Aku Melihat Tuhan

Aku Melihat Tuhan

SEMPURNA

Tahun 2007 sebuah rock band dari Indonesia yang dikenal dengan nama “Andra and BackBone” pernah membuat tembang “Sempurna” menjadi salah satu lagu yang jadi popular dan disukai oleh kawula muda. Kata “Sempurna” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris “Perfect” sinonimnya dalam bahasa Indonesia antara lain, “Lengkap (Complete), Tanpa cacat (Faultless), Mulus (Flawless), Murni (Pure), Dewasa (Mature), Ketat (Strict).


Dalam Alkitab kata “sempurna” baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyebutkan dua versi yang sedikit berbeda antara lain yaitu dalam bahasa Ibrani “tamim” berarti “Lengkap, benar, damai, sehat, tidak bercela,” sedangkan dalam bahasa Yunani “teleios” berarti “Lengkap, sempurna, dewasa, matang, bertumbuh.” Menurut versi Yakobus bahwa, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yak. 2:22).


Salah satu pasal yang terkenal dalam Khotbah Yesus Di Bukit (5,6,7) yaitu terdapat dalam penutup pasal 5, dalam kitab Matius 5:48 berbunyi, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. (Therefore you shall be perfect, just as your Father in heaven is perfect). Ayat ini sering menyebabkan kekhawatiran di antara orang-orang percaya. Bagaimanakah mungkin saya bisa mencapai ini? Apakah yang Yesus maksudkan, sebuah nasehat atau janji?
Kesempurnaan dalam Alkitab sangat erat hubungannya dengan peran Kristus dalam karya keselamatan. Teladan Kristus melakukan kehidupan-Nya dalam dunia, patut dicontohi agar pola hidup kita mengikuti secara maksimal tanpa dosa sebagaimana Kristus rentan terhadap karya Kekristenan. Di satu pihak kita menerima kematian Kristus di salib yang berdampak penebusan dan kekudusan kita, sehingga kita dapat menerima kesempurnaan-Nya sebagai kesempurnaan kita. Di lain pihak kita harus waspada terhadap “kasih karunia murahan” atau “anugerah picisan” yang menjanjikan kesempurnaan.
Hanya oleh penyatuan kedua belah pihak yaitu keselamatan oleh anugerah yang membawa kita mencapai kesempurnaan dan melalui hubungan dengan Kristus dalam kehidupan-Nya yang kudus, menuruti atau melakukan kehendak-Nya atau hukum-Nya atau perintah-perintah-Nya, sehingga tujuan dan sasaran tercapai. Dalam kitab Ayub 1:1,8 ada empat tabiat atau perangai yang dimiliki Ayub, orang Us itu yaitu: saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Imannya dinyatakan oleh jenis kehidupan yang ia jalani yang menjadi saksi bagi kita yang hidup dalam Kristus.


Pena inspirasi mengatakan, “God has given in His word a picture of a prosperous man—one whose life was in the truest sense a success, a man whom both heaven and earth delighted to honor.” — Ellen G. White, Education, p.142. Terjemahannya, “Allah telah berikan firman-Nya gambar seorang pria yang makmur – yang hidupnya dalam arti sebenarnya sukses, seorang pria baik surga maupun bumi senang menghormatinya.” Ayat ini menunjukkan bahwa Ayub merupakan orang yang sangat berhasil dalam semua hal di hadapan Allah maupun di hadapan manusia.


Dalam frasa “hatiku menuruti pandangan mataku” (Ayub 31:7) menunjukkan bahwa Ayub mengerti makna lebih dalam dari kesucian, benar atau salah, dan jabaran dari hukum Allah seperti adalah salah bila berahi terhadap seorang perempuan, bukan hanya jika berzina dengan dia. Di samping Ayub mengerti akan hak asasi manusia yang berasal dari Allah, sehingga membuatnya lebih berpandangan luas ke depan.


Kunci kemenangan utama Ayub dalam setiap pergumulan yaitu ditentukan oleh kemenangan-kemenangan kecil ialah kesetiaan, selalu benar, tanpa mau kompromi. Merujuk pada Yakobus 2:22 frasa “oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Ayat ini merupakan suatu prinsip kehidupan Kristen di mana dalam kitab Ayub prinsip ini berfungsi sangat kuat. Kehidupan Ayub yang tidak bercacat, konsisten, dan kudus menjadi teladan umat Kristen.


“The very image of God is to be reproduced in humanity. The honor of God, the honor of Christ, is involved in the perfection of the character of His people.” — Ellen G. White, The Desire of Ages, p. 671. Terjemahannya, “Sangat mirip dengan gambar Allah adalah untuk direproduksi dalam kemanusiaan. Kehormatan Allah, kehormatan Kristus, yang terlibat dalam kesempurnaan karakter umat-Nya.” Kehidupan Ayub yang selaras dengan Allah, menjadikan dirinya memiliki iman yang praktis seperti etika yang tinggi, integritas, dan rentan secara sosial dalam masyarakat.

Salam,

Frederik Wantah

BAIT
Renungan
J

udul renungan kita kali ini adalah sebuah frasa yang terdapat di dalam Yesaya 6:5, yang mengung- kapkan bahaya yang mengancam kehidupan Nabi Yesaya yang tinggal bersama kominitas bangsanya-Yehuda, terperosok jauh dari Tuhan. “…. Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”


Kata –namun-, yang membelah ayat 5 ini, memberi dua pengertian kepastian dari ancaman kematian kepada kehidupan bangsa Yehuda. Dan,  frasa berikutnya ini  menjadi lebih  penting atas kenyataan kebaikan Tuhan. Kasih Karunia-Nya bagi Yesaya dan bangsanya  tak terbayangkan, kebaikannya.  “mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”-ini berarti kehidupan.

Mengapa demikian? Jika kita melihat latar belakang kehidupan Yehuda pada abad ke-8, di mana Yesaya menjadi nabi bagi Yehuda.“Dalam tahun matinya raja Uzia” (Yesaya 6:1), yakni pada tahun 740 sM. Uzia pada mulahnya seorang raja yang baik. Pena inspirasi yang ditulis Ellen G. White dalam dalam bukunya Para Nabi dan Raja sehubungan dengan panggilan kepada Yesaya menyatakan seperti berikut ini: Uzia (yang juga dikenal sebagai Azaria) dalam jangka waktu yang panjang di negeri Yehuda dan Benyamin ditandai oleh suatu kemakmuran yang lebih besar daripada setiap raja lain sejak kematian Salomo, hampir dua abad sebelumnya. Bertahun-tahun lamanya raja itu memerintah dengan bijaksana. Dengan berkat dari Surga tentaranya merebut kembali wilayah yang hilang pada tahun-tahun sebelumnya. Kota-kota dibangun kembali dan diberi benteng, dan kedudukan bangsa itu di antara bangsa-bangsa sekeliling menjadi sangat kuat. Perdagangan hidup kembali, dan kekayaan bangsa-bangsa mengalir ke Yerusalem. Nama Uzia, “termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh, karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat.” 2 Tawarikh 26:15. Namun, kemakmuran secara luar ini tidak dibarengi dengan kuasa kebangunan rohani. Upacara-upacara bait suci berjalan terus seperti dalam tahun-tahun sebelumnya, dan orang banyak berhimpun untuk menyembah Allah yang hidup; tetapi dengan pelahan-lahan kesombongan dan tatacara biasa mengganti kerendahan hati dan ketekunan. Mengenai diri Uzia sendiri ada tertulis: “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak: ia berubah setia kepada Tuhan, Allahnya.” Ayat 16. Dosa yang mengakibatkan bahaya besar bagi Uzia adalah dosa kecongkakan.

Sepanjang masa raja Uzia inilah kemurtadan melanda Yehuda. Alkitab mencatat rumitnya pelangaran Yehuda, sampai dianalogikan melebihi binatang sebab binatang lebih menurut dibandingkan denga Yehuda: “Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman: “Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.”–Yesaya 1:2,3.
Selanjutnya, Yesaya 1:23 menyatakan dosa para pemimpin: “Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka.”


Dan, akhirnya Yehuda tiba kepada hilangnya rasa atas pertimbangan untuk membedakan  antara kebaikan dan dosa, “Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.”–Yesaya 5:20

Apakah  berlebihan jika kita mengatakan bahwa keadaan dosa Yehuda berabad-abad yang lalu, setara dengan situasi dunia kita hari ini?  Marilah kita melihat di sekeliling kita, kepada dunia di mana kita tinggal dewasa ini, kita sendirilah yang dapat menjawabnya.       

“Aku melihat Tuhan” dalam penggalan ayat di Yesaya 6:5, paling tidak  memberi kepada kita dua hal yang penting. Pertama, dengan penuh kesadaran  melihat betapa terpengaruhnya Saudara dan saya kepada daya Tarik dosa. Tidak peduli apakah kita semua adalah Pelayan Tuhan atau anggota Jemaat biasa kita sudah tercebur kedalamnya. Kesombongan, materialistic, sekularisme dan masih banyak yang lainnya, bukankah terjadi pada kita hari ini!

Kedua, pada waktu kita melihat Tuhan berarti, kesempatan keselamatan ditawarkan kepada Saudara dan saya. Ternyata Kasih Karunia-Nya menutupi dosa-dosa kita. Kebaikan-Nya,    melampaui tingginya dosa kita.  Pengertian kedua ini tidak sekadar  samapai di sini saja. Kebaikan Tuhan, Kasih Karunia-Nya yang ajaib tidak perlu diragukan lagi. Namun, itu akan sia-sia jika kita tidak bergeser pada posisi berikut ini: “Mereka  yang berjalan dalam bayang-bayang salib Golgota tidak akan meninggikan diri, tidak akan menyombongkan diri karena mereka telah dibebaskan dari dosa. Mereka merasa bahwa karena dosa-dosa merekalah  yang menyebabkan penderitaan yang menghancurkan hati Anak Allah, dan pemikiran ini akan menuntun mereka kepada penyesalan yang mendalam. Mereka yang   hidup paling dekat dengan Yesus melihat dengan jelas kelemahan dan keberdosaan manusia, dan harapan mereka satu-satunya hanyalah jasa-jasa Juruselamat yang tersalib dan yang   telah bangkit kembali itu.”—Ellen G. White, (The Great Controversy, cp 27, p 471).

Akhirnya, pada setiap saat, kita dapat melihat Tuhan; pastikan bahwa adanya perubahan hidup kita setiap hari. Jika tidak, kita pasti melihat yang lain. Tuhan memberkati! BAIT


Opini
BAIT


A.  Apakah Natal itu?

Pesta Natal Kelahiran Kristus disebut dalam bahasa Inggris Kuno, Cristes Maesse, dalam bahasa Inggris modern disebut “the Mass of Christ” (dari istilah gerejani berbahasa Latin disebut Missa), sehingga dapat disebut Missa Kristus.  Kemunculan pertama kali istilah Natal (Christmass) ini di dalam tulisan yang luas bertanggal abad ke-11, dan parallels dengan istilah dalam bahasa Belanda disebut Kerst-misse. (Istilah Latin Dies natalis terletak di belakang istilah Italia Il natale dan dalam bahasa Prancis disebutNoel,  walaupun istilah Jerman Weihnachtsfest dinamai untuk mendahului sebutan  “eve,” atau “vigil”  (petang atau malam Natal, sehari sebelum tanggal perayaan Natal 25 Desember).[1]   Natal saat ini diperingati oleh hampir semua orang Kristen dari Timur Ke Barat Utara ke Selatan.  Dengan yang muda, mereka yang sudah dewasa, bahkan yang berusia lanjut, itu adalah masa bersukacita yang umum, kesukaan yang besar. Tetapi apakah Natal itu, mengapa itu harus mengambil perhatian yang begitu besar?  Inilah hari perayaan yang sudah dijadikan selama berabad-abad.[2]  Betapapun, satu hal yang mengejutkan bagi sudut padang modern, Natal tidak dirayakan di jaman Gereja mula-mula.  Mungkin di dalam reaksi kepada reputasi yang tidak baik dari pesta-pesta “hari kelahiran” (natalitia) kaisar-kaisar Romawi.  Irenius dan Tertulianus tidak pernah menunjukkan satu Pesta Kelahiran atas daftar-daftar perayaaan-perayaan orang Kristen.  Minat di dalam menempatkan satu tanggal kelahiran Kristus berkembang secara perlahan-lahan sesudah abad ke-3 Masehi., sekalipun demikian itu masih ditentang oleh Jerome sesudah tahun 410 TM (Comm. in Ezechielem [PL 25.18]).[3]  Menjelang tahun 386 TM, John Chrysostomus sudah mendesak gereja di Antiokhia untuk menyetujui tanggal 25 Desember sebagai hari untuk merayakan Kelahiran Kristus, dan di Roma kalender Philocalia (354 TM) mencakup di bawah tanggal 25 Desember, melawan Natalis invicti, orang kafir atau “kelahiran (matahari) yang tak dapat ditaklukan,” frase “VIII kaali ian natus Christus in Bethleem Iudea.”  Namun demikian, tiada jaminan di dalam Injil-Ijil untuk penentuan tanggal itu, menjelang masa St. Augustinus tanggal Pesta Perayaan Kelahiran Kristus sudah dilembagakan, terhadap lawan mereka yang seperti Jerome yang mengkritisi perayaan utama itu. 

