan dalam daftar orang-orang berjasa.  Kita suka kerja bagi Tuhan, tapi maunya “rally” di gedung besar, diwawancara dan di-cover surat kabar dan TV.  Proyek di kampung nanti lain kali, tapi yang mercu suar, ayo!  Kita kecil hati kalau tidak dapat kalungan bunga.  Kita mau dihargai dan dipuja-puji orang—banyak di antara kita, tentu tidak semua.

Yesus berkata, Matius 6:5, mengenai orang-orang Farisi yang berdoa di perempatan jalan, supaya dilihat orang banyak.  “Mereka sudah mendapat upahnya.”  Sayang, bukan?  Sudah buang waktu dan berkorban, mengharapkan upah di surga. Tapi menurut Yesus, kita yang senang disanjung-sanjung, bersama teman-teman kita Farisi, sudah menerima pahala di bumi, yaitu pujian-pujian itu.  Tidak ada lagi pahala di sorga.

Kita di Indonesia ada masaalah.  Kultur kita suka puji-puji orang, istilah Manado:  angkat-angkat telor.  Kalau kita buat yang baik, berhasil, tanpa diminta orang puji sampai ke langit.  Kalau datang ke daerah dan bawa bantuan, pimpinan wilayah akan sambut kita di bandara.  Mau merendahkan diri, susah!

Jadi, apa yang mesti kita lakukan?

Buatlah apa yang mampu kita buat untuk Tuhan.  Untuk Tuhan, bukan untuk kita sendiri.  Kalau bikin sesuatu yang baik, tidak usah press releaseLow profile lebih aman.  “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”  Baik kita ikut contoh Yakobus, Yason, Rhoda, Yulius, dan Ananias.

Tidak salah kalau kita jadi Paulus, Petrus, Elia atau Mark Finley yang berbicara di depan massa, di depan dewan dan gubernur, di TVRI, CNN dan CBS mungkin, kalau itu kehendak Allah.  Musti ada yang jadi pemimpin, musti ada yang tampil di panggung.  Tapi jangan itu menjadi motivasi kita, biarlah Allah jalankan rencana-Nya.

Tanya Tuhan apa yang Ia mau kita lakukan, dan lakukan itu sebaik-baiknya oleh pertolongan-Nya.  Supaya Ia dimuliakan dan orang lain diberkati, bukan agar kita disanjung.  Semoga kita, hamba tanpa nama yang penuh dosa dan cacat-cela, beroleh belas kasihan di kerajaan-Nya.

Additional information