I  M  A  N

I M A N


Definisi iman (faith) are 1) complete trust or confidence in someone or something (kepercayaan penuh atau keyakinan dalam seseorang atau sesuatu), 2) strong belief in God or in the doctrines of a religion, based on spiritual apprehension rather than proof (keyakinan kuat dalam Allah atau dalam doktrin agama, berdasarkan pada keprihatinan rohani bukan kepada bukti). Dari sekian banyak ayat dalam kitab suci orang Kristen atau Alkitab yang sering digunakan arti atau definisi iman adalah terdapat dalam Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”


Seperti penulis Algeria, Albert Camus dalam bukunya “The Plague” ia menggunakan wabah sebagai metafora penyakit yang membawa rasa sakit dan penderitaan manusia. Ia melukiskan sebuah pemandangan seorang anak pria menderita penyakit sampar dan meninggal secara menyedihkan menimbulkan reaksi atau argumentasi dari seorang imam dan dokter bagaimana kita memperoleh jawaban yang masuk akal terhadap hal yang seakan tidak masuk akal.


Kasus Ayub dalam kisah Perjanjian Lama menghadapi situasi yang unik, penderitaannya menimbulkan pertanyaan secara universal yang tidak sebanding dengan kesalahan apapun yang seseorang lakukan. Ibarat seorang dianggap biasa kalau ditilang karena melampaui batas kecepatan, namun bila pelanggaran itu menyebabkan kematian seseorang maka solusinya berbeda.
Kita sering mendengarkan penderitaan “darah orang yang tidak berdosa” dalam Perjanjian Lama ada beberapa ayat yang merujuk pada frasa tersebut seperti dalam Yesaya 59:7 “darah orang yang tidak bersalah,” dalam Yermia 22:17 “darah orang yang tak bersalah,” dalam Yoel 3:19 “darah orang tak bersalah.” Di pihak lain Alkitab menyebutkan realitas keberdosaan dan kecurangan umat manusia, di mana dosa adalah pelanggaran hokum


Sekalipun para teologi dan para ahli Alkitab telah memperdebatkan berabad-abad lamanya, tentang hubungan alami manusia dengan dosa. Alkitab jelas menyatakan bahwa dosa telah berdampak kepada umat manusia. Hal ini menjadi tema baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam Perjanjian Lama. Akibat dosa manusia menderita dan mengalami kematian, dan upah dosa adalah kematian kekal.


Pena inspirasi mengatakan “Allah senantiasa mempunyai umat-Nya di dalam dapur api penderitaan. Adalah di dalam panasnya dapur api itu di mana kotoran-kotoran dipisahkan dari emas murni yaitu tabiat Kristen.” – Ellen White, Alfa dan Omega, jld. I, hlm. 142. Dosa adalah fakta universal kehidupan di atas bumi seperti penderitaan. Jadi semua penderitaan adalah akibat dosa, dan Allah dapat menggunakan penderitaan itu untuk mengajarkan hal-hal penting.
Alkitab mencerminkan suatu fakta keras mengenai kehidupan dalam dunia berdosa kita di mana kejahatan dan penderitaan nyata. Misalkan dalam Perjanjian Lama peristiwa Kain membunuh adiknya Habel (Kejadian 4:8), juga dalam Perjanjian Baru peristiwa Yohanes Pembaptis dibunuh (Matius 14:10-11). Dalam khotbah di atas bukit, Yesus memberikan ulasan yang kuat mengapa kita perlu bersandar kepada Allah dan tidak perlu cemas atau kuatir akan hari besok seperti dalam sebutan yang tersohor ini: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6:34.


Ayat-ayat dalam kitab-kitab Injil seperti contoh dalam Yohanes 1:12, Yohanes 3:16, Yohanes 3:18, Yohanes 3:36, Yohanes 6:35, Yohanes 7:38, Yohanes 11: 25-26, Yohanes 11:40, Yohanes 14:12, Markus 10:52, Markus 11:24, Markus 16:16, Matius 9:2, Matius 14:31, Matius 15:28, Matius 17:20, Matius 21:21, Lukas 17:6, semuanya merujuk kepada Yesus sebagai landasan iman orang Kristen.

Salam,

Frederik Wantah

BAIT
Renungan
B

enarkah bahwa Yesus adalah Allah? Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh banyak orang, bukan hanya oleh mereka yang bukan pengikut Yesus saja, atau mereka yang tidak percaya akan Yesus, tetapi ada juga orang Kristen yang meragukan Ke-Allahan dari Yesus Kristus bahkan mereka menyimpulkan bahwa Yesus bukanlah Allah.

Tentu kita, sebagai pengikut Kristus, harus benar-benar yakin bahwa Yesus bukanlah manusia biasa, tetapi Allah, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam menyembah Yesus.  Itu sebabnya kita harus membuktikan apakahYesus adalah ALLAH.

Alkitab memberikan kepada kita catatan paling lengkap tentang siapa Yesus dan tentang kehidupan serta ajaran-ajaranNya. 

MATIUS 1:20-25 mencatat tentang kelahiran Yesus.  Kehamilan Maria adalah murni atas pekerjaan roh Kudus.  Tidak ada campur tangan manusia.  Yusuf, kekasihnya, belum pernah menyentuh Maria ketika ia mengandung Yesus. Lama sebelum Yesus dilahirkan oleh Maria, Nabi Yesaya di dalam YESAYA 7:14 menubuatkan: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”

Nubuatan mengenai kelahiran Yesus oleh anak dara telah ditulis 600 tahun sebelum Ia lahir. Alkitab memberitahukan kita bahwa ibuNya adalah seorang anak dara.  Maria adalah seorang perawan ketika ia melahirkan Yesus. Bagaimana bisa seorang anak dilahirkan dari seorang perawan?  Mustahil.  Betul-betul mustahil, bukan?   Namun itu benar-benar terjadi.  Bukankah ini suatu mujizat? 

Saudara, Bukan hanya Alkitab yang mencatat tentang kelahiran Yesus yang unik dan ajaib itu, tetapi buku suci saudara-saudara kita umat Islam-pun, mencatat tentang kelahiran Yesus itu.  Dicatat dalam buku SURAH MARYAM 19:18-21, 34-35.

Jelaslah sudah, bahwa Yesus bukanlah manusia biasa.  Para ahli theologia menyebutnya sebagai ALLAH/Manusia. Yesus adalah orang yang paling unik yang pernah hidup di dunia ini.  Yesus adalah lebih dari sekedar seorang manusia yang baik. Lebih dari seorang guru yang berilmu.  Lebih dari seorang filsuf yang bermoral tinggi. Ia adalah salah satu anggota dari Trinitas.  Satu kesatuan KEALLAHAN yang terdiri atas BAPA, ANAK, dan ROHKUDUS.

Yesus sungguh unik karena, kehidupNya tidaklah berawal di Betlehem.  Sebelum Ia dilahirkan di Betlehem, Ia sudah ada. Ia telah ada dan hidup sejak zaman kekekalan. 

Mari kita simak apa yang Yesus saksikan tentang keberadaan diriNya dalam YOHANES 17:5 –  ”Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. ” Di dalam ayat ini Yesus berkata bahwa dia sudah ada sebelum dunia ada.  Ia sudah ada sejak masa purbakala, sejak masa kekekalan. Sehingga faktanya adalah: YESUS tidak pernah diciptakan – oleh siapapun. Ia tidak pernah mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir. Ia kekal selama-lamanya

Tetapi saudara mungkin berkata, ‘Tetapi Yesus lahir dari kandungan seorang perempuan sebagai manusia?”  Bagaimana menerangkan bahwa Ia tidak diciptakan? Memang benar bahwa YESUS adalah seorang Manusia. Ia dilahirkan dari seorang perempuan sama seperti orang-orang yang lain di bumi ini.  Tetapi Ia bukan makhluk ciptaan, bahkan Ia-lah Sang Pencipta. Ia mengenakan kepada DiriNya bentuk seorang manusia. 

YOHANES 1:14, melukiskan YESUS sebagai FIRMAN yang ada bersama-sama dengan ALLAH, dan adalah ALLAH.  Ayat 14 mengatakan:  ”Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Jadi dalam peristiwa ini, ALLAH menjelma. Artinya menjadi manusia, mengambil bentuk seorang manusia, melalui suatu mujizat yang disebut Inkarnasi. 

Saudara, ada empat cara manusia tercipta yaitu tanpa seorang perempuan dan tanpa seorang laki-laki (Adam), dari seorang laki-laki tanpa seorang perempuan         (Hawa), dari seorang perempuan dan seorang laki-laki (Kita), dan dari seorang perempuan tanpa seorang lak-laki (Yesus).

Karena Ia adalah ALLAH dan juga Manusia pada saat yang sama, maka Ia dapat melakukan suatu pekerjaan yang sangat istimewa, Ia menjadi Pengantara kita.  Ia berdiri di antara ALLAH dan manusia yang berdosa.  Ia bertindak sebagai Perwakilan kita di surga.  Ia juga mewakili ALLAH kepada kita.  Ia berkata:  ”Jika engkau telah melihat Aku, engkau telah melihat BAPA.”  Kita dapat mengerti dan memahami bagaimana ALLAH itu, dengan mempelajari dan melihat kehidupan YESUS KRISTUS.

Apakah Allah beranak?  TIDAK! Kata Anak Allah adalah kata kiasan dalam susunan tata bahasa Indonesia. Contohnya: Anak tangga, Anak kunci, Anak sungai, Anak baju, Anak emas, Apakah kunci beranak?  Tentu tidak.

Saudara, Yesus adalah “Anak Allah”, Ia adalah Allah sama seperti BapaNya.  Rasul Paulus mengatakan bahwa, “Ia sama dengan Allah tetapi mengambil Ia merendahkan diriNya, mengambil bentuk sebagai hamba – sama seperti manusia biasa.

PILIPI 2:6, 7: “ . . . . yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Saudara, walaupun Yesus adalah Allah, tetapi Dia mau merendahkan diriNya menjadi sebagai seorang hamba. Yesus telah menjadi seperti kita dan hidup di dunia ini.  Tetapi Ia adalah seorang yang suci, murni, bersih, tanpa cacat cela, sehingga Ia dapat menjadi penebus kita, mati di kayu salib agar kita dapat memiliki hidup yang kekal.

Saudara, kedengarannya mustahil bagi bayi kecil yang tak berdaya itu, yang lahir di kandang ternak di Betlehem, adalah Pencipta dunia ini, bukan?  Hal itu sukar sangat sukar untuk dipahami.  Nampaknya seperti mustahil. Tetapi saudara, itulah yang sesungguhnya terjadi. Mari kita buktikan apakah Yesus adalah PENCIPTA.

KOLOSE 1:16-17: 16         Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. 17         Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.

Saudara, mari sekarang kita coba analisa kuasaNya yang besar itu.  Fatsal pertama Alkitab yaitu Kitab Kejadian melukiskan kuasa itu.  YESUS hanya berfirman maka duniapun jadilah.  Ia berfirman, maka terangpun jadilah.  Ia berfirman dan tanah yang kering muncul.  Ia berfirman dan burung-burung serta binatang-binatangpun  jadilah.  Ia adalah Pencipta yang Maha Kuasa.  YESUS bukan hanya menciptakan semua itu. Ia juga memelihara dan menjaga keseimbangan dari ciptaanNya itu. 

Mungkin kita dapat mengerti YESUS dengan lebih baik lagi jika kita pelajari beberapa pengalaman hidupNya dalam cara Ia memperlakukan orang lain. YOHANES 8 menceriterakan tentang seorang wanita yang tertangkap basah sedang melakukan zinah.  Ketika itu YESUS sementara berkhotbah di depan kerumunan orang banyak di kaabah.  Tiba-tiba khotbahnya terganggu.  Sekelompok orang yang marah menyeret seorang wanita ke tengah kerumuman orang banyak.  Saya yakin wanita ini pasti menangis oleh karena ketakutan dan menahan rasa malu.  Ketika mereka tiba di depan YESUS, mereka berkata:  “Kami menangkap basah perempuan ini sementara berbuat zinah.  Musa berkata pezina harus dilontari dengan batu sampai mati.  Sekarang, Yesus, apa kataMu?”  SAUDARA, ini adalah satu pertanyaan yang penting.  Bagaimana YESUS memperlakukan seorang yang berdosa?