Namun salah seorang perintis dari GMAHK bernama Ellen G. White mencatat bahwa tanggal 25 Desember dianggap menjadi hari kelahiran Kristus, dan perayaan atau peringatannya sudah menjadi satu kebiasaan dan popular.  Namun tidak ada kepastian yang kita sedang pelihara hari    yang nyata dari kelahiran Juruselamat kita.  Sejarah tidak memberikan kita jaminan yang pasti akan hal ini.  Alkitab tidak memberikan kita waktu yang tepat.  Haruskah Tuhan menganggap pengetahuan tentang hal ini merupakan hal yang mendasar bagi keselamatan kita, sehingga sudah semestinya Ia membicarakan hal itu melalui nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, bahwa kita boleh mengetahui segala sesuatu tentang perihal ini.  Tetapi ternyata kebungkaman Kitab Suci atas bukti-bukti dari maksud ini kepada kita menyembunyikan dari kita maksud-maksud yang paling bijak tersebut. {Adventist Home, hlm.  477, parag. 2} 

Asal-Usul dan Perkembangan Perayaan Natal Kristen. 

         Hari Kelahiran Dewa Mithras.  Sejak abad ke-4 di Timur dirayakan juga pesta Epiphanias pada tanggal 6 Januari. Epiphanias berarti “menjadi nampak” (tampil);  pada hari dan tanggal itu diperingati bahwa kelahiran dan baptisan Tuhan Yesus.  Hari Natal Tuhan Yesus berasal dari tanggal 25 Desember berasal dari Roma pada abad ke-4;  hari raya ini menjadi pengganti pesta yang umum dirayakan pada pertengahan musim dingin, oleh karena mulai dari saat itu Matahari  bersinar kian hari kian lama dan panas.  Lama kelamaan hari Natal (kerajaan Roma kafir) itu diterima dan dirayakan di segala Gereja Kristen,[4] yang tadinya merupakan sebuah pesta orang kafir, yang bernama Natalis Invicti, merupakan sebuah perayaan besar-besaran orang Romawi setiap tanggal 25 Desember, ketika Matahari berada pada titik balik dari musim dingin ke musim semi.  Sementara Kekristenan memenangkan sebuah kemenangan yang terhitung dengan mudah terhadap agama Yunani-Rowawi  (Graeco-Roman), hal itu memiliki perjuangan berat dengan agama Mithras.  Para penyembah dewa Mithras akhirnya dimenangkan menjadi Kristen oleh mengambil alih hari kelahiran dewa Mithras, yakni tanggal 25 Desember, sebagai hari Kelahiran Kristus.[5] Walaupun tadinya bangsa Romawi, yang memuja dewa Matahari  (Mithras atau Sol Invictus), dengan penuh semangat mengajak rekan-rekan Kristen mereka merayakan pesta ini.  Pada tahun 386 M., para pemimpin Gereja menentukan perayaan yang disebut Christ Mass (*kedatangan Kristus*) pada tanggal yang sama yakni 25 Desember, supaya orang Kristen dapat mengikuti pesta itu tanpa menaruh perhatian pada aliran kafir. Setelah kerajaan Romawi hancur, orang-orang Kristen tetap merayakan kebiasaan itu.  Sejak saat itu, tanggal 25 Desember terasa lebih cocok dari pada tanggal yang lain.[6]

         Perayaan yang sangat umum dituntut bahwa pada tanggal 25 Desember  kelahiran “Matahari baru” harus dirayakan, ketika hari-hari titik balik Matahari  musim dingin mulai untuk diperpanjang dan bintang “yang tak nampak” menang lagi terhadap kegelapan. Adalah pasti bahwa tanggal Natalis Invicti  ini dipilih oleh Gereja sebagai perayaan Kelahiran Kristus, yang sebelumnya dibingungkan dengan Epiphany.  Di dalam menentukan hari ini, secara universal ditandai oleh sukacita yang khidmat, yang sejauh mungkin telah dipertahankan-sebagai contoh balapan kereta perang kuno dipelihara,–kewenangan-kewenangan gerejani memurnikan di dalam beberapa kebiasaan yang mereka tidak dapat hapuskan.  Penggantian ini, berlangsung di Roma kira-kira antara 354 dan 360 M, yang diadopsi oleh seluruh kekaisaran, makanya sekarang ini orang-orang Kristen merayakan Natal pada 25 Desember.  Pra-kemasyuran yang menentukan dies Solis (hari Matahari ) secara pasti juga menyumbangkan pengakuan umum Minggu sebagai hari libur.  Ini dihubungkan dengan fakta yang lebih penting, yaitu pengadopsian pekan oleh seluruh bangsa Eropa.[7]

Natal (Christmas)Ketidakpastian Tanggal Kelahiran Kristus.  Ketidakpastian tentang Kelahiran Kristus di awal abad ketiga direfleksikan di dalam satu bagian percekcokan Penatua Hippolytus, yang dibuang ke Sardinia oleh Maximin di tahun 235, dan didalam sebuah pernyataan otentik dari Clement dari Alexandria.  Sementara pendahulunya setuju bahwa tanggal 2 Januari, cendekiawan Clement dari Alexandria menghitung satu demi satu beberapa tanggal yang diberikan para chronographer (pencatat waktu akurat) khususnya tanggal 25 dari bulan Pachon Mesir kuno (25 Mei) di dalam tanggal ke-28 Agustus tiap tahun dan 24 atau 25 bulan Pharmuthi (28 atau 29 April) pada tahun 1 Masehi, walaupun ia setuju tanggal 25 Mei.  Ini menunjukkan bahwa tidak ada hari raya Gereja di dalam menghormati hari yang didirikan sebelum pertengahan abad ke-3.  Origenes pada waktu itu di dalam sebuah khotbah mengucapkan gagasan pemeliharaan hari Kelahiran Yesus seperti hari Kelahiran Firaun itu dan mengatakan bahwa orang-orang berdosa sama seperti Herodes juga dihormati.  Arnobius kemudian secara bersamaan telah menertawakannya oleh memberikan hari-hari lahir bagi “dewa-dewa.  Sebuah risalat berbahasa Latin, De pascha computus (kira-kira tahun 243 M), menempatkan kelahiran Yesus pada tanggal 21 Maret oleh karena itu dianggap sebagai hari di mana Allah menciptakan Matahari (Kejadian 1:14–19), sehingga melambangkan “Matahari  Kebenaran”seperti yang Maleakhi (4:2) sebutkan yang mengharapkan kedatangan Mesias.  Satu abad sebelumnya Polykarpus, yang mati syahid di Smyrna di tahu 155 M, memberikan tanggal yang sama bagi kelahiran dan baptisan menempatkannya pada hari Rabu sebab penciptaan dari Matahari  pada hari itu.[8]

Makna Natal Dalam Tiga Dimensi:   Masa Lalu, Masa Sekarang dan Natal Masa Depan

 A.  Makna Natal Kristen:  Dimensi Masa Lalu Yesus Kristus

Nubuatan Alkitab Terkait Kelahiran Mesias.  Nabi Yesaya dan Mikha telah menubuatkan tentang sang perawan perempuan dan Anak laki-laki yang akan dilahirkan yang merujuk kepada keMesiasan Yesus Kristus.  Yesaya bernubuat, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda:  Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (Yesaya 7:14).   Nabi Mikha menubuatkan kedatangan Mesias sebagai berikut:  “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.  Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.  Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, 5:4 dan dia menjadi damai sejahtera” (Mikha 5:1-4a).  Dalam Wahyu 12:5 tercatat bahwa “perempuan itu  melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.”Bahkan Menurut Galatia 4:4, 5 bahwasetelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”

Eksitensi Masa Lalu Yesus Kristus.   Alkitab sendiri sudah mencatat eksistensi atau keberadaan masa lalu dari Yesus Kristus.  Dalam surat 1 Petrus 1:20 disebutkan, “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.”  Dalam Kolose 1:17 disebutkan, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”  Dan Kolose 1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia  “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8). 

Tema Ajaib Penjelmaan.  Menurut rasul Paulus, tema penjelmaan Kristus ini adalah suatu rahasia ibadah. 

1 Timotius 3:16 Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.  Yesus, Yang Agung sorga, Raja istana sorga, menanggalkan tahta kemuliaan-Nya, Panglima Tinggi-Nya, dan datang ke dalam dunia kita untuk membawa pertolongan ilahi kepada manusia yang jatuh, yang lemah di dalam kekuatan moral, dan dirusakkan oleh dosa.  Ia memakaikan keilahian-Nya dengan kemanusiaan, bahwa ia mungkin mencapai bagian yang paling dalam dari manusia yang malang dan celaka, mengangkat tingga manusia yang sudah jatuh.  Oleh mengangkat kepada diri-Nya manusia alami, ia mengangkat kemanusiaan did lam skala moral yang bernilai dengan Allah.  Tema-tema besar ini terlalu tinggi, amat tidak terbatas, untuk pemahaman pikiran yang terbatas.[9]    

Ini menunjukkan bahwa pada saat orang-orang Kristen memperingati kelahiran Kristus maka sesungguhnya adalah penting bagi mereka untuk memperingati kelahiran-Nya yang berfokus pada Yesus Kristus bukan hanya pada format, liturgi perayaan dan upacara-ucarara ritual keagamaan berbentuk ibadah-ibadah natal.   Satu-satu-Nya upacara yang diperintahkan Yesus Kristus untuk dilakukan adalah memperingati atau merayakan peristiwa kematian-Nya pada upacara Perjamuan Kudus.   Yesus berkata, “”Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku;  perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Korintus 11:25, 26).  Tidak ada lagi catatan yang dapat ditemukan dimanapun dalam Alkitab terkait perintah Yesus untuk merayakan suatu perayaan terkait diri-Nya sendiri termasuk hari Kelahiran-Nya.  Dan perkataan-perkataan Yesus di dalam 1 Korintus 11 tersebut itu adalah penetapan yang sudah final, tanpa dikurangi atau ditambahi lagi oleh rasul-rasul atau bapa-bapa gereja.  Nah, oleh karena Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8) maka perkataan-perkataan dan kleim dari Yesus Kristus melalui firman-Nya pun yang tetap sama baik kemarin, maupun hari ini dan sampai selama-lama-Nya. 

