Masa Depan Orang Muda Ditentukan Didikan Masa Kini

Masa Depan Orang Muda Ditentukan Didikan Masa Kini

B o h o n g  !  !  !

O

rang berbohong banyak kita temukan disekitar kita.  Mungkin juga bukan siapa-siapa yang suka berbohong tetapi diri kita sendiri.  Suka berbohong kepada orang lain maupun membohongi diri sendiri.

Anda pasti maklumlah demi sopan santun atau karena tuntutan norma yang ada, orang sering mengatakan sebaliknya bukan apa adanya. Misalnya, tamu mengatakan masakan yang dihidangkan oleh tuan rumah enak sekali padahal sebetulnya rasanya tidak karuan.  Sering yang disampaikan itu hanya sekedar basa-basi  karena mungkin saja ekspresi itu hanya bagian dari suatu kultur yang tidak mau mengecewakan orang lain.  Atau datang dari suatu kebiasaan baik bahwa kalau menyampaikan pendapat harus dilihat dari sisi positip dan memperhitungkan hal kesopanan.  Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau diwaktu selesai makan lalu sang tamu mengatakan bahwa sajian yang baru disantap itu rasanya tidak enak.   Kalau sampai kata-kata itu yang disampaikan maka orang itu akan dianggap menyalahi tatakrama pergaulan dan yang diucapkannya itu adalah kurang pantas.

Tidaklah mudah untuk mengetahui seseorang berbohong atau tidak karena ada banyak cara dalam berbohong baik secara verbal maupun nonverbal.  Namun kebohongan bisa terungkap melalui ekspresi wajah, gerak tangan atau tubuh dan nada suara.  Ketika berbohong, seseorang umumnya mengangkat bahu, mengedip-ngedipkan kelopak matanya, dahinya banyak berkerut, bibirnya banyak bergerak ke bawah, sering menggeleng-gelengkan kepala, atau meringis sesaat sebelum menjawab pertanyaan.  Selain tanda-tanda non verbal yang sudah disebutkan di atas, bila berbohong orang sering dengan cepat menunjukkan ekpresi muak, jijik, benci, atau malah kegirangan berlebihan untuk meyakinkan orang yang dibohongi.

Disini diperlukan “wisdom” untuk menarik batas tegas antara basa-basi, sopan santun serta norma dengan kebohongan.  Berbohong kecil-kecilan akan menuntun kepada penipuan.  Mengatakan suatu logam sebagai emas padahal adalah loyang jelas merupakan suatu penipuan.  “Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. (Ayub 42:7)

.

Berkata benar menunjukkan kepada apa yang ada didalam yaitu di hulu jiwa, yakni hati Manusia.  Dari hati yang tulus akan mengalir air yang jernih, bening, sejuk  dan segar. Ketika pada suatu keadaan tertentu dalam kondisi yang sangat sulit untuk menyatakan kebenaran, mintalah hikmat Tuhan sehingga dapat tetap berkata benar tanpa dusta namun dapat memberikan solusi yang baik tanpa menimbulkan masalah yang baru.

Keberadaan Majalah Bait adalah untuk menyatakan dan menjunjung tinggi hal yang benar  agar seluruh pembaca bersedia menerima kebenaran Tuhan yang bersumber dari mata air Firman Tuhan.  Selamat menikmati  majalah Bait edisi minggu ini.

Salam dari kami,

Redaksi BAIT

.

BAIT
Renungan

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.“ Amsal 22:6

“Masa depan masyarakat ditentukan oleh orang muda dan anak-anak sekarang ini, dan bagaimana keadaan orang muda dan anak-anak ini kelak tergantung pada rumah tangga.” Membina Keluarga Sehat Hal. 318

P

residen Soekarno dalam sebuah kesempatan pernah berujar : “Berikan kepadaku 10 orang muda maka aku akan memimpin mereka menggonjang dunia.” Luar biasa visi dan misi yang disampaikan oleh Soekarno, pandangannya benar, orang muda memiliki kekuatan yang luar biasa apabila dimaksimalkan untuk melakukan sesuatu. Tetapi muncul kemudian pertanyaan orang muda jenis apa atau orang muda yang bagaimana yang bisa menguncang dunia, apakah orang muda yang kecanduan obat – obat terhalang jenis narkotika, shabu-shabu, extasi, termasuk juga dalam kategori ini, atau orang muda yang bagaimana ? Sudah tentu orang muda yang baik dan benar yang sanggup melakukan perkara-perkara besar dalam hidupnya.