Alkitab mengatakan bahwa Yesus membungkukkan badanNya lalu mulai menulis sesuatu di atas tanah.  Kemudian Ia menengadah dan berkata, “Kalian boleh melontari perempuan ini dengan batu, kalau kalian tidak punya dosa.  Barangsiapa yang sempurna di antara kamu, silakan melontari perempuan ini dengan batu.”  Kemudian Ia meneruskan tulisanNya di atas tanah.  Alkitab mengatakan bahwa semua mereka datang lalu melihat apa yang dituliskan oleh YESUS.  Kita tidak tahu apa yang Yesus tuliskan disana, tetapi saya bisa bayangkan tulisan itu pasti ada kaitannya dengan dosa-dosa orang banyak itu, oleh karena satu demi satu mulai meninggalkan perempuan itu. Kerumunan orang banyak itu kemudian memperhatikan Yesus dengan rasa ingin tahu yang tinggi, apa yang akan terjadi berikutnya.  Di hadapan Yesus berdiri wanita yang melakukan dosa itu, gemetar ketakutan, ia tahu bahwa maut sudah diambang pintu.  Kemudian YESUS menatap dia dan berkata, ”Dimana para penuduhmu, adakah mereka menghukum engkau?””Tidak, Tuhan,” dia menjawab, ”Mereka semuanya telah pergi.  Tidak seorangpun menghukum aku.” Kemudian YESUS membuat suatu pernyataan yang ajaib, dicatat dalam YOHANES 8:11 – ”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Saudara, Inilah sikap YESUS terhadap orang yang berdosa.  Ia mengampuni dosa orang berdosa, Ia mengampuni dosa saudara, Ia mengampuni dosa saya.  Ia memberikan suatu kesempatan yang baru bagi kita untuk memperbaiki hidup kita, untuk tidak melakukan dosa lagi. Dan yang dapat mengampuni dosa hanyalah Allah.  Kita baca Markus 2:5-7. (5) “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”  (6) Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: (7) “mengapa orang ini berkata begitu?  Ia menghujat Allah.  Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?” Jika bukan Allah, tak mungkin Yesus dapat mengampuni dosa.

Tidak ada perasaan yang paling menyedihkan dan tak berdaya, selain berdiri di depan jasad seorang kekasih.  Bagi manusia berdosa, Kematian itu bersifat final. Kematian itu tidak dapat diubah. Kematian itu begitu kuat.  Dari sudut pandang manusia tidak ada pengharapan bagi manusia untuk menyelesaikan problema kematian.  Tetapi saudara, satu lagi kabar baik dan bahagia pada malam ini ingin saya sampaikan.  YESUS TELAH MENAKLUKKAN MAUT karena Ia telah bangkit dari antara orang mati.  Ia bukan hanya bangkit kembali dari kuburNya, tetapi Ia juga bahkan dapat membangkitkan orang-orang yang mati lainnya.  Ia dapat membuat pernyataan yang manusia biasa tidak dapat melakukannya sebagai berikut: Kita baca dalam YOHANES 11:25 – Jawab Yesus: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,”

Saudara, YESUS telah menang atas kematian.  Dan Ia-pun berjanji kepada siapa saja yang percaya kepada Dia,  KITA AKAN HIDUP WALAUPUN KITA SUDAH MATI.  Betapa suatu janji yang sangat membahagiakan.  YESUS TELAH MATI, TETAPI IA TELAH BANGKIT, DAN TETAP HIDUP HINGGA MASA INI.  Dimana Ia sekarang?

Empat puluh hari sesudah kebangkitanNya, Yesus naik ke Surga dan sekarang ini Dia berada disana. KISAH 1:9-11 : (9) “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.  (10) Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, (11) dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Saudara, Kita mempunyai Seorang perwakilan di surga yang mengerti akan situasi kita.  KasihNya kepada sebuah dunia yang memberontak tidak perlu dipertanyakan lagi.  Ia mati bagi pria dan wanita dari segala zaman, dari segala suku, dan dari segala bangsa.  Betapa beruntungnya kita karena kita mempunyai seseorang yang mewakili manusia dalam ruang takhta ALLAH. Ia mendengar doa kita, Ia memahami keadaan kita, Ia mau menjawab doa kita.

Saudara, Dari fakta-fakta tadi, apakah saudara yakin bahwa YESUS ADALAH ALLAH? Kalau saudara telah yakin bahwa YESUS ADALAH ALLAH, maka saya percaya bahwa saudara merasa LEBIH BERBAHAGIA LAGI, karena INDIVIDU yang saudara PUJA DAN SEMBAH selama ini adalah ALLAH. Kali pertama YESUS datang ke dunia ini, Ia datang sebagai seorang bayi yang tak berdaya.  Tetapi pada kali yang kedua nanti, Ia akan datang sebagai seorang raja di atas segala raja, dan memerintah dunia ini untuk selama-lamanya.  Ia layak untuk mendapatkan sembah sujud dan bakti kita.  Bawalah Dia pulang ke rumah. Bawalah Dia kemana saja saudara pergi. Buatlah Dia YANG PERTAMA, YANG TERAKHIR, DAN YANG TERBAIK DI DALAM HIDUP SAUDARA.  BAIT

Opini
BAIT
T


anggal 16 November 2016 adalah hari yang saya tunggu untuk mengetahui keputusan hukum dari Bareskrim Polri atas Ahok. Sebagai warga negara, kita sepakat untuk menghargai keputusan Polisi bahwa Ahok ditetapkan sebagai tersangka karena “Penistaan Agama.” Terlepas dari keputusan itu, saya tertarik untuk menyelidiki dualisme interpretasi para ulama dan Kiyai tentang surat Al-Maidah 51. Lembaga MUI dan Rizieq cs menegaskan bahwa Ahok melakukan penistaan, tetapi beberapa ulama dan kyai seperti Quraish Shihab, Gus Mus, Buya Syafii Maarif, Wahid Center, berdasarkan hasil penyelidikan yang dalam tentang Biblical-Linguistic dan penelitian obyektif tentang Socio-Theology mengenai Surat Al-Maidah-51, menegaskan bahwa tidak ada unsur “penistaan agama” pada pidato Ahok. Ini mengisyaratkan bahwa ayat tersebut di atas memiliki multi-interpretasi. Argumentasi obyektif dari kelompok kedua di atas menimbulkan resistensi publik. Mereka yang mendukung keputusan MUI memperkuat opini melalui gelar demonstrasi. Salah satu tuntutan irrasional dari para demonstran 4 November 2016 adalah Ahok harus segera dipenjara. Satu minggu kemudian, hasil gelar perkara dari Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka. Sebagai orang yang awam tentang hukum, kita harus membangun presuposisi positif bahwa penetapan Ahok sebagai tersangka adalah produk dari obyektivitas dan profesionalitas kerja Polri dan kita menunggu hasil akhir dari proses hukum.


Di luar obyektivitas keputusan tersebut, kita menemukan polarisasi dalam “perang” ide dan teologi, yaitu minoritas (ulama dan kiyai tersebut di atas) melawan mayoritas demonstran (FPI, MUI, politikus, penceramah, pimpinan pondok pesantren, dan para demonstran). Pertanyaannya adalah mengapa “satu Ahok” menjadi tokoh antagonis dalam pusaran kontroversi yang melibatkan jutaan orang di sosial-media dan puluhan ribu orang di jalanan pada 4 November itu? Hanya ada satu jawaban dari para konspirator anti-Ahok (termasuk Buni Yani), yaitu ia telah menista agama Islam dan Alquran. Benarkah? Faktanya, fatwa MUI telah meratifikasi kehendak mayortias. Sekarang Ahok digiring oleh lawan politik ke dalam sentimen agama. Pada poin ini secara implisit retorika para anti-Ahok menciptakan polarisasi baru dalam “perang,” yaitu Ahok (minoritas) versus sekelompok Muslim (mayoritas). Istilah “mayoritas” di sini tidak mewakili mega-mayoritas Muslim Indonesia, seperti asumsi kita atas tindakan destruktif teroris yang tidak mewakili agama atau kebenaran teologi agama secara umum.


Tulisan ini adalah evaluasi personal atas kasus Ahok dari sudut pandang socio-religious dikaitkan dengan etika moral dan sosial. Tiga fokus utama tulisan: Pertama, karakter dan gaya kepemimpinan Ahok sebagai gubernur menciptakan pertaruangan politik dan Agama. Kedua, beberapa contoh historis tentang penistaan agama tetapi tidak memiliki konsekuensi hukum. Mengapa? Ketiga, implikasi praktis dari kasus Ahok dan apa yang kita pelajari dari kasus ini.

Pertama. Pertarungan Politik dan Agama. Ahok muncul ke hadapan publik Jakarta dan Indonesia ketika terpilih menjadi wakil gubernur Jakarta mendampingi Joko Widodo (Jokowi). Duet Islam-Kristen ini dipandang sebagai simbol kemajuan pluralisme di Indonesia. Kemudian, Jokowi terpilih menjadi peresiden RI, menurut UU secara otomatis Ahok menjadi Gubernur Jakarta. Di sinilah problem dimulai. Dari sekian banyak contoh, saya berikan dua contoh kontroversial tentang Ahok sebagai gubernur: (a) Komunikasi politik dan kebijakan publik Ahok dipandang oleh segelintir orang menabrak batasan etika dan norma kesantunan dan sering ia dianggap tidak humanis. (b) Transparansi pengelolaan keuangan dan pembiayaan, tidak hanya menutup ladang bagi pencuri di Jakarta, tetapi ada yang dijebloskan ke dalam penjara. Inilah titik awal dari lawan politik Ahok untuk mencari pintu untuk menghancurkannya. Beberapa mega proyek, seperti kasus Rumah Sakit Sumber Waras, E-Budgeting APBD, UPS, reklamasi teluk Jakarta, penutupan Kali Jodoh adalah contoh-contoh kasus yang diangkat oleh lawan politik untuk menjatuhkan Ahok, tetapi ia tidak dapat dijatuhkan. Alasannya adalah ia pemimpin konsisten, jujur, terbuka, dan melayani rakyatnya. Terlepas dari kontroversi itu, hasil kerjanya membuat wajah Jakarta mulai mengalami perubahan, tetapi bagi para politisi, yang menganggap diri lebih agamis dan santun, mulai menganut etika binatang buas, “mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Mereka seperti singa yang mengaum-ngaum mencari kelemahan Ahok.


Pidato di kepuluan seribu membangkitkan sentimen agama, sekalipun ia tidak bermaksud untuk itu, tetapi inilah momentum bagi anti-Ahok menggiring “peperangan” pada arena agama. Ia dianggap menghina agama karena menggunakan surat Al-Maidah 51 dalam pidatonya. Klarifikasi dan permintaan maaf Ahok dibungkam. Sekarang “peperangan” beralih dari peperangan antara Ahok melawan para politikus (SBY, Yusril, Lulung, dan partai-partai kontra-Ahok), menjadi peperangan antara Ahok dan Habib Rizieq dan FPI (agama). Sekarang, argumentasi provokatif pemimpin agama yang didukung oleh para politikus anti-Ahok dan itu memberi pemantik kepada ribuan orang untuk berdemonstrasi di jalan pada 4 November 2016. Isu-isu rasial-pun mengemuka, Ahok ditolak menjadi pimpin Jakarta karena keyakinannya (Cina-Kristen). Sudah bisa ditebak, isu politik dibawa ke arena agama sebagai senjata ampuh untuk menghancurkan sang pendekar kebenaran, namanya Ahok.