Sesungguhnya tidak ada perintah secara literal dalam Kitab Suci yang mencatat terkait penetapan tanggal dan perayaan hari Kelahiran Yesus Kristus.  Itu berarti bahwa perayaan Natal Yesus Kristus adalah hari raya buatan atau ciptaan manusia.  Salah satu gagasan-gagasan agama yang mendominasi abad kedua dan ketiga adalah kepercayaan di dalam keilahian Matahari  … Keilahian ini adalah menjadi minat khusus bagi para peneliti Kristen, karena hari raya tahunan (bangsa Roma kafir) ini jatuh pada tanggal 25 Desember dan hubungannya dengan atal Kristen sudah menjadi diskusi yang berlarut-larut. Secara jelas musim dingin sebagai titik balik Matahari, ketika kekuatan intensitas cahaya Matahari  berkurang, yang cocok untuk perayaan hari raya dewa Matahari .  Hari tersebut  di dalam sebuah pengertian menandai kelahiran sebuah Matahari  baru.  Tetapi alasan untuk memilihnya sebagai hari perayaan Kelahiran Kristus tidak terbukti…Identitas tanggal itu lebih dari sekedar sebuah kejadian yang kebetulan. Dipastikan bahwa Gereja tidak sekedar mengambil hari raya dewa Matahari  yang populer tersebut Hal itu melalui parallelisme antara Kristus dan Matahari  bahwa tanggal 25 Desember datang menjadi tanggal kelahiran Kristus…..Malahan Epiphanius, pada abad keempat di kota metropolitan Cyprus, walaupun memberikan tanggal 6 Januari sebagai tanggal kelahiran, menghubungkan peristiwa tersebut dengan titik balik Matahari.  Betapapun, perbedaan makna dari hari libur kafir yang populer secara menyeluruh adalah sesuai dengan kebijaksanaan Gereja.  Terhadap perayaan nyata dari hari raya Kelahiran Kristus, itu sudah ditambahkan, tidak ada bukti memuaskan lebih awal dari abad keempat.  Pemeliharaan pertama kalinya di Roma pada tanggl 25 Desember yang berlangsung di tahun 353 atau tahun 354 (Usener) atau di tahun 336 (Duchesne).  Di Konstantinopel nampaknya itu sudah diperkenalkan di tahun 377 atau 378.

B.  Makna Natal Dimensi Masa Sekarang Yesus Kristus

Bukankah sudah jelas bahwa makna kelahiran Yesus Kristus itu telah disampaikan oleh Allah melalui malaikat-malaikat-Nya, yakni “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).  Itu berarti bahwa kalau ada di antara kita yang belum merasakan kemuliaan dan damai sejarahtera Yesus Kristus itu maka kita belum melihat secara jelas pribadi Yesus Kristus di dalam aura keindahan tabiat-Nya.  Sehingga dapat dikatakan bahwa kita belum melihat kemuliaan Allah itu sehingga kita belum memiliki damai sejahtera yang menyangupkan dan menjadikan kita berkenan kepada-Nya.  Ibrani 12:14 menyarankan kepada kita “berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.  Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah,…”  Jadi pada saat kita berusaha hidup damai dengan semua orang maka kita boleh berkenan kepada Allah.  Pada saat seseorang berkenan kepada Allah di dalam penilaian sorga maka kita akan disanggupkan mengejar kekudusan.

Memelihara Kedamaian dan Kekekudusan.   Kadang-kadang ada orang nanti kelihatan hidup dalam kekudusan pada saat beribadah merayakan Natal.   Ini yang orang Menado bilang burung taon atau ada juga dapat diironiskan dengan seorang imam besar yang masuk satu kali 1 tahun pada saat merayakan hari raya Pendamaian.  Penulis Ibrani mengingatkan kita pada pasal 10:25 “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”  

Saudaraku yang dikasihi Tuhan, pada satu sisi memang patut diakui bahwa kekudusan memang tidak dapat diukur oleh kehadiran sesorang secara rutin di setiap acara kebaktian namun, untuk mengukur tingkat kerohanian seseorang maka dapat ditentukan oleh kerajinannya untuk hadir di setiap jam kebaktian.  Karena di setiap jam ibadah termasuk ibadah Natal seperti ini maka kita boleh saling menasihati.  Dalam 1 Korintus 2:14 “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”   Dan menurut penulis Ibrani bahwa semakin sering kita menghadiri setiap pertemuan ibadah dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat maka itu menunjukkan bahwa kita akan selalu mengakui eksistensi Yesus sebagai Allah yang sudah menjelma menjadi manusia yakni Yesus Kristus yang tetap sama baik kemarin, hari ini dan selama-lamanya (Ibrani 13:8).  Yesus Kristus tidak akan mungkin menjadi pokok keselamatan yang abadi (Ibrani 5:7-9) hingga hari ini kalau dia tidak menjelma menjadi manusia melalui peristiwa kelahiran-Nya kurang lebih 2000 tahun lalu.  Dan pengetahuan kita terkait Kristus sebagai pokok keselamtan yang abadi hanya dapat diperoleh pada saat seseorang menghadiri pertemuan ibadah.  Sehingga ia dapat bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengetahuan akan Tuhan Yesus Kristus (2 Petrus 3:18).  Inilah yang dikenal dengan pertumbuhan iman melalui kasih karunia.  Pertumbuhan iman seseorang tidak akan mungkin terhadi tanpa kerajinan dan ketekunan beribadah. 

Dan pada sisi lain, satu fakta yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa sebagai seorang yang tekun beribadah secara pribadi dan berjemaat maka ia akan dimotivasi untuk menjalankan tipe ibadah yang satu yakni mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia dan mengekang lidahnya (Yakobus 1:26, 27).  Menurut Yakobus bahwa itulah yang dinamakan ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah. 

“1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.  1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Musim Kado-Kado Natal Bagi Maksud Allah.  Orang-orang tua seharusnya menyimpan hadiah-hadiah atau kado-kado Natal dari hadapan anak-anak mereka, dan mengarahkan mereka, garis demi garis, aturan demi aturan, di dalam kewajiban mereka kepada Allah,-bukan kewajiban mereka satu sama lain, untuk menghormati dan memuliakan satu sama lain oleh kado-kado Natal dan persembahan-persembahan.  Tetapi mereka harus diajar bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia, objek pemikiran,  usaha yang sungguh-sungguh;  bahwa pekerjaan ini adalah tema besar yang harus mengikat perhatian mereka;  bahwa mereka harus membawa kepada-Nya pemberian-pemberian dan persembahan-persembahan.  Demikian pun orang-orang majus dan gembala-gembala membawa pemberian-pemberian dan persembahan-persembahan kepada Yesus.[10]

Satu Hari Kesukaan dan Sukacita.    Saat tanggal 25 Desember dipelihara untuk merayakan kelahiran Kristus, anak-anak sudah harus diarahkan oleh aturan dan teladan bahwa ini inilah hari yang benar-benar hari kesukaan dan sukacita, engkau akan menemukannya sebuah cara yang sulit untuk melewati masa ini tanpa memberikannya perhatian.  Itu dapat dibuat untuk melayani satu maksud yang amat baik.  Orang-orang muda harus diperlakukan dengan sangat berhati-hati.   Mereka tidak harus meninggalkan Natal untuk menemukan kepelesiran mereka di dalam kesia-siaan dan mencari kepuasan diri, di dalam kepelesiran-kepelesiran yang mana akan merusakkan kerohanian mereka.  Orang-orang tua dapat mengawasi cara ini oleh memalingkan pikiran-pikiran dan persembahan-persembahan dari anak-anak mereka kepada Allah dan pekerjaan-Nya dan keselamatan jiwa-jiwa. [11]    

C.  Dimensi Masa Yang Akan Datang Natal Yesus Kristus:  Implikasi Eskatologis

Di dalam surat I Petrus 1:3 terbaca bahwa “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,…..”  Ini menunjukkan bahwa rasul Petrus tidak terfokus kepada perayaan kelahiran Yesus Kristus pada saat ia menekankan rahmat Yesus Kristus yang telah melahirkan kembali kita (dirinya dan orang-orang Kristen di zamannya) di mana dilahirkan kembali bukan pada konteks kelahiran tetapi kepada konteks kebangkitan Yesus Kristus.  Jadi sepatutnya kita sebagai orang-orang Kristen dilahirkan kembali secara rohani pada konteks kebangkitan Yesus Kristus karena itu akan berorientasi secara sempurna kepada peristiwa eskatologis dari kedatangan Kristus kedua kali dimana bagi mereka yang telah mematikan segala dosanya di dalam Kristus maka secara rohani akan dibangkitkan kepada kelahiran baru pada masa kini.  Inilah yang Petrus maksudkan sebagai kelahiran baru oleh kebangkitan Kristus kepada suatu hidup yang penuh harapan.  Sehingga pada saat ia berkata bahwa “Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua (dimensi masa sekarang) dan saksi penderitaan Kristus (dimensi masa lalu), yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak” (dimensi masa yang akan datang), sebagaimana yang ia tuliskan dalam 1 Petrus 5:1, maka ia sedang membawa setiap orang Kristen terfokus atau berorientasi kepada dimensi masa yang akan datang dari Yesus Kristus.  Dimensi masa depan Natal Yesus Kristus adalah jaminan kelahiran  baru segala eksistensi bukan dalam pengertian reinkarnasi tetapi memberikan jaminan keselamatan yang kekal secara eskatologis bahwa orang-orang percaya akan diobahkan dari tubuh yang fana mengenakan tubuh yang baka (1 Korintus 15:52-54). 

IV.   Fokuskan Natal Yesus Kristus Pada Dimensi Masa Lalu Masa Sekarang dan Masa Depan 

                Selaku umat percaya maka sudah selayaknya kita berorientasi kepada tiga dimensi waktu eksistensi Yesus yakni masa lalu kepada peristiwa kelahiran Kristus kurang lebih 2000 tahun lalu, dimensi masa sekarang kepada kesetiaan menghadiri setiap pertemuan ibadah sebagai orang Kristen agar kita saling menasihati dan semakin giat melakukannya sehingga kita memiliki konsistensi untuk tetap memfokuskan perhatian dan padangan iman kita kepada dimensi masa depan Yesus Kristus yakni kepada pengharapan akan janji kedatangan-Nya kedua kali.  Karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).  Mereka yang hanya terfokus perayaan kelahiran Yesus Kristus berarti perhatian mereka hanya terpaku kepada dimensi masa lalu Kristus.  Karena bagi mereka sekali selamat sudah selamat sehingga mereka tidak akan pernah menganggap penting untuk mengadakan pertobatan yang sungguh-sungguh demi mengantisipasi peristiwa kedatangan-Nya yang kedua kali di dalam dan melalui pertobatan dan pembenahan serta pertumbuhan iman kehidupan masa kini.  Mereka yang hanya terfokus kepada minat-minat masa kini pasti mudah terjerumus kepada perkara-perkara sekuler yang bersifat sementara dimana tidak ada minat sama sekali untuk mendalami Kitab Suci yang memaparkan misi dan rencana keselamatan yang diwujudkan di dalam penjelmaan melalui kelahiran, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus maka mereka tidak pernah terkenang kepada kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus bahkan mereka tidak merasa takut menghadapi penghakiman Allah.  Dengan demikian mereka tidak percaya juga terhadap janji pemenuhan pahala dan kehidupan kekal kepada mereka yang benar-benar telah menang dari segala ujian dan pencobaan masa kini.