Untuk mendapatkan orang – orang muda yang berjati diri, berintegritas, setia tentunya sangat sukar, orang orang muda seperti itu tidak akan nampak begitu saja, diperlukan perjuangan, dan pemolesan yang matang dan itu semua dimulai dari rumah tangga oleh orang tua, ibu dan ayah. Didikan orang tua ketika masih kanak-kanak akan sangat mempengaruhi siapa orang muda itu dikemudian hari, itulah sebabnya Raja Soleman berujar dalam Amsal 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.“ Didikan yang diberikan orang tua dirumah akan sangat menentukan masa depan dari orang muda tersebut. Jati diri dan integritas orang muda dimulai dari didikan dirumah, keberhasilan seorang muda akan banyak ditentukan dari didikan orang tuanya, walaupun tidak dapat dipungkiri ada juga orang muda yang tanpa didikan orang tua bisa mencapai kesuksesan tetapi itu hanya segelintir saja.

Lebih jauh dari pada itu, mengapa pendidikan dirumah itu sangat penting, mengingat rumah tangga adalah embrio terkecil dari sebuah masyarakat atau populasi, sehingga apabila dari embrio-embrio kecil ini keluar sesuatu yang baik maka masyarakat secara umumpun akan tampak baik. Demikian pulalah halnya Gereja kita, masa depan gereja terletak ditangan orang orang muda masa kini, apabila mereka saat ini sudah tidak/belum/jarang berada digereja maka jangan kita berharap banyak mereka akan ada didalam gereja ketika mereka tua, masa depan gereja terancam, tapi sebaliknya masa depan gereja cemerlang apabila orang orang muda dididik untuk rajin ke gereja, setia dan mengutamakan Tuhan dalam segala hal sejak kanak-kanaknya. Ellen G White menulis dalam Buku  Membina Keluarga Sehat Hal. 318 bahwa “Masa depan masyarakat ditentukan oleh orang muda dan anak-anak sekarang ini, dan bagaimana keadaan orang muda dan anak-anak ini kelak tergantung pada rumah tangga.”.

Jadi intinya sekarang orang muda menentukan masa depan, masa depan di segala bidang ada ditangan dan dipundak orang muda, baik masa depan masyarakat, bangsa negara dan terlebih khusus Gereja kita. Gereja akan maju dan berhasil dimasa yang akan datang apabila diisi dengan orang orang muda yang setia kepada Tuhan pada masa kini, orang muda yang punya integritas dan jati diri kristiani yang kokoh.

Kesetiaan orang muda kepada Tuhan akan sangat dipengaruhi bagaimana dia didik di embrio terkecil dari masyarakat itu sendiri yaitu keluarga, apabila sejak kanak-kanak dia menerima didikan yang baik dari Alkitab yang dibawakan oleh Ibu dan Ayah yang setia kepada Tuhan, maka anak itupun secara perlahan tapi pasti akan menyerap didikan itu yang akhirnya didikan itu akan menyatu dengan dia dan menjadi berkat bagi dia dikemudian hari. Keluarga memegang peranan penting menentukan masa depan orang muda, orang muda memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan Gereja, lebih luas lagi menentukan masyarakat bangsa dan negara, sebab itu hai orang tua, didiklah orang muda menurut jalan Tuhan sejak saat ini.  BAIT


Opini
BAIT
B

eberapa tahun yang lalu, Brit Hume, jurnalis televisi dan komentator politik, membuat komentar televisi tentang bintang golf nomor satu dunia waktu itu saat ia sedang dilanda badai.  Tiger Wood sedang berikhtiar menyelamatkan rumah tangganya yang terancam bubar karena Elin Nordegren minta cerai akibat skandal suami selingkuh.  “Tiger Woods sedang mempertimbangkan untuk masuk Kristen,” begitu kata Hume.  “Kabarnya ia beragama Buddha, saya pikir agamanya tidak menawarkan keampunan dan penebusan seperti yang diberikan agama Kristen.”

        Karuan saja hujan cercaan menimpa Hume, si managing director Fox News Channel akibat ucapannya yang dipandang outrageous.  Dari segala penjuru:  wartawan, pengamat sosial, akademisi, ulama, negawaran, atlit, dan masyarakat umum.  Di media cetak, radio, televisi, obrolan elektronik, universitas, dan pertemuan terbuka.