Pada poin inilah nilai penghormatan pada pluralisme keagamaan, keyakinan, dan suku direduksi untuk memenuhi kepentingan jangka pendek para politikus. Kita dapat simpulkan, Ahok dihancurkan karena satu alasan, yaitu keyakinannya. Mereka menutup mata terhadap kualitas kerja atau kualitas moral Ahok. Pada poin ini kita menemukan sebuah gambaran paradoks, spirit toleransi yang telah lama dipelihara di negeri ini dihancurkan oleh kepentingan jangka pendek segelintir orang. Kasus Ahok menegaskan bahwa pada aspek tertentu di negeri ini, toleransi agama sering hanya sebatas retorika, karena arogansi mayoritas yang ditunggangi oleh politisi masih menjadi senjata pamungkas untuk memutuskan siapa yang salah dan benar di hadapan hukum. Ahok ditetapkan sebagai tersangka karena menghina agama. Secara eksplisit, kita dapat mengatakan status tersangka Ahok adalah produk dari obyektivitas dan profesionalitas kerja polisi, tetapi secara implisit Ahok sesungguhnya adalah korban persaingan politik tingkat tinggi. Kita hanya bisa berdoa untuk negeri kita yang “sakit.”


Berita tentang Ahok sebagai tersangka menjadi berita dunia sesudah Ahok ditetapkan sebagai tersangka tanggal 16 November 2016. Asumsi dasar yang disebutkan di atas tidak hanya dimuat oleh surat kabar dari Barat tetapi juga surat kabar negara Islam. Contoh New York Times mengatakan “Mr. Ahok who is running for re-election in February, has been a political target of radical Islamic organizations since taking office in 2014. This Islamic groups opposed to Mr. Basuki, who is an ethnic Chinese Indonesian.” Lebih lanjut koran yang sama mengatakan: “November 4 protests against Mr. Basuki were motivated more by politics than by religion.” Selain dari pada itu Associate Press dan Washington Post mengatakan bahwa stataus tersangka Ahok menjadi “hadiah” bagi politisi yang bersaing melawan Ahok pada pemilihan gubernur DKI Jakarta February 2017. Media Inggris The Guardian juga mengatakan hal yang sama. Televisi Qatar (negara Muslim), Aljazeera mengatakan bahwa Ahok hanya mengeritik lawan politiknya, bukan Alquran atau Muslim. Saya berandai-andai, jika Indonesia memiliki 100 Ahok, kemajuan negeri ini akan berjalan seperti pesawat ulang alik, tetapi pada saat yang sama banyak yang mati sebagai martir karena resistensi mayoritas terhadap kejujuran, kesetiaan, dan keyakinan dari “100 Ahok.” Tidak heran “satu Ahok” di Jakarta itu berkata, “saya berterima kasih karena polisi telah menetapkan saya sebagai tersangka.” Secara implisit ia mau menegaskan, bahwa ia ditetapkan sebagai tersangka bukan karena melanggar hukum tetapi karena tekanan publik atas keyakinan dan kejujurannya yang dimanipulasi oleh para politikus.

Kedua. Contoh Kasus Penistaan. Tindakan penghinaan atau penistaan agama atau penghinaan atas kultur sudah seumur bumi ini. Di Indonesia penistaan agama sudah sering terjadi. Tapi tidak semua penistaan itu berkahir dengan konsekuensi hukum seperti yang dialami oleh Ahok. Contoh, pernyataan Ahok dan Rizieq dalam ceramah mereka memiliki konstruksi dan ide yang sama, seperti yang terlihat pada pernyataan berikut ini (silahkan nonton you-tube dari dua pernyataan ini):

Ahok : “dibohongi pakai Al-Maidah ayat 51”

Rizieq : “dia nipu umat pakai ayat Quran/hadist”

Konsekuensi hukum dari dua orang yang membuat pernyataan ini tergantung pada subyek pelaku, bukan pada substansi isi pernyataan. Apa yang kita saksikan sekarang adalah Ahok ditetapkan sebagai tersangka karena Riziek menganggap pernyataan Ahok adalah bentuk penistaan agama. Lalu pernyataan Rizieq? Inilah perbedaannya, subyek Rizieq adalah seorang imam besar FPI, sedangkan Ahok adalah seorang “Cina-Kafir”. Contoh ini menegaskan masih adanya inkonsistensi dan faktor diskriminatif dalam menentukan keadilan di negeri ini.


Contoh lain adalah beredarnya berbagai video di you-tube yang memperlihatkan secara gamblang imam besar FPI, Habib Rizieq dan beberapa penceramah masjid menggunakan istilah “kafir” sebagai label untuk penganut agama lain. Secara etimologis istilah “kafir” dalam kamus Oxford dan Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk pada “unbeliever” atau orang yang tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan. Lalu mengapa orang Kristen, yang percaya pada Tuhan dianggap sebagai orang kafir oleh para penceramah? Ini sebuah penghinaan dan penistaan yang vulgar. Tetapi tindakan mereka tidak mendapat konsekuensi hukum, karena pelakunya berasal dari kekuatan mayoritas. Sebaliknya ucapan Ahok di Kepulauan Seribu, walaupun tidak bermaksud untuk menghina agama tertentu, dianggap sebagai penghinaan karena pelakunya adalah seorang “kafir.”


Kasus lain yang diinformasikan oleh Kapolri adalah contoh yang lain bentuk penistaan agama. Di Jawa Timur terjadi perobekan kertas Alquran. Secara eksplisit, ini adalah penistaan terhadap agama. Tetapi Habib Rizieq dan FPI tidak berteriak dan turun ke jalan. Bisa ditebak alasannya, pelakunya adalah seiman. Penghinaan agama yang sangat brutal dilakukan oleh para teroris dan mereka melakukan kejahatan atas nama agama.

Saya memberikan contoh, terorisme dalam sejarah Kristen terjadi selama 1260 tahun. Gereja melakukan pembantaian terhadap kaum Puritan dan Huguenot, atau sekelompok orang yang melawan kekuatan Gereja. Ini berlangsung dari tahun 538 sampai 1798 AD. Ini adalah bentuk penghinaan dan penistaan terhadap agama, karena atas nama kebenaran, Gereja menghancurkan kebenaran demi keuntungan politik Gereja. Jadi, contoh-contoh di atas menegaskan inkonsistensi dan subyektivitasnya fungsi penerapan hukum di Indonesia. Ahok tidak bermaksud menista agama tertentu, tetapi subyek Ahok faktor penentu, dia seorang “China-Kafir.”

Ketiga. Pelajaran Berharga. Isinkan saya memberikan analogi sebagai pembanding untuk melihat aktualisasi pengalaman tokoh Alkitab dalam dunia nyata, seperti yang dialami oleh Ahok. Dikisahkan dalam Daniel pasal 6, pada zaman kerajaan Medo-Persia, Daniel diangkat menjadi salah satu dari tiga pejabat tinggi. Hal itu membangkitkan kecemburuan, karena Daniel bukan orang Medo-Persia, ia seorang buangan Israel dan menyembah Allah yang berbeda dengan orang Medo-Persia, tetapi ia diangkat menjadi salah satu dari tiga pejabat tinggi. Ada dua alasan pengangkatan Daniel menjadi pejabat tinggi. Pertama, ia mempunyai pengalaman professional sebagai pemimpin di bawah kekuasaan Nebukandenzar (Dan. 2). Kedua, Daniel “mempunyai roh yang luar biasa” (6: 4a). Tetapi ia seorang buangan, atas dasar itulah, para pejabat tinggi dan wakil raja “mencari alasan dakwaan terhadap Daniel, tetapi mereka tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kesalahan padanya” (6:5). Pernyataan ini menegaskan bahwa Daniel adalah contoh klasik seorang pemimpin politik yang jujur dan setia pada Allahnya dan pekerjaannya. Teks mengatakan “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allah” (6:6). Atas konspirasi tingkat tinggi para pejabat tinggi kerajaan, raja mengeluarkan keputusan “barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaian permohonan kepada salah satu derwa kecuali kepada tuanku, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa” (6:8). Daniel dijatuhkan melalui apa yang ia percaya. Daniel menjawab tantangan ini dengan: “tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” (6:11). Ini adalah tuntutan maksimum Daniel yang membuatnya “mempunyai roh yang luar biasa.” Daniel dalam cerita ini sangat sedikit berbicara, tetapi imannya yang hidup dan intensitas komunikasi dengan Allah membuat ia dikenal dan Allah menghargainya. Faktanya, Allah turun tangan dan berjalan bersama Daniel dalam gua singa (ay. 22).
Konsistensi iman dan keteguhan Daniel menghadapi konspirasi politik adalah contoh sempurna bagi realitas Kristen modern. Daniel memiliki hikmat dan integritas untuk menjawab semua tantangan, termasuk tantangan politik. Saya mau mengatakan bahwa Ahok adalah contoh Daniel modern. Konsistensi dan kejujuran Ahok adalah refleksi dari kesetiaannya kepada Allah dan Alkitab. Keteguhan, kejujuran, keterbukaan Ahok menampar wajah Kekristenan kita pada zaman modern, di mana iman kita hanya bermain pada level teori dan retorika doktrin dan seremonial tetapi melupakan aspek pragmatis dan kualitas hubungan dengan Tuhan. Tantangan utama bagi eksistensi kekristenan akhir zaman adalah apa yang kita yakini, dan kepada siapa kita menyembah, serta pada hari apa kita berbakti. Menghadapi tangan tersebut kualitas hubungan dengan Allah adalah faktor penentu. Apa yang kita butuhkan adalah memiliki “roh yang luar biasa” seperti Daniel. Ini adalah satu-satunya modus untuk memperoleh kebijaksanaan, dan integritas moral dalam menghadapi berbagai tekanan hidup. Sering energi kita dikerahkan memikirkan ketidakadilan dan penindasan seperti yang dihadapi oleh Ahok. Daniel telah memberikan contoh reaksi positif menghadapi berbagai tekanan hidup, ia “diam” dan “berdoa.” Bagaimana dengan kita? . ***

BAIT
Artikel

S P I R I T U A L I S M E  — 34

Kemenangan Akhir

P

elayanan para malaikat kudus, sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab, adalah suatu kebenaran yang paling menghiburkan bagi setiap pengikut Kristus. Tetapi pengajaran Alkitab tentang hal ini telah dikaburkan dan diselewengkan oleh kesalahan-kesalahan teologia populer. Doktrin kebakaan atau kekekalan alamiah, yang dipinjam pertama kali dari falsafah kekafiran, dan di dalam kegelapan kemurtadan besar dimasukkan ke dalam kepercayaan Kristen, telah mendesak kebenaran, yang diajarkan dengan jelas di dalam Alkitab bahwa “orang yang mati tidak tahu apa-apa.” (Pengkh. 9:5). Orang banyak telah mempercayai bahwa roh-roh orang matilah “roh-roh yang melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan.” (Iber. 1:14). Dan ini bertentangan dengan kesaksian Alkitab mengenai kebenaran malaikat-malaikat surgawi dan hubungannya dengan sejarah manusia, sebelum kematian terjadi pada manusia.

      Doktrin mengenai kesadaran manusia dalam kematian, terutama dipercayai bahwa roh-roh orang mati kembali untuk melayani orang-orang yang masih hidup, telah menyediakan jalan kepada Spiritisme modern. Jikalau orang mati diterima di hadirat Allah dan malaikat-malaikat kudus, dan berhak mempunyai pengetahuan melebihi apa yang mereka miliki sebelumnya, mengapa mereka tidak kembali saja ke bumi untuk menerangi dan mengajar orang-orang yang masih hidup? Jika roh-roh orang mati mendatangi teman-teman mereka di dunia ini, sebagaimana diajarkan oleh ahli-ahli teologia populer, mengapa mereka tidak diizinkan berkomunikasi dengan mereka, mengamarkan mereka terhadap kejahatan, atau menghiburkan mereka yang berduka? Bagaimanakah mereka yang percaya mengenai adanya kesadaran di dalam kematian menolak apa yang datang kepada mereka sebagai terang ilahi yang dikomunikasikan oleh roh-roh yang dimuliakan? Inilah suatu saluran yang dianggap suci, melalui mana Setan bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya. Malaikat-malaikat yang telah jatuh yang melakukan tawaran atau bujukan tampak sebagai jurukabar-jurukabar dari dunia roh. Sementara mengaku membawa orang-orang yang masih hidup berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah mati, raja kejahatan itu melakukan pengaruh sihirnya ke dalam pikiran mereka.