                Sedangkan bagi mereka yang benar-benar memfokuskan perhatian mereka kepada ketiga dimensi waktu Yesus yang eksis di masa lalu, masa sekarang dan masa depan maka mereka tidak akan kehilangan arah dan pandangan hidup selaku orang Kristen karena ia akan tetap mengisi pikiran-pikirannya dengan berbagai pengetahuan  Alkitab terkait penjelmaan Yesus melalui kelahiran-Nya, kehidupan dan pelayanan Kristus yang mengangkat manusia dari keberdosaan, teladan penurutan yang yang sempurna terhadap hukum-hukum Allah, kematian-Nya di atas kayu salib, kebangkitan, dan pelayanan  pengantaraan-Nya di sorga sebagai Imam Besar Pernanjian Baru (Ibrani 7:25; 9:15) dan kedatagan-Nya yang kedua kali.  Sebagai orang percaya yang memiliki akses ke sorga maka pada masa sekarang ini sementara kita menanti kedatangan-Nya sebagai raja maka Yesus tidak hanya duduk atau tidur di sorga tetapi Ia adalah oknum yang hidup-hidup dan aktif untuk bekerja dalam mengantarai manusia dengan Allah pada saat mereka melayangkan doa-doa syafaat di hadapan hadirat Allah Bapa bahkan memanjatkan permohonan pengampunan atas dosa-dosa yang sengaja dan tidak sengaja (1 Yoh.  2:1;  1 Yoh. 5:15-17).  Sedangkan pada saat Ia masih berada di dunia ini Yesus pernah berkata kepada orang-orang pada jaman itu di dalam Yohanes 5:17: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga, apalagi ketika Yesus naik ke sorga sesudah kebangkitan-Nya.  Secara implisit, pekerjaan Yesus yang sedang duduk di sebelah kanan Allah Bapa sejak kenaikan-Nya bukan hanya mengajak Bapa-Nya ngobrol-ngobrol hal-hal yang tidak berguna tetapi hal-hal yang berguna bagi kepastian keselamatan kita semua. Jadi kalau kita hanya terfokus kepada peringatan sejarah kelahiran Yesus Kristus maka orientasi pemikiran kita seolah-olah hanya kepada bayi Yesus Kristus di masa lalu.  Sehingga orang akan cenderung mensakralkan eksistensi bayi Yesus dan tidak terfokus lagi kepada Yesus Juruselamat yang pernah bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan akan firman Allah sehingga Ia boleh dilayakkan menjadi pokok keselamatan abadi bagi umat manusia (Ibrani 5:7-9).   Segala kepenuhan Allah berdiam di dalam diri Yesus Kristus (Kolose 1:19) dan dengan kepenuhan Allah di dalam Yesus Kristus membuat kita beroleh kasih karunia (Yohanes 1:16).  Kepenuhan Allah itu adalah kuasa berupa kodrat ilahi yang tidak dapat dipindahkan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan.  Mengambil bagian dalam kuasa atau kodrat ilahi itu menolong dan menyanggupkan umat-umat Allah agar luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia (2 Petrus 1:4).  Kuasa atau kodrat ilahi ini dapat diperoleh dengan cara menghidupkan satu ketergantungan total kepada Allah melalui doa-doa penyerahan diri secara terus-menerus.  Menyadari bahwa saat di dalam kondisi kemanusiaan-Nya yang rentan terhadap pencobaan dan kecenderungan untuk berdosa maka Yesus melatih dan mengadakan ketergantungan secara total dan berkelanjutan kepada Bapa-Nya (Yesaya 50:4; Markus 1:15;  Ibrani 5:7-9).     

Yesus yang kita sembah dan percayai bukanlah Oknum manusia Yesus yang memiliki fisik manusia yang tetap mengenakan tubuh bayi-Nya hingga kini.  Tetapi tanpa disadari oleh kebanyakan orang bahwa Yesus yang kita sembah sedang siap-siap untuk datang kedua kali untuk segera mengakhiri sejarah dunia ini dan menjemput orang-orang percaya dan mengkleim mereka sebagai umat kepunyaan-Nya sendiri.  Dan Yesus yang sedang bersiap-siap untuk datang ke bumi ini demi menjemput kita semua selaku orang-orang percaya adalah Oknum Pribadi kemanusiaan Yesus Kristus yang memiliki pemikiran dan rencana-rencana yang Advanced bukan lagi Yesus yang masih berada pada pemikiran yang Basic, atau Intermediate di dalam konteks rencana keselamatan.  Kalau Yesus yang kita sembah hanya memfokuskan perhatian umat-umat-Nya kepada perkara-perkara masa lalu ke masa kelahiran-Nya sekitar 2000 tahun lalu maka untuk apa saudara sudah beriman kepada-Nya.  Seperti kata Paulus bahwa kalau Yesus tidak dibangkitan maka sia-sialah pemeritaan Paulus dan sia-sialah juga kepercayaan kita sebagai orang Kristen (1 Korintus 15:14).   Dan adaikan perhatian kita hanya terfokus kepada kebangkitan-Nya 2000 tahun lalu maka kita tidak dapat menghayati dan mencermati makna dan fungsi pelayanan Kristus sebagai Imam Besar di sorga. Dan seandainya. Sehingga itulah yang  tercatat dalam Ibrani 5:12-14 bahwa “sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.  Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.  Ini mengimplikasikan bahwa orang-orang Kristen yang sudah percaya kepada kebangkitan Kristus tapi tidak mempercayai pekerjaaan pelayanan Kristus sebagai Imam Besar di sorga maka orang itu tidak ada kuasa untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.  Artinya bahwa pada saat ia jatuh dalam dosa-dosa kelemahan pribadi sekalipun sudah pernah dibaptiskan maka ia tidak akan termotivasi untuk meninggalkan dosa-dosa yang sama dan itu akan menjadi praktek perbuatan karena kesalahan pengambilan keputusan sehingga ada unsur kesengajaan secara berulang-ulang.  Satu perbuatan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan yang diulang-ulang akan akan membentuk tabiat.  Salah menggunakan kuasa memilih disebabkan karena ia tidak mempercayai peranan Roh Kudus yang sanggup  menghubungkan dirinya dengan Allah Bapa Imam Besar di sorga.  Padahal Alkitab secara jelas sudah memaparkan bahwa jika seseorang jatuh ke dalam dosa maka ia memiliki pengantara kepada Bapa yakni Yesus Kristus yang adil yang menjadi pendamaian dan penghapus terhadap segala dosa kita (1 Yohanes 2:1, 2, Yohanes 1:29).  Apabila ada seorang Kristen yang gagal datang menghampiri Allah, itu berarti karena Setan berhasil menanamkan dalam dirinya bahwa ia sudah tidak layak memperoleh kembali kasih karunia dari Allah.    

                Kalau pelayanan Yesus yang kita sembah di dalam rencana keselamatan hanya terhenti sampai di sorga sebagai Imam Besar dan tidak akan pernah datang sebagai Raja di atas segala raja pada dimensi waktu masa depan maka penyesatan Setan pasti akan sempurna.  Sehingga ia akan mengkleim bahwa dunia ini menjadi miliknya sepenuhnya, maka tidak akan ada kebangkitan orang percaya dan tidak akan ada orang yang diobahkan dari tubuh yang fana ke tubuh yang baka di akhirat nanti.  Tetapi oleh karena Setan tahu bahwa kedatangan Kristus pasti akan terjadi pada akhir zaman dan akhir dari sejarah dunia ini sudah sangat semakin mendekat (Wahyu 12:9, 12), maka ia akan mengerahkan segala energi, strategi dan berbagai bentuk penipuannya untuk mengalihkan perhatian orang-orang Kristen bersedia bagi kedatangan Kristus kedua kali.  Untuk itu ia menjadi pelajar nubuatan yang aktif dan terus-menerus mempersiapkan dirinya dan agen-agen aktif untuk peperangan besar terakhir.  Ia sedang mengantisipasi dimensi waktu eskatologis umat-umat Allah merencanakan untuk menggagalkan segala pekerjaan Allah untuk mempersiapkan umat-umat-Nya dan dunia ini menghadapi masa Advent kedua.  Dan salah satu strateginya adalah membuat orang-orang Kristen hanya terfokus kepada perayaan-perayaan, pesta-pesta pora, mabuk-mabukkan dan segala kepelesiran dunia ini. Tetapi rasul Petrus menasihatkan kita pada sore ini bahwa 3:3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. 3:4 Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu?  Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan. 

V.  Penutup         

Penolakan terhadap kedatangan Kristus pertama di masa kelahiran Yesus Kristus di kalangan orang-orang Yahudi sekalipun rencana kedatangan-Nya sudah dinubuatkan, berarti menolak pelayananan diri-Nya sebagai Imam Besar surgawi saat ini dan kedua kali itu terus berlangsung tetapi Yesus tidak akan meninggalkan umat-umat-Nya.  Ia adalah Allah yang hidup!  Ia menghendaki kita terus mengkhotbahkan kedatangan Kristus pertama, pelayanan Kristus sebagai Imam Besar di sorga saat ini demi kepentingan kita yakni untuk mempertahankan status kita sebagai umat-umat Allah agar tidak mudah direbut kembali oleh Setan.  Itu sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 14:18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.  Aku datang kembali kepadamu. Itu sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 14:18 “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.”  Dalam Wahyu 22:20 disebutkan, “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman:  ‘Ya, Aku datang segera!’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus.”   Satu hal yang pasti  adalah bahwa pada perayaan Natal Yesus Kristus di tempat ini mengingatkan bahwa Yesus pernah datang 2000 tahun lalu.  Dan pada saat menjelang kedatangan Yesus pertama tidak ada persiapan yang mendesak di antara orang-orang Yahudi untuk menyambut kedatangan-Nya, sedangkan penginapan menolak kehadiran Yusuf dan Maria untuk menerima kedatangan-Nya.  Kondisi serupa sedang terjadi menjelang kedatangan-Nya kedua kali.  Memang Ia tidak akan datang dengan kehinaan-Nya tetapi  saat ini sedang tampil para pengejek terhadap mereka yang menyerukan dan mengkhotbahkan kedatangan-Nya yang kedua kali.  Jadi kalau kedatangan pertama hanya segelintir orang yang bersedia menyambut Dia demikian pun pada kedatangan-Nya kedua kali karena kedatangan-Nya sudah dipastikan oleh Yesus akan datang seperti pencuri di tengah malam (Matius 24:  Ia akan datang pada saat orang kebanyakan tidak siap menyambut Dia.  Jadi boleh jadi saudara dan saya berpesta pora merayakan kelahiran-Nya tetapi jangan lupa bahwa hanya 5 anak dara yang bijak yang bersedia menyongsong kedatangan-Nya.  Semoga saja saudara dan saya akan terbabung di antara kelompok 5 anak dara yang bijaksana itu.  Lukas 13:23, 24 Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”  Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. ***

BAIT
Artikel

S  P I R I T U A L I S M E  —  34

Kemenangan Akhir

B

Lanjutan…..

enar bahwa Spiritualisme sekarang sedang mengubah bentuknya, dengan menutupi beberapa ciri-ciri yang tidak disukai, dan bahwa ia mengenakan jubah Kristen. Tetapi ucapan-ucapannya dari mimbar dan pers telah berada di hadapan publik selama bertahun-tahun, dan di sini tabiatnya yang sebenarnya diungkapkan. Pengajaran-pengajaran ini tidak bisa disangkal atau ditutupi.

      Bahkan dalam bentuknya yang sekarang ini, yang sejauh ini tidak bisa ditolerir sebagaimana yang sebelumnya, sesungguhnya lebih berbahaya sebab tipuannya lebih halus. Kalau sebelumnya ia menyangkal Kristus dan Alkitab, maka sekarang ia mengaku menerima kedua-duanya.  Tetapi Alkitab itu ditafsirkan dengan cara yang menyenangkan bagi hati yang tidak dibaharui, sementara kebenarannya yang sesungguhnya dan yang vital dibuat tidak berpengaruh. Kasih adalah sifat utama Allah, tetapi dianggap sebagai suatu perasaan lemah, sehingga membuat perbedaan kecil antara yang baik dan yang jahat. Keadilan Allah, kecaman-kecamannya terhadap dosa, tuntutan-Nya yang suci, semuanya disembunyikan dari pandangan. Orang-orang di ajar untuk menganggap Sepuluh Hukum itu sebagai suatu surat yang sudah mati. Cerita-cerita dongeng yang menarik dan mempesona, menawan semua indera, dan menuntun manusia menolak Alkitab sebagai dasar iman mereka. Kristus benar-benar disangkal seperti sebelumnya. Tetapi Setan telah membutakan mata orang-orang sehingga penipuan itu tidak mereka lihat.