        Tapi tudingan dan cemooh tidak urung juga dilontarkan terhadap orang-orang Kristen.  Bahwa Hume mengintimidasi Woods untuk bertobat masuk Kristen.  Bahwa Kristen sudah terpuruk dan coba-coba memperbaiki citra dengan jalan menjelekkan agama lain.  Kapan orang-orang Kristen berhenti menari-nari di ladang orang.

        Gereja-gereja dituduh suka melakukan apa yang disebut proselytizing.  To proselytize berarti to induce someone to convert to one’s religion, mempengaruhi orang lain untuk pindah agama.  Di alam liberal Amerika, istilah ini punya bad connotation, konotasi jelek.  Mempengaruhi orang lain untuk pindah agama menunjukkan bahwa seseorang berpendapat agamanya lebih baik dari agama orang lain, dan menyatakan hal itu kepada orang lain.  Setiap orang boleh, bebas berpikir dan menganggap apa yang ia miliki – pekerjaan, rumah, istri, agama, apa saja – lebih unggul dari milik orang, tapi tidak boleh dengan sengaja mengekspresikan itu dalam bentuk apapun kepada orang lain.  Itu tidak pantas, politically incorrect.  Begitu undang-undang tidak tertulis di masyarakat yang majemuk dan liberal di AS.

        Ross Douthat kontributor New York Times menilai bahwa demokrasi liberal menawarkan hak hidup kepada penganut agama manapun, kebebasan mengamalkan keyakinan masing-masing dan bersaing secara sehat dengan penganut agama-agama lain, termasuk juga mereka yang tidak beragama.  Dan bersamaan dengan itu, kewajiban untuk tidak meng-impose atau “memberlakukan” keyakinan seseorang kepada tetangga, atau menggunakan kekuasaan negara untuk memaksakan keyakinan.

        Azas kebebasan, toleransi dan saling menghargai antar golongan keyakinan yang saling berbeda itu, penjabarannya adalah tak seorangpun boleh dianiaya atau menjadi korban akibat keyakinan agamanya, dan tak seorangpun diperkenankan mengritik atau mengecilkan agama lain secara terbuka.  Tidak boleh bilang agama-ku lebih unggul dari agama-mu, mengritik atau mengatakan satu hal apapun yang tidak baik mengenai agama lain kecuali secara intern di rumah, gereja, masjid, sinagog, kuil, atau pura-mu sendiri.  Konsensus umum adalah saling menghargai, hidup berdampingan secara damai,  menjaga ketenteraman dan melindungi kaum yang lemah [baca minoritas].  Ini juga prinsip dasar Perserikatan Bangsa-bangsa.

        Sebagian orang, di Amerika pun, meskipun menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai, namun menganggap keterbukaan dan perdebatan yang konstruktif antar golongan itu sehat.  Ross Douthat berkomentar bahwa jika anda memperlakukan iman anda seperti barang pecah belah, terlalu ringkih dan tidak tahan banting dalam arena debat umum, orang-orang tidak akan menghargau agama anda tersebut.  Kalau agama itu terlalu misterius atau terlalu rumit untuk diperdebatkan, hal itu akan membuat agama itu tidak dipandang sebelah mata. 

        Hidup di alam sosial yang demokratis dan modern ternyata bukan “a walk in the park,” gampang-gampang saja, tidak sesederhana itu.  Sifat dan sikap bigotry, yaitu menganggap diri, kumpulan atau paham seseorang lebih baik, lebih tinggi, lebih baik dari lain, telah menjadi seperti “dosa yang tidak dapat diampuni” dalam masyarakat.  Dalam tatanan sosial yang monarkis absolut atau ekstrim hal itu mungkin dianggap lumrah, tapi tidak demikian di masyarakat bebas liberal. 

        Konflik antar golongan dan paham ada di mana-mana.  Di Eropah yang terkenal sekular pun banyak yang memprotes pelecehan atas hak dan kebebasan wanita Islam mengenakan burqah di umum.  Kebijaksanaan pemerintah AS memfasilitasi pelayanan anti kehamilan dan pengguguran diprotes habis-habisan oleh ulama-ulama Katholik yang merasa keyakinan dan ajaran mereka tentang seksualitas dilecehkan.   