      Ia mempunyai kuasa menampilkan di hadapan orang-orang rupa sahabat-sahabat mereka yang telah meninggal. Pemalsuan itu begitu sempurna; wajahnya, kata-katanya, nada suaranya ditunjukkan dengan sangat tepat. Banyak yang terhibur dengan keyakinan bahwa kekasih-kekasih mereka sedang menikmati kebahagiaan Surga, dan tanpa kecurigaan akan adanya bahaya, mereka memberi perhatian kepada “roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” (1 Tim. 4:1).

      Pada waktu mereka telah yakin bahwa orang-orang mati kembali untuk berkomunikasi dengan mereka, Setan membuat seolah-olah orang yang telah menampakkan diri itu adalah mereka yang masuk ke dalam kubur tanpa bersedia. Mereka mengatakan bahwa mereka berbahagia di Surga, bahkan menduduki tempat yang tinggi di sana. Dengan demikian kesalahan telah diajarkan secara luas, dan bahwa tidak ada perbedaan antara orang benar dan orang fasik. Para pengunjung yang pura-pura datang dari dunia roh-roh sering mengucapkan kata-kata amaran yang terbukti benar. Kemudian, sementara keyakinan telah diperoleh, mereka mengemukakan ajaran-ajaran yang secara langsung melemahkan kepercayaan kepada Alkitab. Dengan menunjukkan mempunyai perhatian yang mendalam mengenai kesejahteraan teman-temannya di dunia ini, mereka menyindir atau menuduh secara tidak langsung kesalahan-kesalahan yang paling berbahaya. Fakta bahwa mereka mengatakan beberapa kebenaran, dan sanggup kadang-kadang meramalkan peristiwa-peristiwa yang akan datang, menyebabkan pernyataan-pernyataan mereka tampaknya dapat dipercaya. Dengan demikian ajaran-ajaran mereka yang palsu diterima oleh masyarakat luas dengan seketika itu juga, dan dipercayai secara mutlak, seolah-oleh itu adalah kebenaran Alkitab yang paling suci. Hukum Allah dikesampingkan, Roh anugerah ditolak, dan darah perjanjian dianggap perkara yang tidak suci. Roh-roh itu menolak keilahian Kristus dan bahkan menempatkan Pencipta setaraf dengan mereka. Dengan demikian, dengan penyamarannya yang baru, pemberontak besar itu masih terus melancarkan peperangannya melawan Allah, yang dimulai di Surga dan dilanjutkan di dunia ini selama hampir enam ribu tahun.

      Banyak orang yang berusaha menerangkan manifestasi kerohanian itu dengan menganggap semua ini adalah semata-mata penipuan dan kecepatan tangan atau sulapan para perantaranya atau dukunnya. Tetapi memang benar, bahwa sementara hasil dari sulapan-sulapan itu sering dipalsukan sebagai manifestasi asli, di sana juga ada pertunjukan-pertunjukan nyata kuasa adikodrati atau supernatural.  Ketukan misterius yang menjadi permulaan Spiritisme modern bukanlah hasil tipuan atau kelicikan manusia, tetapi adalah pekerjaan langsung malaikat-malaikat jahat, yang dengan demikian memperkenalkan suatu cara penipuan yang paling berhasil untuk membinasakan jiwa-jiwa.  Banyak orang yang terjerat melalui kepercayaan bahwa Spiritualisme adalah semata-mata tipuan manusia. Bilamana mereka dihadapkan kepada suatu manifestasi yang dianggap sebagai adikodrati, mereka akan tertipu dan akan dituntun menerimanya sebagai kuasa besar Allah.

      Orang-orang ini mengabaikan kesaksian Alkitab mengenai mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Setan dan agen-agennya. Adalah dengan pertolongan Setan para ahli sihir Firaun memalsukan pekerjaan Allah. Rasul Paulus menyaksikan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, akan ada manifestasi kuasa Setan yang seperti itu. Kedatangan Tuhan akan didahului oleh “pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa.” (2 Tes. 2:9,10). Dan Rasul Yohanes, dalam menerangkan kuasa yang mengerjakan mujizat yang akan muncul pada akhir zaman, mengatakan, “Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang. Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya.” (Wah. 13:13,14). Tidak diramalkan adanya penipuan semata-mata di sini. Manusia ditipu oleh tanda-tanda mujizat yang agen-agen Setan berkuasa melakukannya; bukan berpura-pura mereka melakukannya.

      Raja kegelapan, yang sudah begitu lama mengerahkan segenap kemampuan pikirannya kepada pekerjaan penipuan, dengan cekatan menyesuaikan pencobaan-pencobaannya kepada manusia dari segala golongan dan keadaan. Kepada orang-orang terpelajar dan yang berperangai halus ia memperkenalkan Spiritualisme itu dalam aspek-aspeknya yang lebih halus dan intelek, dengan demikian berhasil menarik banyak orang kepada jeratnya. Hikmat yang diberikan oleh Spiritualisme adalah hikmat seperti yang dijelaskan oleh Rasul Yakobus, “Itu bukanlah hikmat yang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.” (Yak. 3:15). Namun hal ini disembunyikan oleh penipu besar itu, bilamana tindakan menyembunyikan ini sesuai benar dengan maksud tujuannya.  Ia yang dapat tampak berpakaian dengan cahaya serafim surgawi di hadapan Kristus di padang belantara pencobaan, datang kepada manusia dengan cara yang paling menarik, sebagai malaikat terang. Ia menarik perhatian dengan menyampaikan tema-tema pembicaraan yang meningkatkan pikiran. Ia menggembirakan angan-angan dengan pemandangan-pemandangan yang mempesona. Dan ia berhasil memperoleh kasih sayang melalui uraiannya yang fasih mengenai kasih dan kemurahan hati. Ia membangkitkan angan-angan hati  kepada keangkuhan, menuntun manusia untuk sangat membanggakan hikmat mereka, sehingga di dalam hati mereka membenci Yang Kekal itu. Makhluk luar biasa itu, yang sanggup membawa Penebus dunia ke atas gunung yang sangat tinggi, dan yang memperlihatkan di hadapan-Nya semua kerajaan dunia dengan kemuliaan mereka, akan menyatakan pencobaan-pencobaannya kepada manusia sedemikan rupa untuk menyesatkan pancaindera semua orang yang tidak dilindungi oleh kuasa ilahi.

Bersambung ……

Inspirational Story
BAIT

 

P

amela  adalah ibu tiga anak dan baru saja menyelesaikan kuliah.  Kelas terakhir yang harus dia ambil adalah Sosiologi.  Sang dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang dia harapkan dimiliki setiap orang.

Tugas terakhir yang diberikan ke para mahasiswanya diberi nama “Smiling”.  Seluruh mahasiswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi  mereka.  Setelah itu setiap mahasiswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.  Pamela adalah orang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang.  Jadi, dia pikir tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tersebut, dia bergegas menemui suaminya dan anak bungsunya yang menunggu di taman halaman kampus untuk pergi ke restoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus.  Pagi itu udara sangat dingin dan kering.  Sewaktu suaminya akan masuk dalam antrian, dia menyela dan meminta agar dia saja yang  menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika Pamela sedang dalam antrian, menunggu untuk  dilayani, mendadak setiap orang di sekitar mereka bergerak menyingkir.  Bahkan orang yang semula antri di belakang dia ikut menyingkir keluar antrian.

Perasaan panik menguasai dirinya ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua menyingkir.  Saat berbalik itulah dia mencium “bau badan kotor” yang cukup menyengat.  Tepat di belakang dia berdiri dua lelaki tunawisma yang sangat dekil.  Pamela bingung dan tidak mampu bergerak sama sekali.  Ketika dia menunduk, tanpa sengaja matanya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan dia.  Ia sedang “tersenyum” ke arah dia.  Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang.  Ia menatap ke arah dia seolah meminta agar dia dapat menerima “kehadirannya” di tempat itu.  Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.  Secara spontan Pamela membalas senyumnya.  Seketika dia teringat “tugas” yang diberikan oleh dosennya.  Lelaki kedua yang berdiri di belakang temannya, sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh.  Pamela segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya.  Pamela merasa sangat prihatin.  Akhirnya dalam antrian itu kini hanya tinggal dia bersama mereka.  Mereka bertiga tiba-tiba saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter bertanya kepada Pamela apa yang ingin dia pesan, Pamela mempersilahkan kedua lekali itu untuk memesan duluan.  Lelaki bermata biru segera memesan, “Kopi saja, satu cangkir…Nona!”  Dari koin yang terkumpul, hanya itulah yang mampu mereka beli.  Sudah menjadi aturan di restoran di sini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, orang harus membeli sesuatu.  Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.  Tiba-tiba saja pamela diserang oleh rasa iba yang membuatnya sempat terpaku beberapa saat.  Matanya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari pengunjung lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.  Pada saat yang bersamaan, Pamela baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke dirinya, dan pasti juga melihat semua tindakannya.

Pamela baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa dia untuk ketiga kalinya, menanyakan apa yang ingin dia pesan.  Pamela tersenyum dan minta diberi dua paket makan pagi, di luar pesanannya dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, Pamela minta bantuan petugas counter itu untuk mengantarkan nampan pesanannya ke meja tempat duduk suami dan anaknya.  Sementara dia membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat.  Pamela letakkan nampan berisi makanan itu diatas meja mereka , dan meletakkan tangannya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bermata biru itu, sambil dia berucap, “Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”  Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah dia.  Kini mata itu mulai basah berkaca-kaca.  Dia hanya mampu berkata, “Terima kasih banyak, Nyonya.”

Pamela mencoba tetap menguasai dirinya.  Sambil menepuk bahunya dia berkata, “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian.  Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”  Mendengar ucapan Pamela, si mata biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelakii kedua sambil terisak-isak.  Saat itu ingin sekali Pamela merenguk kedua lelaki itu.

 Pamela sudah tidak dapat menahan tangis ketika berjalan  meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anaknya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.  Ketika dia duduk, suaminya mencoba meredakan tangisnya sambil tersenyum dan berkata, “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan keteduhan bagi diriku dan anak-anakku.”  Mereka saling berpegangan tangan beberapa saat.  Saat itu mereka benar-benar bersyukur dan menyadari bahwa hanya karena bisikan-Nya lah mereka telah mampu memanfaatkan kesempatan untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika mereka sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh bebertapa tamu lainnya, mereka satu per satu menghampiri meja mereka untuk sekadar berjabat tangan dengan mereka.  Salah satu di antaranya, seorang bapak memegangi tangan Pamela dan berucap, “  Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua disini.  Jika suatu saat diberi kesempatan oleh-Nya, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”  Pamela hanya bisa berucap, “Terima kasih,” sambil tersenyum.  Sebelum beranjak meninggalkan restoran  Pamela sempat  melihat ke arah kedua lelaki itu.  Seolah ada magnet yang menghubungkan batin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambaikan tangan mereka  ke arah kami.  Dalam perjalanan pulang Pamela merenungkan kembali apa yang telah dia lakukan kepada kedua tunawisma tadi.  Tindkan itu benar-benar tidak pernah terpikir oleh Pamela dan sekaligus merupakan hidayah bagi dia, maupun orang-orang di sekitar dia saat itu.  Pengalaman hari itu menunjukkan kepada dia betapa kasih sayang Tuhan itu sangat hangat dan indah.

Pamela kembali ke college pada hari terakhir kuliah dengan cerita di tangannya.  Pamela menyerahkan papernya kepada dosen.  Keesokan harinya sebelum memulai kuliahnya, dosennya memanggil  Pamela ke depan kelas.  Ia memandang pamela dan berkata, “Bolehkah Pamela membagikan cerita kepada yang lain?”  Dengan senang hati pamela mengiyakan.  Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas karena akan membacakan papernya.  Ia mulai membaca.  Para siswa pun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi.  Cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan cerita membuat para mahasiswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat kejadian yang sesungguhnya.  Beberapa mahasiswi yang duduk di deretan belakang di dekatnya datang memeluk dia untuk mengungkapkan perasaan haru mereka.

Pada akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang Pamela tulis di akhir papernya,  “Tersenyumlah dengan hatimu, dan kau akan mengetahui betapa dahsyat dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Inspirasi

Untuk Direnungkan :  Senyuman adalah lengkungan yang meluruskan banyak masalah.  Dengan tersenyum, dunia ikut tersenyum dengan kita.  Yang paling menakjubkan, saat kita berbagi senyum dengan orang yang susah, Tuhan pun tersenyum kepada kita.