      Sedikit saja orang yang mempunyai pengertian yang benar mengenai kuasa penipuan Spiritualisme dan bahayanya jika berada di bawah pengaruhnya. Banyak yang bersekongkol dengan itu hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Mereka tidak benar-benar percaya kepadanya, dan akan dipenuhi dengan rasa ketakutan bilamana mereka berpikir untuk menyerahkan diri kepada pengendalian roh-roh. Tetapi mereka memberanikan diri memasuki daerah terlarang, dan pembinasa perkasa itu melakukan kuasanya atas mereka tanpa sekehendak hati mereka.  Begitu mereka terbujuk untuk menyerahkan pikiran mereka kepada pengendaliannya, ia menangkap mereka menjadi tawanan. Atas kekuatan sendiri, mustahil mereka melepaskan diri dari pesona bujukan yang menggiurkan itu. Tidak ada yang lain selain kuasa Allah yang diberikan sebagai jawaban kepada doa iman yang sungguh-sungguh, yang dapat melepaskan jiwa-jiwa yang terjerat ini.

      Semua yang memanjakan sifat-sifat dan tabiat-tabiat berdosa, atau dengan sengaja menyenangi suatu dosa yang diketahui, sedang mengundang pencobaan Setan. Mereka memisahkan diri sendiri dari Allah dan dari penjagaan malaikat-malaikat-Nya. Pada waktu sijahat menyodorkan tipuan-tipuannya, mereka tidak mempunyai pertahanan lagi, dan mereka akan menjadi mangsa yang empuk. Mereka yang jatuh ke dalam kuasanya, hampir-hampir tidak menyadari kemana perjalanan hidup mereka akan berakhir. Setelah berhasil menjatuhkannya, penggoda itu akan menggunakan mereka sebagai agen-agennya untuk membujuk orang lain kepada kebinasaannya.

      Nabi Yesaya berkata, “Dan apabila orang berkata kepadamu: Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit, maka jawablah: Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada Allahnya? Carilah pengajaran dan kesaksian!  Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.” (Yes. 8:19,20). Jikalau manusia mau menerima kebenaran yang dikatakan dengan jelas di dalam Alkitab, mengenai sifat manusia dan keadaan orang mati, mereka akan melihat dalam perkataan dan manifestasi Spiritualisme itu sebagai pekerjaan Setan dengan kuasa dan tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu. Tetapi gantinya meninggalkan kebebasan yang begitu disenangi hati duniawi, dan melepaskan dosa-dosa yang mereka cintai, orang banyak menutup mata mereka terhadap terang, dan terus berjalan, walaupun sudah diamarkan, sementara Setan memasang jerat-jerat di sekitar mereka, dan mereka akan menjadi mangsanya. “Karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka,” itulah sebabnya, “Allah mendatangkan kesesatan atas mereka yang menyebabkan mereka percaya akan dusta.” (2 Tes. 2:10,11).

      Mereka yang menentang ajaran-ajaran Spiritualisme sedang diserang, bukan oleh manusia saja, tetapi juga oleh Setan dan malaikat-malaikatnya. Mereka telah memasuki suatu pertarungan melawan penguasa-penguasa dan kuasa-kuasa dan roh-roh jahat di tempat-tempat yang tinggi. Setan tidak akan mundur seincipun kecuali ia dipukul mundur oleh kuasa para pesuruh surgawi. Umat Allah harus sanggup menghadapinya, sebagaimana yang dilakukan oleh Juru Selamat kita, dengan kata-kata, “Ada tertulis.”  Setan dapat mengutip Alkitab sekarang ini seperti pada zaman Kristus, dan ia akan menafsirkan salah ajaran-ajaran Alkitab itu untuk mendukung kesesatannya. Mereka yang akan berdiri teguh pada masa yang berbahaya ini harus mengerti untuk dirinya sendiri kesaksian Alkitab.

      Banyak orang yang akan didatangi oleh roh-roh jahat yang menyaru sebagai keluarga atau teman-teman yang tercinta, dan mengatakan kesesatan yang paling berbahaya. Tamu-tamu yang datang berkunjung ini akan menarik simpati kita yang terdalam, dan akan membuat mujizat-mujizat untuk mempertahankan kepalsuan mereka. Kita harus bersedia untuk melawan mereka dengan kebenaran Alkitab, bahwa orang mati tidak tahu apa-apa, dan bahwa mereka yang tampak seperti itu adalah roh-roh jahat.

      Di hadapan kita terbentang “hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.” (Wah. 3:10). Semua yang imannya tidak dialaskan dengan teguh di atas firman Allah akan tertipu dan dikalahkan. Setan “bekerja disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu” untuk menguasai anak-anak manusia, dan penipuannya itu akan terus bertambah.  Tetapi ia bisa berhasil mencapai tujuannya hanya kalau manusia itu secara sukarela tunduk kepada pencoba-pencobanya. Mereka yang dengan tekun mencari pengetahuan akan kebenaran, dan berusaha untuk memurnikan jiwa mereka melalui penurutan, melakukan apa yang bisa dilakukan untuk bersiap menghadapi pertentangan itu, akan mendapat pertahanan yang pasti di dalam kebenaran Allah. “Karena engkau menuruti firman-Ku . . .  maka Akupun akan melindungi engkau” (Wah. 3:10), adalah janji Juru Selamat. Ia akan segera mengirim setiap malaikat dari Surga untuk melindungi umat-Nya, sehingga tak satupun jiwa yang percaya kepada-Nya dikalahkan oleh Setan.

      Nabi Yesaya menunjukkan penipuan yang mengerikan yang akan datang ke atas orang-orang jahat, yang menyebabkan mereka merasa aman dari penghakiman Allah: “Kami telah mengikat perjanjian dengan maut, dan dengan dunia maut kami telah mengadakan persetujuan; biarpun cemeti berdesik-desik dengan kerasnya, kami tidak akan kena; sebab kami telah membuat bohong sebagai pelindung kami, dan dalam dusta kami menyembunyikan diri.” (Yes. 28:15). Ke dalam golongan yang diuraikan di sini termasuk mereka yang di dalam kedurhakaan menghibur diri dengan keyakinan bahwa tidak akan ada hukuman bagi orang-orang yang berdosa, bahwa semua umat manusia, tidak perduli betapa bejatnya dan jahatnya, akan diangkat ke Surga, menjadi seperti malaikat-malaikat Allah. Tetapi yang lebih ditekankan di sini ialah mereka yang membuat perjanjian dengan maut dan persetujuan dengan neraka, yang menolak kebenaran yang disediakan Surga sebagai pertahanan bagi orang benar pada masa kesukaran, dan sebagai gantinya menerima perlindungan palsu yang ditawarkan oleh Setan, — tipuan kepura-puraan Spiritualisme.

      Yang mengherankan dan sukar diungkapkan ialah kebutaan manusia pada generasi ini.  Ribuan orang menolak firman Allah sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya untuk dipercayai, dan dengan keinginan yang menyakinkan menerima penipuan Setan. Orang-orang yang skeptis dan pencemooh mempersalahkan orang-orang yang berusaha memperoleh iman seperti yang dimiliki oleh para nabi dan para rasul, dan menghibur diri sendiri dengan mencemoohkan pernyataan Alkitab yang sungguh-sungguh mengenai Kristus dan recana keselamatan, dan pembalasan yang akan ditimpakan kepada penolak-penolak kebenaran. Mereka menaruh rasa kasihan yang dalam kepada pikiran yang begitu sempit, lemah dan penuh takhyul untuk mengakui tuntutan Allah dan menuruti tuntutan hukum-Nya. Mereka menunjukkan kepastian seolah-olah mereka telah membuat perjanjian dengan maut dan persetujuan dengan neraka, —  seolah-olah mereka telah membangun suatu pemisah yang tak terlewati dan tak tertembus antara mereka sendiri dengan pembalasan Allah. Tak ada yang dapat membangkitkan ketakutan mereka. Sudah begitu sepenuhnya mereka menyerah kepada sipenggoda itu, begitu eratnya mereka bersatu dengannya, dan begitu lengkapnya diilhami dengan rohnya, sehingga mereka tidak mampu dan tidak mempunyai kecenderungan untuk melepaskan diri dari jeratnya.

      Setan sudah sejak lama bersedia untuk usahanya yang terakhir untuk menipu dunia ini. Pondasi pekerjaannya telah diletakkan oleh jaminan yang diberikan kepada Hawa di Taman Eden, “Sekali-kali kamu tidak akan mati.”   “Bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:4,5).  Sedikit demi sedikit ia telah mempersiapkan jalan bagi karya besar penipuannya dalam perkembangan Spiritualisme. Ia belum mencapai kepenuhan rencananya. Tetapi itu akan dicapai pada waktu yang masih sisa. Kata nabi, “Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah roh-roh Setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka  guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.” (Wah. 16:13,14). Kecuali mereka yang telah dipelihara oleh kuasa Alla, melalui iman kepada firman-Nya, seluruh dunia ini akan jatuh kepada penipuan ini. Orang-orang dengan cepat dinina-bobokkan kedalam perasaan aman yang fatal, yang dibangunkan hanya oleh murka Allah yang dicurahkan.

      Tuhan Allah berkata, “Dan Aku akan membuat keadilan menjadi tali pegukur, dan kebenaran menjadi tali sifat; hujan batu akan menyapu bersih perlindungan bohong, dan air lebat akan menghanyutkan persembunyian. Perjanjianmu dengan maut itu akan ditiadakan, dan persetujuanmu dengan dunia orang mati itu tidak akan tetap berlaku, apabila cemeti berdesik-desik dengan kerasnya, kamu akan hancur diinjak-injak.” (Yes. 28:17,18).. ***

Inspirational Story
BAIT

 

S

iapa sangka kalau Ben Carson akan jadi begini di masa depannya: menjadi dokter ahli syaraf yang terkenal, dikagumi, dipuji, tempat banyak orang menaruh harapan karena terobosan-terobosannya dalam proses bedah. Siapa sangka kalau Ben Carson, bocah kulit hitam yang selalu jadi bahan ledekan di kelas, kelak jadi salah satu kepala unit prestisius di universitas terkemuka, John Hopkins University.

“Aku sangat tidak suka sekolah dan tidak merasa harus menyukainya,” begitulah Ben Carson mengenang masa kecilnya. “Aku adalah anak paling bodoh di kelas. Buat apa aku perlu mempersiapkan masa depan? Anak-anak lain menertawakanku dan membuat lelucon tentangku setiap hari,” kata dia.

Tapi ibu Carson tahu bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara bagi anaknya itu untuk dapat keluar dari kemiskinan dan cemooh. Dia dengan tegas mendidik anak-anaknya. Diantaranya hanya mengizinkan Carson dan saudaranya menonton televisi dua program per minggu. Sang ibu juga mengharuskan anak-anaknya membaca dua buku per Minggu dan membuat laporan tertulis tentang yang mereka baca. Dr Carson masih ingat, bagaimana ia berubah oleh aturan yang dibuat ibunya tersebut. “Aku duduk di kelas lima ketika itu dan tidak pernah menamatkan membaca satu buku pun,” namun dengan dorongan dari ibunya, Ben Carson kemudian menjadi pembaca yang getol.

Setelah kelas lima itu, kelak Ben Carson tidak hanya unggul di sekolahnya, tetapi menjadi terdepan di bidang ilmu syaraf, sebagai kepala unit Pediatric Neurosurgery pada Johns Hopkins University. Carson dikenal sebagai pencetus terobosan pada prosedur bedah, dokter yang membawa harapan dan memungkinan sesuatu yang mustahil jadi kenyataan dengan gembira. Dia juga dikenal sebagai dokter yang penuh rasa kemanusiaan dan rajin keluar dari ‘tembok’ organisasi untuk menjangkau kehidupan anak-anak di kota-kota.