        Hal ini ber-implikasi terhadap gereja-gereja Kristen, namun secara khusus kepada umat-umat Advent.  Bagaimana mempraktekkan hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai dengan orang, umat dan gereja lain, saling menghargai dan menghormati keyakinan dan cara hidup masing-masing, tidak menyinggung orang lain, pada saat yang sama menjalankan perintah Alkitab mengabarkan undangan Tuhan, menyediakan umat yang sedia bagi kedatangan-Nya?  Bagaimana menyebut dosa itu dosa tanpa menyinggung perasaan si pendosa?

        Metode penginjilan yang ampuh seperti Ceramah umum “Harapan Zaman Ini,” “Nubuatan Berbicara,” dll. otomatis tidak dapat digunakan lagi, sudah ketinggalan zaman.  Evangelisasi dan outreach mesti berobah bentuk supaya tidak melanggar norma-norma, etika dan kepantasan sosial.

        Tapi mengabarkan Injil dan memberi-tahu dunia bahwa Yesus akan segera datang adalah tugas kita.  Yohanes 17:13-18 menyebutkan bahwa kita, murid-murid dan pengikut-pengikut Yesus sudah diutus ke dunia.  Ke dunia yang perlu mengenal Tuhan dan keluar dari kegelapan.  Mengabarkan, membagikan terang tanpa bigotry, tanpa mempersalahkan, mencela dan memancing protes dan perlawanan, itulah tugas kita.

        “Aku mengirimkan kamu bagai domba di antara serigala-serigala,” Matius 10:16, nasihat Yesus kepada murid-muridNya.  “Karena itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti melati.”  Kita dituntut cerdik sekaligus tulus.  Cerdik dan tulus adalah pandai, bijaksana, waspada, taktis dan strategis, pada saat yang sama, tertib dan patuh hukum.

        Pekabaran Injil di Indonesia, India, Afrika, dan Amerika Selatan sejauh ini masih terbuka lebar, tidak terhalang oleh isyu political correctness seperti yang terlihat di AS.  Itu sebabnya penarikan jiwa masih lancar dan limpah di wilayah-wilayah ini.  Lain dengan di California, Colorado, New Jersey, Washington dan di Eropah di mana pendeta-pendeta kita sering terpaksa mencantumkan tidak ada satu jiwapun dibaptis dalam laporan kerja tahunan.  Atau, ada tiga jiwa dibaptis dan tiga-tiganya adalah anak anggota.  Bukan hanya itu.  Di tempat-tempat tertentu menyebutkan nama Yesus dan membawa atribut Kristen pun tidak diperkenankan.

        Gereja kita sudah lama menggeluti masaalah itu.  Sebagai bagian dari program cerdik seperti ular, penginjilan di beberapa tempat terpaksa dilaksanakan secara terselubung. 

        Bersyukur bahwa kesempatan menarik jiwa di Indonesia dan tempat-tempat lain masih terbuka lebar.  Itu sebabnya tokoh-tokoh General Conference juga grup-grup independen dan kaum awam dari AS cari-cari kesempatan untuk outreach di ladang-ladang yang subur itu. 

        Tetapi siapa yang dapat menjamin pintu pekabaran Injil di tempat-tempat itu akan terus terbuka.  Seperti lucrative market, pasar yang sangat laris pun, lama-lama akan jadi saturated, jenuh, begitu juga ladang pengabaran Injil.  Pintu-pintu itu akan tertutup nanti, apakah oleh tumbuhnya fanatisme religius di antara masyarakat mayoritas, atau oleh berkembangnya pola kultur liberal seperti yang saat ini terlihat di AS, atau oleh sebab lain.

        Resistansi atau perlawanan terhadap pekerjaan penginjilan dapat juga timbul sebagai akibat kecerobohan para pekabar Injil.   Ada yang berargumentasi bahwa semakin banyak perlawanan terhadap penginjilan, semakin dekatlah penganiayaan, dan semakin dekat jugalah kedatangan Tuhan. Itu ada benarnya, namun Tuhan menginginkan kita bekerja selagi hari siang.  Biar Tuhan yang mengatur saatnya malam itu datang.  Justru Ia lambat datang karena menunggu kita sedia.***

BAIT
Artikel

T U J U A N   K E P A U S A N  — 35

Kemenangan Akhir

G

Lanjutan…..