Untuk Dilakukan“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang  akan membalas perbutannya itu.”  Amsal 19 : 17

Senyuman, meskipun murah dan melimpah, jarang dilimpahkan kepada orang yang susah.  Lakukanlah dan Anda akan merasakan kasih Allah mengalir dari atas ke bawah.  Ketika kita memberi senyum kepada orang lain disekitar kita, kita menebarkan perasaan simpati juga kepada mereka.  Berikan senyum anda kepada seseorang yang papah niscaya anda akan menerima senyuman yang sama yang terdalam.  Sudahkah kita berbagi kebaikan dengan disertai senyum kepada orang papah, miskin, melarat dan yang hina sekalipun?  Ingat, ketika berbagi kebaikan dengan tersenyum Tuhan juga tersenyum pada kita.  Mulailah hari-hari anda dengan senyuman  niscaya hidup akan lebih bahagia, damai selalu di hati dan problema itu akan sirnah.  Jangan habiskah hidup ini dengan hidup murem durja selalu, tapi tersenyumlah maka dunia ikut tersenyum.  Ingat senyum juga adalah karunia Tuhan, gunakan karunia itu untuk kemulian Tuhan.  “SMILE GOD’S LOVE YOU”

fabyo 3
Cerita Untuk Anak
BAIT

Tangan Ibu
by Arthur S. Maxwell, adapted by Karen Flower

(Diterjemahkan oleh Max Kaway)

A

max kawayda seorang ibu muda meletakkan bayi perempuan untuk tidur dalam buaian nya. Pada saat itu dia akan pergi mengunjungi tetangga untuk  sebentar saja, Saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan dia untuk waktu yang lama… pikirnya. Tetapi sementara dia dan tetangga sedang mengobrol, tiba-tiba alarm kebakaran kota berbunyi.

“Jangan khawatir,” kata tetangga. “Kemungkinan besar itu hanya kebakaran hutan,  Ada banyak  kebakaran yang terjadi  di tahun ini.. Saya yakin api tidak berada di dekat sini.”

“Tapi dengar,” kata sang ibu. “Saya pikir saya mendengar pemadam kebakaran datang di jalan ini Lihatlah!. Orang-orang berjalan menyusuri jalan-berlari menuju rumah saya!”

Tanpa berkata-kata lagi dia berlari ke jalan dan berlari di tengah-tengah  kerumunan orang banyak. Tiba-tiba ia melihat. rumahnya sendiri terbakar! Asap tebal dan api sudah masuk melalui atap.

“Bayiku!” dia menangis panik. “Bayiku!”Kerumunan orang sangat banyak  di sekitar rumahnya, tapi dia berusaha mendorong dan mendorong sampai ia tiba di depan pintu rumahnya.

Seorang petugas pemadam kebakaran menghentikannya dan berkata, “Anda tidak bisa masuk ke sana! Anda akan terbakar!”\

Tapi ibu itu berteriak, “Biarkan aku pergi! Biarkan aku pergi!” saat ia melepaskan diri dan berlari ke dalam rumahnya yang  terbakar.  Dia tahu akan kemana dia  pergi . Berlari melalui asap dan api yang tebal, ia meraih dan merangkul bayinya yang sangat berharga itu, kemudian berbalik untuk keluar. Tapi sekarang asap membuatnya sangat sulit untuk melihat dan bernapas, ia tergoyang dan jatuh, dan sudah tidak dapat keluar dari dalam rumah lagi dengan aman jika saja petugas pemadam kebakaran tidak menjemputnya dan membawanya keluar.

Orang-orang  bersorak  ketika mereka muncul! Bayi Marjorie tidak terluka sama sekali! Tapi kedua tangan  ibu yang malang ini  sudah sangat terbakar. Teman – temannya pada saat itu mengambil bayi mungil itu untuk   merawatnya sementara ambulans membawa sang ibu yang  malang ini  ke rumah sakit. Para  dokter berusaha melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan tangan ibu ini, tapi kedua tangannya tidak dapat disumbuhkan seperti semula, ia mengalami cacat seumur hidup.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Marjorie telah tumbuh besar, ia tiba-tiba melihat sesuatu yang dia tidak pernah lihat sebelumnya. Tangan ibunya begitu jelek! “Mengapa kedua tangan ibu  begitu jelek?” tanya ibunya saat mereka hanya berdua.

Air mata ibunya mengalir saat ia teringat beberapa tahun yang silam bagaimana ia merasa begitu takutnya pada saat rumah mereka terbakar dengan Marjorie yang  tertidur dan tidak menyadari bahaya pada saat itu.


“Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?” Marjorie bertanya pada saat melihat ibunya meneteskan air mata.
“Tidak, Sayang,” jawab ibunya. “Tapi ada cerita yang harus saya beritahukan kepdamu.” Kemudian Ibunya menceritakan kepada Marjorie kisah api yang membakar rumah mereka. Dia menceritakan bagaimana orang-orang berusaha untuk menahan dirinya, bagaimana pemadam kebakaran mencoba untuk menghentikannya, bagaimana dia berjuang melawan api untuk menyelamatkannya, bagaimana dia jatuh, dan bagaimana mereka diselamatkan. Lalu ia mengulurkan kedua tangannya yang telah cacat untuk dilihat oleh  Marjorie.

“Kedua tangan ibu sudah sangat jelek, bukan?,” kata Ibu dengan lembut. “Bagi saya, satu-satunya hal yang terpenting adalah untuk menyelamatkan hidupmu.”

Sekarang giliran Marjorie  menitikkan air mata. “Oh, Ibu,” serunya, “Ibu sangat mencintai saya!   Tangan ibu adalah tangan yang paling indah di seluruh dunia!”

Apakah Anda tahu ada tangan yang terluka untuk Anda? Tangan Yesus. Tentara memalu paku besar di tangan-Nya dan menggantung-Nya di kayu salib untuk mati sehingga Anda bisa pergi ke surga. Bahkan ketika Dia datang lagi, bekas paku di tangan-Nya  masih  tetap ada. Jika Anda bertanya kepada-Nya, Dia akan menunjukkan kepada Anda. Ketika Anda melihat tanda di kedua Tangan-Nya, Anda akan tahu pasti betapa Yesus mengasihi Anda!

“ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Adapted from Arthur S. Maxwell, Uncle Arthur’s Bedtime Stories . Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Assoc., 1966. Vol. 13, pp. 9-13.

BAIT
Kelas Kemajuan

Cerita Orang Muda Advent

PERGERAKAN ORANG MUDA ADVENT SAAT INI (1990 – 2000 +)

P

eriode sejarah kita mungkin akan lebih baik di bagi dalam dua bagian: sebuah ringkasan dari beberapa peristiwa kunci dan beberapa observasi dari tren/arah yang dapat dilihat sebagai hal yang relevan kepada pelayanan orang muda.

PERISTIWA-PERISTIWA:

                Sangatlah relatif mudah untuk menuliskan tentang masa lalu. Ketika kita melihat kebelakang maka kita akan secara umun berkata 20/20. Peristiwa-peristiwa utama, tren-tren yang telah membuat pengaruh, orang-orang, tanggal-tanggal; semuanya secara lumrah mudah untuk di catat. Tetapi apa yang akan dapat dilihat sebagai yang terpenting dari saat ini? Kita mungkin ingin untuk berpikir bahwa kita (mereka yang terlibat dalam penulisan ini yang telah membuat kontribusi yang utama melalui peristiwa-peristiwa penting pada tanggal-tanggal khusus dengan orang-orang yang dikenal yang telah hadir. Pada tahun 1998, Amerika Selatan mengadakan Kampore Master Guide tingkat Divisi yang pertama di Pucon, Chile, di bawah pimpinan Jose Maria da Silva; berikutnya pada tahun yang sama, Amerika Utara mengadakan Konvensi Master Guide-nya yang pertama di Los Angeles, California di bawah peimpinan Willie Oliver dan Norm Middag. Kedua peristiwa ini dan peristiwa-peristiwa serta acara-acara Master Guide lainnya telah membawa satu pendekatan baru kepada pelatihan kepemipinan yang telah mengembangkan satu keseragaman yang lebih luas dengan sasaran di dalam peran kepemimpin orang muda. Pada saat penulisan ini gereja kita telah memiliki 13 Divisi (6 dari mereka memiliki lebih dari 1,000,000 anggota dengan rasio orang muda antara 60 sampai 80 persen); kita memiliki lebih dari 100 Uni, dan lebih dari 520 lokal konfrens, mision, atau ladang. Semuanya memiliki sejarah mereka masing-masing tetapi kita hanya dapat menyampaikan mereka yang berkomunikasi dengan kami dan bahkan kemudian terbatas oleh waktu dan ruang.

                Kita telah mengadakan Kongres-kongres Orang Muda yang besar. Periode ini dibuka dengan Kongres Orang Muda Amerika Selatan yang ke-3 yang telah di adakan di Buenos Aires, Argentina. Kota ini telah dipilih oleh karena memiliki banyak tempat yang kosong di benua tersebut. Juga karena ada banyak orang Advent di kota itu, dan bila dibandingkan maka kota ini lebih baik dari pada kota-kota lainnya di Amerika Selatan; kota ini memiliki suatu masyarakat yang sekuler. Orang-orang muda datang dari delapan negara dari divisi dan berkemah di salah satu dari pusat taman di kota itu dan menggunakan waktu untuk bersaksi setiap hari di seluruh kota tersebut. Tahun 1996 menabur kongres orang muda pertama yang pernah dilakukan di Divisi Euro-Asia di Kaluga dengan 1000 delegasi yang ambil bagian dari seluruh negara bekas Uni Soviet. Pada tahun 1997 Divisi Pasifik Selatan mengakatan Kongres tingkat Divisi mereka yang pertama di Brisbane yang membuat sebuah usaha khusus untuk membawa dan menyatukan seluruh Divisi itu bersama-sama—ada rasa takut ketika seseorang mengangap semua pulau yang terlibat demikian juga dengan Australia dan New Zealand—2000 perserta yang telah hadir. Juga di bagian bawah kami mencoba sebuah “Olimpiade Jangkauan Keluar” dengan kira-kira 300 orang muda yang ikut ambil bagian yang merupakan sebuah bentuk baru dari penginjilan jangkauan keluar yang dihubungkan dengan Olimpiade Sidney tahun 2000. Pada tahun 1998 ada dua kongres besar yang telah didakan, satu di Pilipna di kampus MT. View College dengan lebih dari 10,000 delegasi yang hadir dan yang satu lagi di Dar-es-Salam, Tanzania dengan lebih dari 7000 orang yang hadir. Kemudian ada juga beberapa kegiatan yang lain seperti di Lisbon, Portugal pada tahun 1999 dengan 4000 peserta yang hadir dengan tema “Two Thousand Resons to Believe”; dan 7000 delegasi yang menghadiri Kongres di Chile dekat dengan Santiago untuk Amerika Selatan pada tahun 2001 dimana konsep baru “Super Mision” diperkenalkan; acara  “all-Europe” di Wralaw, Polandia pada tahun 2004 dengan 3000 delegasi dari kedua Divisi di seluruh wilayah Eropa. Ide Super Misi adalah sebuah proyek melayanan masyarakat yang didasarkan atas ide yang telah disebar luaskan hampir kesemua kongres di dalam tahun-tahun terakhir. Jumlah delegasi kelihatan hanya dapat di atur oleh ukuran fasilitas yang dugunakan—mengadakan sebuah pertemuan dan itu akan menumpuk. Kursus Sertifikasi Kepemimpinan yang disponsori oleh Gerenal Conference telah di adakan pada tingkat divisi di dalam tiga divisi. Amerika Utara telah mengadakan Konvensi Kepemimpin Orang Muda se-Divisi setiap dua tahun. Hampir semua mega acara ini meliputi jumlah besar dari jangkauan keluar kepada masyarakat dan proyek pengembangan yang diadakan secara bersamaan kepada program-program yang umum. Orang-oprang muda tidak berkumpul hanya untuk persahabatan, inspirasi spiritual, dan rededikasi saja, tetapi mereka datang bersama untuk bekerja. Setiap acara memampukan orang muda kita untuk keluar dari pola pikir sempit yang negatif dan menyadari bahwa bukan mereka sendiri yang terlibat, orang-orang lain juga memiliki rintangan-rintangan yang sama, dan orang-orang lain juga telah menemukan cara-cara hidup dan saling membagi iman mereka. Daftar peristiwa-peristiwa ini dapat menjadi semakin panjang dan kita bahkan tidak dapat melibatkan ratusan orang muda yang tidak berhubungan langsung dengan konvension, kongres, dan perkemahan-perkemahan yang telah dilakukan pada tingkat Uni, tingkat Nasional, dan ladang-ladang setempat. Bagaimana semua ini dapat kita perhitungkan ketika sejarah sudah cukup jauh untuk dapat dilihat kembali tanpa pandangan mata yang seimbang? Apa pengaruh dari peristiwa-peristiwa ini di dalam kehidupan dari orang-orang muda kita sekarang ini? Perubahan-perubahan gaya hidup dan dedikasi yang telah terjadi? Di dalam 10 atau 20 tahun, dimana orang-orang muda ini akan berada?