Pesannya kepada orang tua dan anak-anak benar-benar inspiratif. Pada sebuah wawancara di tahun 1997 dengan PBS, ia berbicara tentang bagaimana mengatasi rintangan dan bagaimana membuat dunia tempat kita hidup jadi lebih baik:

“Sebagai orang yang bergelut di bidang ilmu saraf, Aku memahami dan menyadari betapa besar arti dan kemampuan otak manusia. Otak dapat memproses dua juta bit informasi per detik. Ia membuat kita mengingat semua yang pernah kita lihat, semua yang kita pernah dengar, dan dengan otak seperti ini, kita benar-benar tidak boleh terlalu banyak bicara tentang apa yang tidak mungkin kita lakukan; kita harus terus mencoba menciptakan atmosfir yang membantu orang muda untuk menyadari bahwa apapun yang mereka bisa mimpikan, dapat mereka capai. “

Dr Carson telah menulis sebuah buku tentang hidupnya, Gifted Hands: A True Story of Healing and Inspiration.  Masih sulit membayangkan, ketika Carson memulai perjalanan hidupnya itu, ia berada dalam kubangan kemiskinan, memiliki emosi patologis, miskin harga diri dan nilai sekolah yang buruk. Sekarang orang yang sama telah diprofilkan di acara 20/20 ABC News, terdaftar di Who’s Who di Amerika, dan menerima American Black Achievement Award.

Calon Presiden  Advent pertama di Amerika.

Jumlah calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik terus bertambah. Pakar bedah saraf ternama Amerika, Dr Ben Carson, mendeklarasikan rencana pencapresannya.

“Saya ingin menjadi bagian dari kesetaraan, dan karena itu, saya mengumumkan pencalonan saya sebagai Presiden Amerika,” kata Carson ketika diwawancarai WPEC TV, Minggu (3/5/2015) waktu setempat.

Carson dijadwalkan resmi mendeklarasikan pencalonannya di kampung halamannya, Detroit, Senin pagi waktu setempat. Pencapresan dokter berumur 63 tahun itu akan menjadikannya sebagai capres keempat Partai Republik setelah tiga senator, yaitu Ted Cruz, Rand Paul, dan Marco Rubio.

Munculnya sosok yang merupakan dokter pertama di Amerika yang berhasil memisahkan kembar siam di bagian kepala itu di kancah politik cukup mengejutkan. Carson sama sekali tidak memiliki pengalaman politik ataupun pernah memegang jabatan politik. Dia bahkan menyebut dirinya sendiri bukanlah politisi.

Dokter di John Hopkins Univesity itu mulai dikenal publik sejak komentar pedasnya mengenai pelayanan kesehatan Obamacare di depan Presiden Barack Obama tahun 2012 ketika menghadiri acara sarapan nasional bersama Obama. Ia disukai kalangan gerakan konservatif Tea Party dan kaum evangelical. Nama Carson kemudian mulai melesat terutama ketika dia merilis sejumlah buku yang menjadikannya salah satu penulis konservatif yang populer.


Sosok yang jika terpilih akan menjadi presiden Afro-Amerika kedua dalam sejarah Amerika ini berpotensi menjadi kuda hitam. Analis politik menilai rakyat Amerika muak dengan para politisi dari kalangan dalam Washington dan melihat sosok Carson sebagai sosok baru yang tidak tersentuh kotornya politik.

Salah satu hal yang paling berpotensi mengganjal ambisi Carson adalah sejarah bahwa hanya sekali terjadi sosok non politisi atau jenderal memenangkan nominasi capres yaitu di tahun 1940 ketika pengusaha Wendell Winkie menjadi capres Partai Republik. Selain itu sejumlah kontroversi juga sering keluar dari mulut lulusan Yale University itu, misalnya saat dia menyatakan menjadi gay merupakan pilihan. Carson menggunakan analogi orang yang keluar dari penjara dan berubah menjadi gay.

Walaupun hasil survei rata-rata menunjukkan Carson hanya berada di posisi ke 8 dari 14 kandidat dengan raihan 4,8 persen suara, dia berpotensi menggebrak jika mampu meraih suara signifikan di pemilihan pendahuluan di Iowa yang memiliki demografi pemilih yang lebih cenderung konservatif dan evangelical.  Survei rata-rata di Iowa menunjukkan Carson di posisi ke-6 dengan 7,3 persen, hanya terpaut sekitar 5-10 persen dari Gubernur Wisconsin Scott Walker dan mantan Gubernur Florida Jeb Bush yang berada di urutan pertama dan kedua.

Cerita Untuk Anak
BAIT
P

enulis cerpen Amerika terkemuka, O. Henry, menulis sebuah kisah Natal tersohor.  Kisah itu adalah tentang sepasang suami istri yang saling mencintai.  Natal sudah dekat.  Mereka ingin saling memberikan hadiah.  Namun, mereka sangat miskin  dan tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah.  Maka, mereka masing-masing tanpa saling memberi tahu pasangannya, memutuskan untuk menjual miliknya yang paling berharga.  Bagi sang istri, harta miliknya yang paling berharga adalah rambutnya yang panjang berkilau.  Ia pergi ke sebuah salon dan menyuruh memotong rambutnya.  Ia kemudian menjual potongan rambutnya itu untuk membeli sebuah rantai arloji yang indah untuk suaminya.  Sementara itu, sang suami pergi kepada seorang  tukang emas dan menjual satu-satunya arloji  yang dimilikinya untuk membeli dua potong sisir yang indah untuk rambut kekasihnya.

Ketika hari Natal tiba, mereka saling menyerahkan hadiah.  Mula-mula mereka menangis terharu, tetapi kemudian keduanya tertawa.  Tidak ada lagi rambut yang perlu dirapikan dengan sisir indah pembelian sang suami dan tidak ada lagi arloji yang memerlukan seutas rantai  indah pembelian sang istri.  Namun, ada sesuatu yang lebih berharga daripada sisir dan rantai arloji, yaitu pesan dibalik hadiah-hadiah itu.  Mereka masing-masing telah mengambil yang terbaik dari dirinya untuk diberikan kepada pasangannya.

Inspirasi

Untuk Direnungkan :  Jika anda harus menjual satu-satunya milik Anda yang berharga, Apakah yang akan Anda jual?  Mengapa Anda melakukannya?  Namun, benarkah itu milik anda yang paling berhaerga?  Bagaimana dengan Kristus?  Apakah dia tinggal dalam anda yang paling dalam sehingga Anda tidak mau melepaskan untuk apa pun dan siapa pun?

Untuk Dilakukan“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”  Yacobus 1 : 17

Hadiah paling mahal justru tidak bisa dibeli dengan uang dan hanya bisa kita peroleh karena anugerah dan kasih karunia semata.  Mungkin anda menyediakan hadiah termahal, terindah buat istri, suami, anak-anak, dan keluarga, tetapi ingat hadiah yang termahal adalah kehadiran Krstus Yesus dalam hati dan diberikan lewat perbuatan kita, kepedulian kita terhadap sesama.  Ketika hidup kita bersama Yesus niscaya itu menjadi berkat atau hadiah terbesar yang bisa diberikan kepada orang lain.  Kehidupan yang paling berharga yang dapat diterima orang lain yaitu perbuatan Kasih yang diamalkan bukan saja di bibir  berupa janji.  Sudahkah hidup kita dipenuhi dengan anugerah terbesar yaitu kasih Kristus?  Bagi yang merayakan natal, mari jadikanlah moment terindah ini untuk menyatakan kasih sayang yang tulus seperti kasih Yesus Kristus yang telah mati di Salib untuk menebus umat manusia. Itulah hadiah Natal yang termahal.  ***

BAIT
Kelas Kemajuan

Cerita Orang Muda Advent

TREN-TREN:

Lanjutan

8.  Etika Kebaikan vs. Kepribadian: Tom Osborne, mantan pelatih bola kaki universitas dengan Nebraska Huskers menulis sebuah buku yang berjudul On Solid Ground yang berfokus pada keputusan yang sulit yang harus dibuat oleh para pelatih (dan semua berlaku kepada pemimpin orang muda) pada saat-saat tertentu. Dia menunjukkan sebuah tren di dalam buku-buku yang telah ditulis tentang topik-topik tentang keberhasilan. Sebuah tinjauan kembali tentang buku-buku yang bernilai 200 tahun yang telah dilakukan beberapa waktu yang telah lalu. 150 tahun pertama ketika materi-materinya dicetak yang menjelaskan tentang keberhasilan di dalam hal kebaikan itu sebagai “integritas, kerendahan hati, kesetiaan, pertarakan, semangat, keadilan, kesabaran, kerajinan, kesederhanaan, kerapihan dan aturan emas.” 50 tahun belakangan ini kita melihat sebuah tren yang telah berubah dari kebaikan-kebaikan yang banyak ini kepada apa yang mungkin disebutkan sebuah etika “kepribadian”. Materi-materi telah fokus lebih banyak kepada “pandangan publik, sikap mental yang positif, atau bahwa metode-metode penipuan. Dengan kata lain, pergantiannya adalah dari masalah-masalah karakter kepada masalah-masalah kepribadian dan penampilan.” Seseorang mungkin bertanya-tanya bagaimana pergeresan ini mungkin dapat berpengaruh pada pelayanan orang muda.

                9.  Media: Ketertarikan dengan industri media (film, video, DVD, CD, kaset, radio atau apapun lainnya yang dapat diproduksikan oleh waktu ini, ini telah dapat dibaca) adalah sebuah pengaruh kontribusi yang lain tentang orang muda jaman ini. Pengaruhnya sungguh sangat luas terasa dengan fakta bahwa pemimpin-pemimpin orang muda saat ini telah siap menggunakannya di dalam sebuah bentuknya di dalam pelayanan orang muda gantinya fakta bahwa bahkan seorang penulis surat kabar sekuler menunjukkan kepada kerajinan melalui penggunaan kata-kata materi itu oleh karena, seperti yang mereka tuliskan, mereka yang terlibat di dalam produskinya adalah—kata-kata yang digunakan untuk substansi yang sama. Banyak waktu dan uang yang telah dihabiskan oleh orang muda saat ini sehubungan dengan hal-hal ini untuk menerima pengaruh mereka. Apakah kata GIGO (garbage in-garbage out atau sampah masuk-sampah keluar) adalah tepat?

                10.  Teori vs. praktek: perkembangan dari sebuah fenomena budaya yang disebut beberapa orang “the knowing-doing gap” kelihatan semakin bertumbuh di dalam lingkaran tertentu khususnya di dalam masyarakat Barat. Sebutan yang lain untuk perkembangan baru-baru ini adalah “the cult of knowledge management”. Di dalam Industri, itu dapat terlihat di dalam bentuk dari usaha yang sungguh-sungguh dan dana yang dipakai untuk konsultan-konsultan yang memberikan nasehat mereka tentang prosedur-prosedur dan sebuah titik referensi intelektual tetapi sesungguhnya tidak pernah mengimplementasikan apapun—bahkan mereka yang menyebutkan diri mereka sebagai konsultan ahli tidak pernah dapat merealisasikan apapun yang mereka katakan kedalam bentuk yang nyata. Orang semakin lebih banyak dibayar untuk berbicara tentang hal-hal ketimbang sesungguhnya mereka melakukannya. Masing-masing orang ingin untuk membangun sebuah organisasi yang belajar dan bekerja namun tidak seorangpun yang ingin untuk belajar atau bekerja. Perusahaan-perusahaan menjadi bingung ketika sedang berbicara  dengan melakukan dan memikul perencanaan adalah sama saja dengan melakukan; memberikan presentasi adalah sama saja dengan bekerja; membuat dan mengambil satu keputusan untuk melakukan sesuatu adalah sama dengan melakukannya. Di dalam kenyataan “pencobaan yang nyata dan kesalahan hasil perencanaan dari intelektual yang mulus.” Di dalam keagamaan, kita dapat membuat aplikasi di dalam bahwa “teologi tidak dapat menjadi biografi”. Anda tahu: “Hidupkan apa yang kita katakan—memberikan bimbingan.