                Pada tahun 1994 Divisi Afrika Timur mengadakan Kampore Se-Divisinya yang pertama dengan kehadiran 7000 perserta dekat dengan Air Terjun Victoria, Zambia; perserta yang terjauh yang telah hadir adalah dari Papua New Guinea. Kampore ini telah diadakan selama masa yang tersulit di negara Afrika—pemusnahan suatu bangsa yang terjadi di sana pada saat itu sangatlah kuat dan kata-kata dari kunjungan Presiden Zambia sangatlah penting: “Kamu adalah saksi yang hidup sehingga di dalam perbedaan terletak kekuatan dan keseimbangan.” Tema yang telah dipilih dengan sangat hati-hati oleh Direktur Orang Muda Divisi, Baraka Muganda adalah “Kita Adalah Keluarga.” (Tahun berikutnya, Elder Muganda akan membawa konsep tersebut kepada perannya yang baru sebagai Direktur Orang Muda Sedunia.) Keadaan politik yang mengelilingi kempore ini juga telah mempengaruhi gereja dan orang mudanya. Tetapi sampai kapan? Ketua Mision di Burundi berkata, “setengah dari anggota gereja di negara kami sekarang adalah Pathfinder—oleh karena semua generasi yang tua telah habis.”

                Kami mengadakan Kampore Pan-African yang pertama yang pernah dilakukan, di Nairobi pada tahun 2003 di bawah bimbingan dari Eugene Fransch dan Jean Pierre Mulumba. Kampore Amerika Utara yang dipimpin oleh Ron Whitehead dan James Black di Oshkosh, Wisconsin, sesunggunya menjadi acara sedunia yang menarik lebih dari 30,000 perserta dari hampir 100 negara. Pada bulan Januari tahun 2005, Amerika Selatan mengadakan Kamporenya yang terbesar sampai dengan saat itu (dan acara yang terbesar di luar Amerika Utara) yang diadakan di Sta. Helena, Brazil dengan jumlah peserta sebanyak 22,000 orang di bawah bimbingan dari Direktur Orang Muda Divisi, Erton Kohler dan timnya. Dengan mempertimbangkan bahwa mereka memiliki lebih dari 165,000 Pathfinder di seluruh Divisi, maka mereka harus menempatkan sebuah batasan yang tegas dalam sebuah usaha untuk membatasi jumlah yang dapat ditampung oleh fasilitas lokasi. Sebuah modifikasi acara pada kampore ini adalah acara baptisan yang terjadi setiap hari sebagai bagian dari program umum pada pagi dan petang hari. Sejumlah Divisi sekarang mengadakan Kampore bertahap Internasional setiap tiga sampai lima tahun; (Divisi Afrika Barat yang baru merayakan acara mereka yang besar di Lome, Togo, tahun 2004, di bawah pimpinan dari kepemimpinan yang ketiga dari Pendeta Nlo Nlo dan dengan dukungan penuh dari pemerintah—sebuah negara yang sampai sekarang jumlah keanggotaan gerejanya hanya mungkin mencapai selusin orang.) Uni-uni mengadakan kampore dengan jumlah peserta mencapai 1,000 orang atau lebih; konfrens-konfrens juga mengadakan kampore dengan kehadiran mulai dari ratusan orang sampai beberapa ribu setiap tahun di seluruh dunia. Negara-negara dimana gereja telah memiliki kehadiran yang kuat selama satu abad, perayaan Ulang Tahun ke-50 Kampore; negara-negara yang baru mulai merayakan Ulang Tahun ke-10 Kampore mereka (seperti Romania dan Bulgaria) dan bahkan “untuk yang pertama kalinya” (seperti Latvia dan Sahel Union) juga dirayakan pada tahun-tahun ini.

(USHUAIA, TEIRRA DEL FUEGO, ARGENTINA)

Pathfinder sekarang dapat ditemukan mulai dari Hamerfest, Norwegia sampai ke Ushuaia, Argentina; dari Kepualauan St. Helena di Atlantik Selatan sampai dengan Atols yang kecil dari Pasifik Selatan’ dari beberapa gereja di Hong Kong, Cina sampai dengan ratusan gereja di Sao Paulo, Brazil.

(ST. HELENA ISLAND, ATLANTIK SELATAN)

                Rapat General Conference yang di adakan sekali dalam lima tahun bukan satu-satunya yang menjadi perkumpulan raksasa dari kepemimpinan gereja dan delegasi-delegasi yang telah dipilih dari seluruh dunia, orang muda telah “menguasai” acara ini dengan kegiatan-kegiatan yang “Berpengaruh” yang membawa penghuni jalan-jalan kota berfokus pada konvension tersebut. “Pengaruh” itu dimulai dengan Rapat yang telah di adakan di Utrecht, Holland pada tahun 1995, dan dibawa terus sampai ke Toronto, Kanada pada tahun 2000 dan St. Louis, AS pada tahun 2005. Beberapa ratus orang muda telah mengongkosi perjalanan mereka sendiri untuk hadir dan membanjiri kota itu dengan semua jenis proyek-proyek khusus seperti, melakukan kegiatan membersihkan kota, berkotbah di jalan-jalan, pantun mimik dan boneka, bimbingan musik, kesehatan, cafe, drama, menjangkau gelandangan, F.L.A.G. (Fun Learning About God) perkemahan-perkemahan dan Sekolah Alkitab Liburan, kunjungan ke rumah-rumah jompo, penjara dan banyak lagi. Sementara pengaruh setempat dari acara ini adalah melayani masyarakat agar mereka dapat mengenal gereja kita dengan cara yang unik, dan itu juga berfungsi sebagai pusat pelatihan bagi orang muda untuk meniru kegiatan-kegiatan ini ketika mereka pulang kerumah.

                Pada rapat musim Semi General Conference pada tahun 1997, sebuah dokumen yang disebut “Orang Muda Dalam Misi” disahkan sebagai sebuah pembaharuan visi dari Pelayanan Orang Muda untuk gereja. Darinyalah (dokumen)keluar slogan “Salvation and Service” (Keselamatan dan Pelayanan) yang telah mempengaruhi seluruh kegiatan seluruh departemen semenjak saat itu. Itu adalah sebuah slogan yang sesungguhnya membawa kita jauh kembali kebelakang kepada fokus utama dari kelompok kecil pertama di Michigan pada tahun 1879. Itu jugalah yang telah menuntun kita kepada program tahunan seluruh dunia yang berfokus pada setiap aspek penginjilan dan pengembangan spiritual orang muda melalui paket program multi media seperti “Hati, Tangan, dan Pikiran—Orang Muda Dalam Misi”. Selanjutnya dengan mengikuti mandat dari dokumen tersebut, kita berkumpul sebagai Pemimpin-pemimpin Orang Muda dari seluruh dunia di Aguas de Lindoya, Brazil pada tahun 2001 untuk pertama kali di dalam sebuah Konvensi Pelayanan Masyarakat yang pertama yang di lakukan di bangkok, Thailand pada tahun 2003, keduanya di bawah pimpinan Baraka Muganda dan timnya. Pada tahun 2002, Departemen Orang Muda General Conference telah meluncurkan sebuah web site yang penuh dengan sumber-sumber yang tersedia demikian juga dengan toko on-line yang dapat membantu memperbaiki ketersediaan dari persediaan-persediaan di seluruh dunia. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja web site tersebut telah menerima ribuan kunjungan setiap bulan ketika orang muda dan para pemimpin menemukan sumber-sumber dan informasi yang berguna bagi mereka.

                Elder Forkenberg, ketua General Conference, telah memulai periode ini dengan kegiatan-kegiatan yang luas dengan menyatakan di dalam pidato pelatikannya di Indianapolis pada Rapat General Conference (1990) bahwa waktunya telah tiba bagi orang muda untuk memainkan peran penting mereka. Segera banyak komite administrasi melihat banyak orang muda yang telah diputuskan untuk menjadi anggota-anggota penuh komite. Elder Jan Paulsen, Ketua General Conference berikutnya yang memulai tugasnya pada tahun 1999, meneruskan dan memperluas tema itu dengan memperkenalkan pada tahun 2004 satu seri dari Siaran TV langsung yaitu “Town Hall” dan itu telah disiarkan keseluruh dunia melalui sistim siaran satelit gereja dimana diadakan dialog dengan orang-orang muda dengan judul “Lets Talk” dan pada akhir dari tahun 2004 konsep itu telah diubah kedalam sebuah forum tanya-jawab di internet dimana orang-orang muda dapat memiliki akses langsung kedalam adminsitrasi gereja.

                Saat ini, semua peristiwa ini, semua kekuatan ini kelihatan sangatlah impresif—kita menyukai hal-hal yang besar, jumlah yang besar; proses administrasi yang padat memberikan kepada kita aliran adrenalin dan kita tidak akan pernah mau untuk merendahkan usaha-usaha kita. Tetapi beberapa dekade kemudian, apa yang dapat kita lihat nanti sebagai hal yang penting dari periode waktu ini?

                Sementara masih banyak untuk dirayakan selama tahun-tahun ini, ada juga waktu untuk berkabung. Dua dari pendiri Pathfinder, Elder Skinner dan Hancock telah beristirahat. Juga, Mike Stevenson, Pemimpin Pathfinder Sedunia yang keempat; Jose Figols Direktur Pemuda Divisi Euro-Africa; dan Kare Lund, yang dikenal sebagai “Mr. Pathfinder” di Norwegia dan di seluruh Eropa Bagian Timur, semuanya telah tiada. Bersama dengan ini dan juga yang lainnya yang merupakan raksasa kita yang telah lewat, kita diingatkan kembali bahwa kita tidak perlu takut kepada masa depan kecuali kita melupakan bimbingan Allah kepada kita di masa lalu dan dan sampai saat ini. Dan, “hidup ini singkat, hidup ini tidak adil, tetapi Allah selalu baik”.

                Elder Jan Paulsen, Pemimpin Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh melakukan bagiannya selama Kongres Orang Muda di Romania yang telah menuliskan seluruh Alkitab dalam waktu hanya 28 menit. Ribuan orang menuliskan ayat-ayat hafalan mereka dan menuliskannya hanya dalam waktu 14 menit tetapi oleh karena beberapa delegasi tidak muncul jadi orang lain harus menuliskan bagian kedua sehingga melengkapi tugas itu di dalam waktu hanya 28 menit, yang pertama dan yang kedua. Berikutnya di Chile dan Brazil rekor penulisan itu telah dipecahkan untuk peristiwa yang sama.

                Bersambung…..


Artikel
BAIT
K057  rev


Rasul-Rasul dan Hari Sabat Sesudah Kebangkitan Kristus

Sekarang ini kebanyakan orang Kristen berbakti pada hari pertama dalam minggu, (Minggu), gantinya memelihara hari ketujuh, (Sabtu) sebagai Sabat Alkitab. Namun, banyak juga yang percaya dan mengajarkan bahwa Sabat yang asli adalah hari ketujuh dalam minggu (Sabtu). Tetapi sesudah Yesus bangkit pada hari pertama dalam minggu (Minggu), ada yang berkata,  Ia (Yesus)  mengumumkan bahwa hari pertama harus disucikan sebagai sabat. Itulah sebabnya mereka menyebutkan hari pertama sebagai Hari Tuhan. Sebagai contoh adalah tulisan Young–Gwan Park dalam bukunya Criticizing Cults, halaman 253.1.

                “Dalam banyak tempat di Perjanjian Baru, ditunjukkan bahwa sesudah kebangkitan Yesus Sabat telah dipelihara pada hari pertama. Dalam Yohanes 20:1, Yesus bangkit dari antara orang mati pada hari pertama dalam minggu dan berkata bahwa hari pertama harus dipelihara sebagai hari Sabat.”

                Apakah pernyataannya ini sesuai dengan Alkitab?

Kebenaran menyatakan suatu Mitos (Ceritera tentang kaki laba-laba)

                Ada banyak situasi dimana sesuatu dianggap kebenaran untuk jangka waktu yang lama yang pelahan-lahan diterima sebagai kebenaran, apalagi jika mayoritas orang memepercayainya demikian. Mari kita lihat satu contoh yang berikut ini.

Pada tahun 350 BC/SM, seorang akhli filsafat Grika, Aristoteles, menyatakan bahwa kaki laba-laba berjumlah enam. Dua ribu tahun kemudian orang masih tetap percaya bahwa laba-laba berkaki enam.

Tidak seorangpun berusaha duduk menghitung jumlah kaki laba-laba yang sebenarnya. Disamping itu, siapakah yang berani menantang Aristoteles yang ternama ini?

                Tetapi Lamarck, seorang ahli biologi dan seorang naturalis, dengan hati-hati menghitung jumlah kaki laba-laba. Ia mendapati bahwa sebenarnya jumlah kaki laba-laba adalah 8 bukan 6. Jadi kebenaran yang sudah dikhotbahkan berabad-abad lamanya telah dipatahkan oleh Lamarck yang telah menghitungnya dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.

                Jadi, untuk mengetahui apakah benar Yesus telah berkata demikian, marilah kita coba mengujinya kembali apakah kata Alkitab tentang hari Minggu  seperti apa yang telah dibuat Lamarck terhadap laba-laba.

Ayat-ayat Alkitab tentang Kebangkitan

                Beberapa orang berkata bahwa murid-murid dan gereja mula-mula, dalam merayakan Kebangkitan Kristus mereka memelihara hari pertama sebagai hari suci. Namun demikian, Alkitab mengajar dengan jelas bahwa murid-murid memelihara hari ketujuh sebagai Sabat (Kisah 13:14,42,44; 17:2-3; 18:1-4; Ibrani 4:4-8). Dalam kenyataan, hari pertama dalam minggu hanya disebutkan delapan kali dalam Perjanjian Baru, dan enam diantaranya menyebutkan peristiwa yang sama.

                Matius 28:1 – “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.”

                Markus 16:1 – “Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria Ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi kekubur dan meminyaki Yesus.”

                Markus 16:9 – “Setelah Yesus bangkit pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.”

                Lukas 24:1 – “Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi kekubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.”

                Yohanes 20:1 – “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.”

                Kelima ayat ini menguji kepada kebenaran sejarah bahwa Yesus telah dibangkitkan dari antara orang mati pada hari pertama dalam minggu. Tidak satupun dari ayat itu yang menganjurkan berbakti pada hari itu, ini membuktikan bahwa mereka yang berjalan dekat dengan Yesus tidak pernah berpikir hari Minggu sebagai hari untuk berbakti. “Mereka berhenti pada hari Sabat sesuai dengan Hukum Taurat” (Lukas 23:56), mereka datang pada hari pertama untuk merempahi dan meminyaki keatas tubuh Tuhan. Perhatikan bahwa hal itu terjadi pada hari pertama sesudah hari Sabat mereka datang untuk menengok mayat Yesus. Nampak sekali bahwa pengikut Yesus ini adalah pemelihara Sabat.

                Buku Yohanes adalah terakhir dari keempat Injil yang telah dituliskan. Itu telah ditulis sekitar tahun 90 TM beberapa tahun sesudah kebangkitan. Namun dalam buku Yohanes, hari Sabat masih disebutkan sebagai hari Sabat dan hari Minggu masih tetap sebagai “hari sesudah Sabat.” Walaupun hingga pada akhir abad pertama, tidak adal indikasi bahwa murid-murid memperingati hari kebangkitan sebagai hari suci. Mari kita telusuri ketiga ayat terakhir.

                Yohanes 20:9 – “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus disuatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri ditengah-tengah mereka dan berkata: damai sejahtera bagi kamu.”

                Yang disebutkan sebagai “malam “ disini dalam bahasa Grika ialah “opsios,” yang bermakna “yang baru-baru ini,” entahkan ini dimaksudkan sebelum matahari terbenam atau sesudah matahari terbenam terserah kepada konteksnya. Namun demikian, dengan memikirkan ayat Alkitab diatas , kita sanggup melihat bahwa itu adalah petang sebelum matahari terbenam pada  hari kebangkitan Yesus. Pada saat ini, murid-murid tidak berkumpul untuk merayakan kebangkitan-Nya, mereka berkumpul karena “takut akan orang-orang Yahudi.” Jadi ayat ini tidak ada hubungan dengan pemeliharaan hari Minggu sebagai hari suci.

                Ia menampakkan diri-Nya kepada murid-murid-Nya hanya untuk meyakinkan mereka bahwa Ia benar-benar telah bangkit dari kubur kepada kemenangan. Sekarang kita merayakan kebangkitan Kristus melalui upacara pembaptisan (Roma 6:1-11). Namun demikian tidak ada perintah untuk menyucikan hari kebangkitan Yesus atau hari Minggu.     

Pertemuan Malam

       Kisah 20:7 – “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memeca-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara disitu, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.”

       Ayat ini adalah satu-satunya catatan dalam Perjanjian Baru tentang pertemuan agama yang dilakukan pada hari pertama dalam minggu. Young-Gwan Park menyatakan bahwa hal ini adalah bukti dari pertemuan tetap tentang pemeliharaan hari Minggu pada waktu itu: “Orang-orang  Kristen yang hidup di Tesalonika bertemu bersama-sama untuk berbakti pada hari pertama dalam minggu, dan Paulus bersaksi kepada mereka. Hal ini menjadi bukti yang kuat bahwa inilah pertemuan perayaan yang tetap dari perjamuan Tuhan.”1

(1)  Praktek Paulus memelihara Sabat

       Lukas, yang dikenal sebagai penulis sejarah yang akurat, menulis dalam buku Kisah Para Rasul, yang mencatat sekitar 30 tahun sejarah dari gereja rasul-rasul sesudah kebangkitan sampai tahun 63 Masehi. Dari buku Kisah , jelas sekali bahwa Paulus memelihara Sabat lebih dari 76 kali ketika ia mengajar di Sinagog setiap Sabat sementara ia tinggal di Korintus selama satu setengah tahun (Kisah 18:4,11). Pada sisi lain, hanya satu kali dalam buku Kisah yang mencatat tentang hari pertama, hari Minggu. Lukas menulis tentang kebiasaan Yesus berbakti di Sinagog pada hari Sabat (Luke 4:16) dan sama seperti Paulus juga, ia pergi ke Sinagog pada hari Sabat “sebagaimana biasanya” (Kisah 17:2). Pada hari sesudah sabat mereka berkumpul pada malam hari sebelum Paulus bertolak pada keesokan paginya. Pertemuan itu adalah kombinasi dari Perjamuan kudus dan perpisahan dengan Paulus.

(2) Lukas menggunakan kalender Yahudi

Sangatlah jelas bahwa hari Sabat sudah berlalu, karena Kisah 20:7 mencatatkan bahwa hal itu terjadi “pada hari pertama dalam minggu” ketika Paulus dan teman-temannya datang keTroas untuk memecah-mecahkan roti. Ayat ini tidak menyatakan waktu yang tepat pertemuan ini dimulaikan tapi hanya memberitahukan bahwa mereka berkumpul sampai tengah malam. Kalau begitu, malam hari apakah pertemuan ini diadakan? Kita perlu mempelajari konteks sejarahnya demi memahami ayat ini karena tulisan ini tidak terlalu jelas. Sesuai dengan system perhitungan waktu orang Yahudi, hari Sabat dimulai pada saat matahari terbenam pada hari Jumat dan berlangsung sampai matahari terbenam pada hari Sabtu (Imamat 23:32; bandingkan Kejadian 1:5), dan hari pertama dimulai pada waktu masuk matahari pada hari Sabtu sampai masuk matahari hari Minggu. Namun demikian, metode perhitungan waktu dari orang Roma dimulai dan ditutup pada saat tengah malam. Dengan perhitungan ini, Sabat dimulai pada tengah malam hari Jumat sampai tengah malam hari Sabtu, dan hari pertama dimulai pada tengah malam hari Sabtu sampai tengah malam hari Minggu.

                Walaupun demikian, Young-Gwan Park berkata bahwa malam sesudah hari Sabat adalah hari Minggu malam, karena ia berkata bahwa Lukas mengikuti metode perhitungan waktu orang-orang Roma.2  Tetapi kita lihat bahwa kesimpulan ini keliru oleh sebab Lukas selalu menggunakan ungkapan “dan Sabat hampir mulai” (Lukas 23:54) yang ditujukan kepada waktu ketika mayat Yesus diturunkan dari kayu salib dan dimasukkan kedalam kubur, yaitu pada sore hari menjelang matahari masuk. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Lukas menggunakan metode penghitungan waktu orang Yahudi walaupun ia sendiri adalah orang kafir.

                Dalam Kisah 2:15, metode Yahudi dalam penghitungan waktu juga digunakan, seperti ungkapan ini “jam ketiga dinihari” dalam waktu modern adalah jam 9 pagi.3 Itulah sebabnya tidak ada bukti terhadap pendapat bahwa Lukas mengikuti cara orang Romawi dalam menghitung waktu. Alkitab versi New English Bible menerjemahkan Kisah 20:7 dengan “Sabtu malam,” karena konteksnya mengharuskan demikian. Tetapi kalaupun perkumpulan itu berlangsung pada hari Minggu malam, hal ini tidak dapat dibuktikan sebagai bukti tentang pemeliharaan hari Minggu sebagai

hari kebaktian.

(3) Praktek “memecah-mecahkan roti” setiap hari

Kita juga dapat memastikan dari buku Kisah bahwa “memecah-mecahkan roti” tidak selamanya menyatakan sebagai acara perjamuan kudus seperti yang dijalankan setiap minggu. Gereja mula-mula bertekun dalam ajaran Rasul-Rasul dan dalam persekutuan, dalam memecah-mecahkan roti, dan dalam berdoa bersama-sama,” dan pada mulanya, “mereka bersatu hati setiap hari…dan memecah-mecahkan roti dari rumah kerumah, mereka makan makanan mereka dengan senang dan dengan tulus hati” (Kisah 2:46). Memecahkan roti adalah perbuatan rutin setiap hari dan tidak terikat ketat dalam acara kebaktian. Pertemuan seperti ini termasuk acara Perjamuan Kudus dan makan bersama—perjamuan kasih (Agape feast), yaitu makanan yang diambil dalam pertemuan persahabatan (1 Korintus 11:20-22.4  Kita tidak menemukan satu contohpun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa pertemuan seperti ini adalah jatuh pada hari pertama dari minggu untuk merayakan kebangkitan Yesus.

(4) Pertemuan Sabtu Malam Ditengah-tengah Perjalanan Paulus

                Rasul Paulus pada waktu itu sedang mengadakan perjalanan missionarynya dengan jadwal ketat untuk berusaha tiba di Yerusalem sebelum hari Pentakosta. Jadi dia berlayar dari Pilipi sesudah hari raya roti tidak beragi, dan lima hari kemudian, ia bergabung dengan mereka di Troas, dimana mereka tinggal selama tujuh hari” (Kisah 20:6-7).

                Kemudian mereka berkumpul kembali “sesudah hari Sabat”—atau pada Sabtu malam mereka menikmati perjamuan kudus dan perjamuan kasih (Agape Feast) sekaligus sambil mendengarkan pembicaraan Paulus sampai tengah malam. Tetapi alasan mereka berkumpul sampai tengah malam ini karena pertemuan ini istimewa, besoknya Paulus akan segera meninggalkan mereka pada waktu menjelang pagi hari (Kisah 20:7, 8).