                10.  Teknologi yang tinggi: Suatu bidang pemikiran yang terakhir: teknologi. Ada orang-orang yang ingin supaya kita percaya bahwa teknologi adalah sebuah fenomena dari setan. Namun sangatlah tidak mungkin untuk dapat membayangkan sistem teknologi tingkat tinggi yang miliki oleh Allah. Semua teknologi yang ada di luar sana semenjak radio yang petama sampai dengan jaman internet sekarang ini, adalah, dan dapat digunakan di dalam cara-cara positif untuk memajukan tugas Injil—yang merupakan tugas kita yang terutama di atas bumi pada masa ini. Namun sebagaimana dalam kasus dari segala sesuatu yang baik, Setan dapat dan telah mengaplikasikan kegunaannya untuk memajukan pekerjaannya juga. Teknologi seharusnya ada untuk dapat memfasilitasi kehidupan manusia, bukan mengambil alih dan mengendalikan kehidupan manusia itu sendiri. Seharusnya memainkan peran yang kedua di dalam mendukung peran-peran yang utama. Itu tidak boleh menjadi sebuah akhir untuk dirinya sendiri. Namun, kelihatannya bahwa, itulah yang sedang terjadi. Alat Tuhan yang terutama untuk menjangkau kedalam hati dan pikiran kita adalah melalui tindakan penciptaan-Nya. Buku Roma pasal satu mengatakan kepada kita bahwa semua yang dapat kita pelajari tentang Allah dan tabiat-Nya adalah untuk menemukan di dalam dunia alam di sekeliling kita. Namun, terlalu lama kita memilih untuk mengabaikan bagian besar dunia yang telah Dia ciptakan untuk kita dan sekarang dengan kemajuan teknologi, kita semakin jauh mengisolasikan diri kita sendiri dari rancangan-Nya. Itu terlalu cepat mencapai titik bahwa jika seseorang tidak memiliki pengetahuan pekerjaan tentang teknologi yang tinggi; dia sedang tertinggal dan terbiarkan di sepanjang jalan bebas hambatan kehidupan. Khususnya orang-orang muda yang telah dipengaruhi oleh pendekatan baru ini kepada kehidupan dan kepada keadaan bahwa itu telah mencapai puncaknya bahwa beberapa anak tidak akan lagi menjadi tertarik bahkan dengan perkemahan musim panas sekalipun “oleh karena di sana tidak akan ada permainan komputer.” Pernyataan yang menjadi pedoman di dalam tulisan Ellen G. White seperti “jika pencari kesenangan yang sembrono akan membiarkan pikiran mereka untuk bergantung kepada kenyataan dan kebenaran, maka hati akan diisi dengan rasa hormat, dan mereka akan menghargai alam ciptaan Allah. Kontemplasi dan penyelidikan akan tabiat Allah sebagaimana yang telah dinyatakan di dalam pekerjaan-pekerjaan penciptaan-Nya akan membuka sebuah bidang pemikiran yang akan menarik pikiran dan menjauhkannya dari kesenangan-kesenangan yang rendah, merendahkan derajat dan tidak berguna.” (4T581) masih tetap tepat.

                Orang-orang muda jaman ini tentunya bukanlah sebuah kelompok yang dapat disama-ratakan. Mereka terlalu banyak, tersebar di dalam banyak negara, dengan terlalu banyak tabiat individu, visi, dan kekuatan untuk mencoba dan mengikat mereka secara bersama. Orang-orang muda jaman ini telah terlibat di dalam pelayanan seperti yang berlum pernah terjadi di dalam sejarah gereja. Orang-orang mudah mengumpulkan lebih banyak uang untuk proyek-proyek yang patut, meluangkan lebih banyak waktu di dalam pelayanan masyarakat di sudut-sudut bumi yang sulit dan sukar, menjangkau lebih banyak orang-orang muda dan orang tua, menghafal lebih banyak dari ayat-ayat Alkitab mereka, dan mereka “teguh berdiri bagaikan jarum kompas yang mengarah ke kutup” inilah yang belum pernah kita lihat sebelumnya di dalam catatan gereja. Gantinya mengenai semua kekuatan yang sedang menarik mereka masuk kedalam semua arah, masih ada orang-orang muda yang mengetahui dengan jelas dimana mereka berdiri, mereka telah melihat tuntunan tangan Allah di dalam kehidupan mereka, dan mereka mengerti misi mereka di atas bumi ini dan rindu akan hari terakhir dan kembalinya Kristus. Kita tentunya dapat menulis begitu banyak tentang cerita-cerita mereka—bila kita dapat memperoleh seseorang untuk memberikan mereka kepada kita. Sementara mereka adalah pahlawan-pahlawan yang sejati untuk Allah, mereka melihat diri mereka secara total sebagai orang-orang yang biasa saja yang hanya melakukan apa yang dijumpai secara alami—apa yang Allah harapkan dari mereka. Mereka tidak melihat bahwa cerita mereka adalah patut untuk diperhatikan dan ingin untuk membagikannya di dalam bentuk sebuah terbitan yang akan membuat mereka merasa sama dan satu bagian dari semua yang takut dan mangasihi Tuhan mereka. Bahkan cerita-cerita yang kami masukkan di dalam buku ini telah diperolah dari orang-orang yang secara inividu mau untuk membagikannya dengan kami.

                Bersambung…..

Kirimkan berita, artikel dan kesaksian anda ke redaksi BAIT melalui email redaksi@baitonline.org atau rednos74@gmail.com

Artikel
BAIT
K057  rev

Lanjutan…

(4) Pertemuan Sabtu Malam Ditengah-tengah Perjalanan Paulus

                Rasul Paulus pada waktu itu sedang mengadakan perjalanan missionarynya dengan jadwal ketat untuk berusaha tiba di Yerusalem sebelum hari Pentakosta. Jadi dia berlayar dari Pilipi sesudah hari raya roti tidak beragi, dan lima hari kemudian, ia bergabung dengan mereka di Troas, dimana mereka tinggal selama tujuh hari” (Kisah 20:6-7).

                Kemudian mereka berkumpul kembali “sesudah hari Sabat”—atau pada Sabtu malam mereka menikmati perjamuan kudus dan perjamuan kasih (Agape Feast) sekaligus sambil mendengarkan pembicaraan Paulus sampai tengah malam. Tetapi alasan mereka berkumpul sampai tengah malam ini karena pertemuan ini istimewa, besoknya Paulus akan segera meninggalkan mereka pada waktu menjelang pagi hari (Kisah 20:7, 8).

                Jadi sesudah pertemuan ini besoknya Paulus berjalan 20 mil jauhnya ke Assos, dan bertemu dengan teman-temannya yang sedang menunggunya karena mereka telah mendahuluinya dengan jalan laut. Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka  melalui Samos dan Trogyllium dan akhirnya tiba di Miletus pada hari Rabu atau Kamis. Disana Paulus mengundang tua-tua jemaat di Epesus untuk mengadakan pertemuan khusus dengan dia dan memberikan kesaksian yang sangat menyentuh hati nurani mereka (Kisah 20:14-38).

                Dengan memahami konteks ini, kita melihat bahwa walaupun Paulus berada dalam jadwal perjalanan yang ketat, tidak pernah dicatat bahwa ia mengadakan perjalanan pada hari Sabat, tetapi sesuai kebiasaannya ia menggunakan waktu itu bersama teman-temannya untuk berbakti dalam gereja. Waktu berikutnya yaitu pada malam “hari pertama dalam minggu…ia bermaksud hendak berangkat pada keesokan harinya” (Kisah 20:7), ia mengadakan pertemuan sampai jauh malam. Sama dengan di Miletus ia pula mengadakan pertemuan khusus dengan tua-tua jemaat dari Epesus, walaupun hal itu terjadi ditengah minggu pada hari Rabu atau Kamis.

                Alasan dari kedua pertemuan ini menjadi sangat penting karena nampaknya Paulus memberitahukan kepada mereka bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi Kisah 20:37-38). Sepertinya ia telah tahu bahwa peristiwa-peristiwa ini sedang menuntun dia kepada kematiannya.

      Jadi, dengan demikian konteks dari peristiwa ini membuktikan bahwa rasul Paulus tetap memelihara hari Sabat walaupun ditengah kesibukan perjalanan nya. Minggu, yaitu “hari sesudah hari Sabat,” baginya merupakan hari biasa yang digunakannya untuk bepergian. Walaupun jadwal perjalanannya sangat ketat berpindah dari  satu tempat ketempat yang lain, tetapi ia tetap memelihara Sabat dan melanjutkan perjalanan pada hari pertama dalam minggu.

                Jadi, Alkitab versi New English Bible menuliskan: “Pada hari Sabtu malam, kami berkumpul untuk memecahkan roti. Paulus berbicara kepada orang banyak karena ia bermaksud untuk pergi pada keesokan harinya, ia terus berbicara sampai tengah malam.”

                Augustus Neander, seorang akhli sejarah gereja yang memelihara hari Minggu, dengan jujur mengakui bahwa Kisah 20 tidak memberikan bukti untuk pemeliharaan hari Minggu: “fatsal ini sama sekali tidak meyakinkan, oleh sebab keberangkatan rasul telah mengumpulkan sekelompok anggota gereja dalam perjamuan perpisahan, dalam kesempatan mana rasul menyampaikan amanatnya yang terakhir, walaupun tidak ada perayaan khusus dari hari Minggu dalam hal ini.5

Tentang Penyimpanan (Savings)

1 Korintus 16:2—“pada hari pertama dari tiap-tiap  minggu hendaklah kamu masing-masing sesuai dengan apa yang kamu peroleh-menyisihkan sesuatu dan menyimpannya dalam rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.”

                Ayat Alkitab ini adalah ayat satu-satunya tentang “hari pertama” dalam semua surat-surat Paulus. Ada yang percaya bahwa disini Paulus sebenarnya menyokong pemberian persembahan gereja pada hari pertama dalam minggu. Mereka gunakan ayat ini untuk menyokong pemeliharaan mereka akan hari Minggu. Contohnya, Young-Gwan Park mengatakan bahwa ayat ini membuktikan bahwa mereka memelihara hari Minggu.6    Mari kita cocokkan dengan injil apakah benar yang dikatakan oleh Young-Gwan Park tadi.

                Ayat itu hanya mengatakan agar persembahan itu disediakan “pada hari pertama dalam minggu.” Tidak disebutkan disitu tentang pemberian persembahan dari seseorang digereja pada hari Minggu. Fakta ini menjadi sangat jelas bila kita membawa dari beberapa versi terjemahan lain.

                The New American Standard Bible (NASB): “Biarlah masing-masing kamu menyisihkan dan menyimpan, sesuai berkatnya, agar tidak ada pengumpulan dilakukan ketika aku datang.”

                New International Version (NIV): ”Masing-masing kamu menyisihkan sejumlah uang yang sesuai dengan pendapatannya, simpanlah itu”

                Amplified Bible: “ Biarlah masing-masing kamu (perorangan) menyisihkankan sesuatu dan simpanlah itu.”

                Douay Version: “Pada hari pertama dalam minggu, biarlah masing-masing kamu sendirikan dirumah dan menyimpan apa saja yang ada dalam pikirannya, agar supaya pengumpulan tidak akan dibuat pada waktu aku datang.” (Dicetak oleh P.J. Kennedy & Sons, Printers to the holy Apostolic See. New York August 28 1961: Francis Cardinal Spellman).

                Dalam bahasa aslinya, Grika, kalimat “menyisihkankan” sesuatu secara huruf artinya “bersama dengan dia. ”Hal ini ditujukan  kepada sesuatu yang dibuat “dirumah.”

                Arti dari ayat ini yang asli sangat jelas. Tidak ada implikasi untuk pergi kegereja setiap hari Minggu dan memberi persembahan seperti yang dibuat orang sekarang. Perintah “menyisihkan sesuatu” tidak berkaitan dengan persembahan tetap tetapi persembahan istimewa dana kelaparan bagi gereja Yerusalem, dimana gereja-gereja orang kafir dengan murah hati menyumbangkannya (Roma 15:25-27; Kisah 24:17).