                Jadi sesudah pertemuan ini besoknya Paulus berjalan 20 mil jauhnya ke Assos, dan bertemu dengan teman-temannya yang sedang menunggunya karena mereka telah mendahuluinya dengan jalan laut. Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka  melalui Samos dan Trogyllium dan akhirnya tiba di Miletus pada hari Rabu atau Kamis. Disana Paulus mengundang tua-tua jemaat di Epesus untuk mengadakan pertemuan khusus dengan dia dan memberikan kesaksian yang sangat menyentuh hati nurani mereka (Kisah 20:14-38).

                Dengan memahami konteks ini, kita melihat bahwa walaupun Paulus berada dalam jadwal perjalanan yang ketat, tidak pernah dicatat bahwa ia mengadakan perjalanan pada hari Sabat, tetapi sesuai kebiasaannya ia menggunakan waktu itu bersama teman-temannya untuk berbakti dalam gereja. Waktu berikutnya yaitu pada malam “hari pertama dalam minggu…ia bermaksud hendak berangkat pada keesokan harinya” (Kisah 20:7), ia mengadakan pertemuan sampai jauh malam. Sama dengan di Miletus ia pula mengadakan pertemuan khusus dengan tua-tua jemaat dari Epesus, walaupun hal itu terjadi ditengah minggu pada hari Rabu atau Kamis.

                Alasan dari kedua pertemuan ini menjadi sangat penting karena nampaknya Paulus memberitahukan kepada mereka bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi Kisah 20:37-38). Sepertinya ia telah tahu bahwa peristiwa-peristiwa ini sedang menuntun dia kepada kematiannya.

 Jadi, dengan demikian konteks dari peristiwa ini membuktikan bahwa rasul Paulus tetap memelihara hari Sabat walaupun ditengah kesibukan perjalanan nya. Minggu, yaitu “hari sesudah hari Sabat,” baginya merupakan hari biasa yang digunakannya untuk bepergian. Walaupun jadwal perjalanannya sangat ketat berpindah dari  satu tempat ketempat yang lain, tetapi ia tetap memelihara Sabat dan melanjutkan perjalanan pada hari pertama dalam minggu.

                Jadi, Alkitab versi New English Bible menuliskan: “Pada hari Sabtu malam, kami berkumpul untuk memecahkan roti. Paulus berbicara kepada orang banyak karena ia bermaksud untuk pergi pada keesokan harinya, ia terus berbicara sampai tengah malam.”

                Augustus Neander, seorang akhli sejarah gereja yang memelihara hari Minggu, dengan jujur mengakui bahwa Kisah 20 tidak memberikan bukti untuk pemeliharaan hari Minggu: “fatsal ini sama sekali tidak meyakinkan, oleh sebab keberangkatan rasul telah mengumpulkan sekelompok anggota gereja dalam perjamuan perpisahan, dalam kesempatan mana rasul menyampaikan amanatnya yang terakhir, walaupun tidak ada perayaan khusus dari hari Minggu dalam hal ini.5 . *****

palakat berita

KKR Prisma Ministry Indonesia di Palopo,  109 Orang Dibaptis

Rally KKR Prisma Ministry Indonesia terus berlanjut. Setelah pada minggu sebelumnya telah dibaptis secara keseluruhan 121 orang di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Daerah BMG, sabat 19 November pada KKR dengan tema yang sama “Tamasya Bersama Yesus” kembali diadakan baptisan yang tidak sedikit yaitu telah dibaptis 109 orang.

KKR Tamasya Bersama Yesus yang diselenggarakan oleh Prisma Minstry Indonesia bekerja sama dengan Daerah Misi Luwut Tanah Toraja ini diadakan di Hotel Horas dan Aula Convention Center Saodenrae kota Palopo mulai tanggal 13 sampai 19 November 2016..

Walikota Palopo H. Yudas Amir membawakan sambutan sekaligus membuka KKR Pesta Imam Tamasya Bersama Yesus, yang diadakan di Hotel Horas, selanjutnya di gedung Saodenrae Palopo.  Ev Morien Karundeng, SE, MSi menyampaikan sambutan mewakili Prisma Ministry Indonesia di malam pembukaan.

Selesai membawakan sambutan, walikota Palopo berfoto dengan team Prisma Ministry Indonesia bersama panitia dan para pendeta.

Dari malam ke malam KKR yang selalu dimeriahkan dengan lagu-lagu pujian dihadiri pula oleh seorang gembala Pantekosta yaitu pdt. Ferry, SP, STh. Yang juga membawakan lagu pujian di penutupan Kebaktian Kebangunan Rohani.

Puji Tuhan di akhir KKR telah dibaptiskan 109 orang di kolam renang di sebuah hotel di Palopo. Kita doakan mereka yang baru dibaptiskan ini akan tetap setia sampai hari Maranatha.

UMM Mengisi Week End Dengan Pelayanan di Tampusu

Pada hari Minggu, tanggal 30 Oktober 2016, Mahasiswa Universitas Klabat (Unklab), Airmadidi, yang tergabung dalam kelompok pelayanan kesehatan Unklab  Medical Ministry (UMM) mengadakan pelayanan kesehatan di Desa Tampusu, Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa.  Tim UMM  dibantu oleh tim Medical Missionary dari Yayasan Eden Way Indonesia. 

Setelah pengurus  UMM  melalui Romel Tumandang, berkoordinasi dengan Gembala Jemaat  yang  bertugas di GMAHK Jemaat Tampusu, yakni Pdt. Andrew Momongan, pelayanan ini diadakan. Adapun anggota jemaat  yang  berada di desaTampusu, menyambut pelayanan ini dengan sangat antusias serta berpartisipasi dalam pelayanan ini.

Setelah berkoordinasi dengan Hukum Tua (Kepala Desa) di  desa Tampusu, pelayanan diadakan dan disepakati akan dibuat di Balai Desa Tampusu.  Pada hari Minggu pagi, Hukum Tua mengunjungi gereja-gereja  yang beribadah hari Minggu untuk mengumumkan dan mengundang anggotanya untuk mengikuti pelayanan yang dibuat oleh gereja Advent. Setelah selesai ibadah, masyarakat kemudian dating mengikuti pelayanan ini. Pelayanan diadakan sampai sore hari, dan sekitar 50 orang masyarakat dating mengikuti pelayanan ini. Mereka mendapatkan pelayanan pemeriksaan kesehatan, konsultasi kesehatan dan kerohanian, didoakan,  dan terapi pijat.

Di Betlehem Inikah Yesus Lahir ?

Gereja Tua Berdinding Kayu Bekas Yang Sudah Lapuk

Kelurahan Airmadidi Atas dan kelurahan Airmadidi Bawah adalah dua kelurahan dengan jumlah gereja Advent yang cukup fantastis. Tidak kurang 10 gereja Advent di kedua kelurahan ini. Sebagian besar gereja ini hadir karena keberadaan Universitas Klabat yang mendorong anggota gereja dari berbagai daerah mencaari tempat pemukiman di kedua kelurahan ini sehingga otomatis mendorong pertumbuhan gereja di tempat ini.

Tidak bisa disangkal, umumnya gereja Advent di kedua kelurahan ini berdiri dengan megah dengan Pioneer Chapel Unklab yang seakan menjadi symbol kemegahan tempat ibdah gereja kita di tempat itu. Namun di tengah kemegahan gereja-gereja Advent di tempat ini, ada satu gereja yang juga sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu namun tempat peribdatannya masih sangat sederhana.  Itulah jemaat Betlehem yang terletak di belakang kampus Universitas Klabat. Pemukiman keluarga mahasiswa yang tadinya bernama Sidon namun kemudian oleh Universitas Nusantara disarankan dan kemudian diganti dengan nama Bethlehem.

Bagaikan tempat kelahiran Yesus yang sangat sederhana di sebuah kandang binatang, demikianlah gambaran kesederhanaan tempat ibadah jemaat Bethlehem ini.

Dari potongan-potongan kayu sisa, dibangunlah tempat ibadah berlantai tanah ini sejak puluhan tahun lalu dan saat ini sebagian besar telah dimakan rayap sehingga sebagian besar dindingnya sudah lapuk.

“Kalo gereja lain ber AC, torang punya gereja ini ndaak perlu AC karena ada AC alam” demikian komentar salah satu tua-tua jemaat ketika menyambut tim BAIT yang berkunjung ke jemaat ini. Betaa tidak, sebagian besar bangunan ini dindingnya tidak tertutup tetapi banyak celah yang bukan saja angin bebas keluarmasuk namun ketika hujan lebat sudah pasti air hujan akan ikut masuk ke dalamnya.

Meskipun  sebagian besar anggota jemaat ini adalah keluarga mahasiswa yang adalah pendatang di tempat itu namun jemaat sementara mengusahakan pembangunan gereja yang lebih representatif. ‘Semoga saja ada saudara-saudara kita dari tempat lain yang mau membantu”, celetuk saah satu tua-tua jemaat.

“Untuk menghemat biaya dan tidak perlu belikayu, torang potong sandiri itu kayu”, kata ketua pembangunan ketika memberikan informasi perkembangan pembangunan gedung gereja yang rencananya akan dibangun.

4 peb 2010
KAMI  

catatan

A

pa saudara kenal dengan tetangga?  Umumnya kita mempunyai hubungan yang baik dengan mereka yang  tinggal di sekitar rumah.  Sebagai tetangga kita biasanya mencari tahu satu persatu penghuni  yang di samping kiri kanan rumah, dibelakang maupun yang ada diseberang jalan bagian depan.  Apa kegitan mereka atau bertugas dimana, jumlah keluarga sampai kepada nama anak-anak.  Bilamana tinggal di pedesaan sudah lumrah kita mengenal hampir seluruh penghuni desa apalagi kalau sudah lama bermukim disitu.

Atau mungkin saja kita tidak mempunyai tetangga karena hidup di apartement perkotaan yang individualistis.  Namun pun demikian, sudah pasti kita mempunyai sahabat, punya suatu lingkungan kerabat, mempunyai “circle” sendiri yang terdiri dari orang-orang disekitar kita yang menjadi dunia kita. Bisa saja hubungan itu terbentuk karena kesamaan tempat kerja, kesamaan hobby, kepercayaan / keyakinan atau karena struktur. Sebab tidak bisa manusia hidup sendirian, no man as an island, hanya pulau yang boleh berdiri sendiri di tengah laut, manusia adalah mahluk social. Tetangga maupun sahabat adalah sangat penting. Dalam kenyataan bahwa adalah lebih banyak support didapat dari tetangga dan sahabat dari pada keluarga sendiri yang berada jauh dari kita.  Sebagai orang Advent, apakah  yang  dilihat para tetangga dan sahabat dari kehidupan kita?

“Perilaku orang Advent  itu baik, ramah dan menarik” yang membuat mereka ingin mengetahui lebih dalam. Selanjutnya mereka menggaris bawahi hubungan persahabatan yang ditandai dengan kebaikan, keterbukaan dan kejujuran yang dipunyai teman mereka yang orang Advent itulah yang membuat mereka terkesan untuk mendalami lebih lanjut tatacara kehidupan orang Advent. 

Saudaraku, tetangga,para sahabat dan orang-orang disekitar dunia kita, kita ketahui ataupun tanpa kita sadari mereka akan memperhatikan tingkahlaku serta sikap yang yang kita ambil dari saat ke saat.  Mereka akan membaca setiap gerak gerik dan tutur kata kita.  Apa yang mereka akan catat dan perhatikan?  Sudahpasti yang menarik bagi mereka bukanlah kekayaan, kedudukan, status maupun kelebihan lahiriah lainnya.Tapi yang berkesan adalah kehidupan manusia biasa yang sudah diubahkan oleh Yesus Kristus, sebagai umat yang menanti kedatanganTuhan kedua kali. Ingatlah bahwa kehidupan kita ini bagai surat terbuka yang dibaca oleh semua orang, “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang”. (2 Korintus 2:2)  ***

Redaksi

Editorial Opini