                Menagapa ia katakan untuk menyisihkan sesuatu pada hari pertama dari minggu? Karena proyek ini telah dimulaikan sejak “setahun yang lalu” (2 Korintus 8:10). Pikiran Paulus pada mulanya seperti ini  “Sebab aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya” (2 Korintus 9:5), dan alasannya ialah gantinya meminta mereka memberikan persembahan bersama-sama satu kali, barangkali itu membebankan mereka; jadi ia berusaha mendorong mereka memberi dengan limpahnya dan bersungguh-sungguh dengan cara menyisihkan sesuatu disamping persembahan tetap, dari pendapatan mereka dan menyimpannya dirumah.

                Kita dapat mengerti disini latar belakang Kristen dimasa itu yang memelihara Sabat biasanya mengatur pendapatan mingguan mereka pada hari pertama sesudah hari Sabat.Juga dalam Komentar Alkitab yang disusun oleh pendeta-pendeta Episcopal dan dicetak oleh Cambridge University menunjukkan bahwa tidak ada bukti dari orang-orang Kristen pada waktu itu memelihara hari pertama dalam minggu. Jelas sekali bahwa arti dari ayat itu ialah bahwa mereka harus menyisihkan bantuan mereka didalam rumah mereka agar itu siap dikumpulkan apabila telah diperlukan. 8 

                Kita telah coba meneliti dengan cermat semua ayat dalam Perjanjian Baru tentang “Hari Tuhan,” namun tidak satupun yang memerintahkan penyucian hari Minggu sebagai peringatan akan kebangkitan , dan tidak ada pula bukti bahwa penyucian hari pertama telah dipraktekkan dalam gereja rasul-rasul. Fakta ini mengajak Father T. Enright, Presiden dari Redemptionist College, menawarkan kepada publik: “Siapa saja yang dapat membuktikan dalam Alkitab bahwa hari Minggu adalah hari penebusan yang berkuasa yang kita harus peliharakan, saya akan berikan kepada mereka seribu dollar.”

                Setelah menelusuri semua bukti-bukti, nampak sekarang bahwa pemimpin agama siapapun yang mengajar anggota-anggotanya untuk memelihara hari Minggu sebagai hari Suci sebenarnya sedang mengajar mereka untuk tunduk kepada tradisi manusia bukan perintah Allah.                            Bersambung …..

palakat berita

KKR “Jalan Serta Yesus Selalu Sejahtera” Jemaat Diponegoro Surabaya

Jemaat Diponegoro Surabaya mengadakan KKR pada tanggal 12-17 Desember 2016, KKR ini bertemakan “Jalan Serta Yesus Selalu Sejahtera” mengambil tempat di Griya Jagir Jl. Jagir Sidomukti Lebar 6 Surabaya. 

Dari malam ke malam pembicara KKR adalah Gembala Jemaat Pdt. Dale Sompotan dan Seminar Kesehatan dibawakan oleh Nikolaus Masrikat, S.Ked.

Diakhir dari pada KKR Puji Tuhan ada 2 jiwa yang dibaptiskan yaitu Marcel Aditya Saputra dan Veronika Aprilia Angel di Villa Angfanik Sumber Wekas oleh Pdt. Dale Sompotan. Tolong doakan 2 jiwa ini tetap berjalan bersama Yesus dalam kehidupan mereka sampai maranatha.

Perkumpulan Tumou Tou Pertemuan Minahasa Utara Perdana di Pelita Klabat Airmadidi

Setelah sebelumnya mengadakan pertemuan sabat di Tumaluntung kecamatan Kauditan, sabat tanggal 24 Desember 2016 ini, Perkumpulan Tumou Tou Minut mengadakan kebaktian sabat di Ruko Pelita Klabat di Airmadidi, Minahasa Utara.

Lebih 30 orang hadir pada pertemuan sabat itu di mana sebelumnya direncanakan akan dihadiri oleh pdt. Djunaidi Muntu, Direktur Pemuda UKIKT, namun kemudian ada perubahan di mana kemudian khotbah sabat siang dibawakan oleh Ellen Neman Tumbal, mantan kepala asrama SLA Tompaso II yang kini menjadi dosen di Universitas Klabat, Airmadidi.

Diskusi sekolah sabat dibawakan oleh H. Neman, mantan kepala sekolah SMA Advent Klabat yang tidak lain adalah suami dari pembicara.

Pertemuan sabat itu sehubungan pula dengan perayaan hari ibu sehingga acara kebaktian sabat itu semua dibawakan oleh wanita. Acara sekolah sabat dipimpin oleh twin Juwita dan  Jelita Najoan dan dan di acara khotbah pembicara di damping oleh Lin Neman dan Juwita Najoan.

Sabat pagi itu pimpinan acara memberikan apresiasi pula kepada para ibu dengan memberikan kembang sebagai ucapan terima kasih telah menjadi ibu yang baik bagi anak-anak yang Tuhan telah berikan.

Pada acara khotbah sabat siang itu, pembicara menyinggung mengenai srikandi-srikandi perkasa dalam Alkitab yang mana justru sebagai wanita mereka terlihat lebih kuat dibanding dengan pria.

Di akhir acara kebaktian di acara potluck, pimpinan perkumpulan menyepakati untuk ibadah sabat selanjutnya akan tetap diadakan di Pelita Klabat di mana direncanakan dimulai pad awal tahun 2016.

40 Tahun Yayasan Pioneer Manado: Johny Petsie Ratu Tegaskan Komitmen di Bidang Pendidikan

 Johny Petsie Ratu dan Grace Gahung, pendiri Yayasan Prisma Indonesia, sekaligus yang didampingi oleh Sally Supit Tigno dan putranya dokter Ruben Supit, pagi ini, Sabtu (24/12), menerima pengalungan bunga istimewa atas darma bakti mereka dalam mendirikan dan memimpin SMA Pioneer Manado.

Adapun SMA Pioneer Manado pertama kali dirintis oleh sepasang suami isteri yaitu dokter EBK Supit bersama Sally Tigno.

Dalam perjalanannya, sekolah bersama Yayasan Pioneer Manado berpindah kepemimpinan ketika Johny Petsie Ratu meneruskan legacy mulia yang dirintis oleh keluarga Supit.

Hari ini, dengan kebanggan dan kebahagiaan atas hasil kerja keras mereka, tokoh-tokoh tersebut berdiri di depan para alumni yang kini tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Johny Petsie Ratu dalam sambutan singkatnya kembali menegaskan tentang komitmen SMA Pioneer Manado.

“Tujuan SMA Pioneer yang tidak akan pernah berubah adalah “To Make Man Whole”. Tanggal 28 Desember 2016 nanti, akan juga launching Universitas Prisma, ditandai dengan kuliah umum oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, dengan tema Bela Negara di bidang pendidikan. Ini merupakan komitmen kami di dalam dunia pendidikan,” tegas Johny Petsie Ratu.

Johny Petsie Ratu yang didampingi oleh isteri tercinta Grace Gahung terlihat sangat gembira dengan kalungan bunga istimewa yang cerah.

Adapun Sally Tigno yang didampingi oleh putranya, dokter Ruben Supit, terlihat bahagia dari guratan wajah meski telah berusia lanjut. Senyum yang mengembang, jelas menggambarkan kebagahiaannya. (Rayapos)

4 peb 2010
KAMI  

catatan

Rahab adalah nama wanita di perjanjian lama – Josua 2,  yang hidup dijaman orang Israel  ketika hendak memasuki tanah Kanaan.   Secara kelahiran Rahab seperti kurang beruntung karena  dilahirkan bukan sebagai orang Jahudi yang menganggap dirinya istimewa.  Malah dia adalah turunan Amori  yang bermusuhan dengan orang Jahudi.   Ia menempati sebuah Rumah yang berhubungan langsung dengan tembok kota Jerikho yang kokoh.  Sepertinya Rahab adalah seorang business woman yang ulet karena rumahnya disewakan sebagai Rumah penginapan.   Lalu lalangnya banyak manusia yang datang ke Jericho memberi ruang pada Rahab bagi usahanya  yakni memberi tumpangan sekaligus ikut masuk dalam bisnis prostitusi.   Ketika itu dalam masyarakat kafir yang menyembah dewa-dewa,   prostitusi  walau dianggap dosa namun diterima oleh masyarakat umum.

Iman Rahab melalui apa yang dia dengar dan pelajari tentang bagaimana Tuhan yang tidak diketahuinya itu mengeringkan air di Laut Merah, menghancurkan Sihon dan Og dua raja terkenal orang Amori menjadi dasar yang kuat dalam kehidupannya.  Dimulai dari mendengar kemudian  melihat pimpinan tangan Tuhan kepada Orang Israel, iman Rahab bertambah dari waktu kewaktu.  Pengalamannya bersama para pengintai lebih menguatkan iman Rahab kepada Tuhan.  Hal ini merobah jalan hidupnya untuk mengutamakan Tuhan.

                Ketika terjadi penyerangan dengan cara yang ajaib ke kota Jericho, Rahab serta seisi rumahnya selamat dari bencana kehancuran.  Walau label prostitusi  tetap melekat  dan tetap terbawa di hampir umumnya nama Rahab disebut tetapi  kehidupannya telah berubah.  Setelah pendudukan orang Israel di Kanaan, Rahab tetap tinggal dengan orang Israel sampai akhir hidupnya. Kehidupan Rahab berubah Total.  Masa lalu telah berakhir bersama runtuhnya negeri Jerikho.  Masa lalu yang kotor dan kelam tidak menghalangi berkat dan sukses dari Tuhan. Hidup baru membawa kebahagiaan bagi keluarga yang baru ini.  Cerita Rahab berakhir dengan Happy Ending.   Ia berjodoh dengan Salmon yang memperanakkan Boaz, ayah Obed, ayah Isai, ayah Raja Daud.

Siapa manusia yang bersih dan tak bernoda? Berapa jauh telah kita mendukakan hati Tuhan.   Berapa besar  kekeliruan kita selama ini.  Pelanggaran seperti dosanya Rahab?  Sederhana saja, apa yang lewat itu sudah berlalu dan sekarang Tuhan menyediakan Anugerahnya  yang sangat berlimpah bagi kita.  We are the sinners saved by Grace.

Redaksi


[1] David L. Jeffrey, A Dictionary of Biblical Tradition in English Literature (Grand Rapids, Mich.:  W.B. Eerdmans, 1992), s.v. “Christmas.”

[2] Ellen G. White,The Observance of Christmas, Review and HeraId, Dec. 9, 1884, par. 1.  

[3]  David L. Jeffrey, A Dictionary of Biblical Tradition in English Literature, s.v. “Christmas,” loc.cit.

         [4] Hendrikus Berkhof, Sejarah Gereja (Kwitang, Jakarta:  Bpk Gunung Mulia, 1955-1997), hlm. 32

         [5] H. Lamer, “Mithras,” Wörterbuch der Antike, 2nd ed. (Leipzig, German:  A. Kröner, 1933). Digunakan atas ijin.  Dikutip dalam  Don F. Neufeld  Seventh-day Adventist Bible Student’s Source Book, (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association) 1962.    

         [6] J. I. Packer, Merril C. Tenney dan William White, Jr., Dunia Perjanjian Baru, diidonesiakan oleh Yohan C. Pandelaki dan Sutrisno ((Surabaya-Malang:  Yakin dan Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2000), 126. 

         [7] Franz Cumont, Astrology and Religion Among the Greeks and Romans (New York:  Dover Publications, Inc., 1960), hal. 89, 90.  Dikutip dalam  Don F. Neufeld  Seventh-day Adventist Bible Student’s Source Book, (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association) 1962.  

         [8] Walter Woodburn Hyde, Paganism to Christianity in the Roman Empire, (Philadelphia:  The University of Pennsylvania Press, 1946), hal. 249, 250. Digunakan atas ijin.  Dikutip dalam  Don F. Neufeld  Seventh-day Adventist Bible Student’s Source Book, (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association) 1962.   

[9] Ellen G. White, Review and Herald, December 9, 1884, parag. 3

[10] Ibid.

[11] Ibid.

Editorial Renungan