ereja Roma sekarang ini menampilkan wajah yang menyenangkan kepada dunia, menutupi catatan kekejamannya yang mengerikan dengan berbagai permohonan maaf. Ia telah menutupi dirinya dengan jubah yang menyerupai Kristus, tetapi ia sendiri tidak berubah. Segala prinsip kepausan yang ada pada zaman-zaman dulu ada sekarang ini. Doktrin-doktrin yang dibuat pada zaman yang paling gelap masih tetap dipertahankan. Biarlah jangan seorangpun menipu dirinya sendiri. Kepausan yang akan dihormati oleh Protestan sekarang ini adalah sama dengan yang memerintah dunia pada zaman Pembaharuan, pada waktu mana hamba-hamab Allah berdiri mempertaruhkan nyawa mereka, untuk menelanjangi kejahatan kepausan. Kepausan memiliki keangkuhan dan kesombongan yang berkuasa atas raja-raja dan pangeran-pangeran, dan mengatakan mempunyai hak-hak istimewa dari Allah. Rohnya tidak kurang kejamnya dan kesewenang-wenangannya sekarang dibandingkan dengan waktu ia menindas kebebasan umat manusia, dan membantai orang-orang kudus Yang Mahatinggi.

      Kepausan adalah apa yang dinyatakan oleh nubuatan yang menjadi kemurtadan pada akhir zaman. (2 Tes. 2:3,4).  Adalah menjadi bagian dari kebijakannya untuk memakai tabiat yang membantu mencapai tujuannya, tetapi di balik penampilannya yang berubah-ubah bagaikan bunglon itu,  ia menyembunyikan bisa ular yang tidak berubah-ubah.  “Iman janganlah dipelihara bersama para bida’ah atau orang-orang yang dicurigai memiliki aliran sesat.” —  Llenfant, “History of the Council of Constance,” Vol. I, p. 516 (ed. 1728), katanya. Haruskah kekuasaan ini, yang catatannya selama seribu tahun telah dituliskan dengan darah orang-orang kudus, diakui sebagai bagian dari gereja Kristus?

      Bukan tanpa alasan bahwa pernyataan telah diketengahkan di negara-negara Protestan, yang mengatakan bahwa ajaran Katolik tidak berbeda jauh dari ajaran Protestan, dibandingkan dengan zaman dulu. Telah terjadi suatu perubahan, tetapi perubahan itu tidak terjadi pada kepausan. Memang benar, ajaran Katolik sekarang banyak menyerupai ajaran Protestan yang ada sekarang, oleh karena ajaran Protestan telah mengalami degenerasi yang besar sejak zaman para Pembaharu.

      Sementara gereja-gereja Protestan berusaha agar diterima dan disukai dunia, kebaikan hati palsu telah membutakan mata mereka. Mereka melihat bahwa adalah benar mempercayai kebaikan dari segala kejahatan, dan sebagai akibatnya, pada akhirnya mereka mempercayai kejahatahn dari segala kebaikan. Sebagai gantinya berdiri mempertahankan iman yang pada suatu saat diberikan kepada orang-orang kudus, sekarang mereka, seperti sebelumnya, memohon maaf kepada Roma atas pendapat yang tidak baik mengenai dia, dan memohon keampunan atas kefanatikannya.

      Sebagian besar orang-orang, bahkan termasuk mereka yang tidak menyukai Romanisme, tidak begitu menyadari bahaya yang timbul dari kekuasaan dan pengaruh kepausan itu. Banyak yang berpendapat bahwa kegelapan intelektual dan moral yang merajalela pada Abad Pertengahan memudahkan penyebaran dogma-dogmanya, ketakhyulannya dan penindasannya. Dan pemikiran dan kecerdasan yang lebih meningkat pada zaman modern, penyebaran pengetahuan secara umum, dan meningkatnya kebebasan dalam hal-hal agama, akan mencegah timbulnya kembali sikap tidak toleran dan kelaliman. Pendapat yang mengatakan keadaan seperti itu akan timbul pada zaman modern ini adalah suatu perkara yang lucu. Benar bahwa terang besar pemikiran dan kecerdasan, moral dan kegamaan sedang bersinar ke atas generasi ini. Dalam halaman-halaman terbuka firman Allah yang suci, terang dari Surga telah dipancarkan ke dunia ini. Tetapi harus diingat, bahwa semakin besar terang yang dikaruniakan, semakin besar kegelapan pada mereka yang memutarbalikkan dan menolak terang itu.

      Pelajaran Alkitab yang disertai doa akan menunjukkan kepada Protestan tabiat sejati kepausan, dan akan mengakibatkan mereka tidak menyukainya dan menjauhkan diri daripadanya. Tetapi banyak yang merasa begitu bijak dalam keangkuhan mereka sehingga mereka merasa tidak perlu mencari Allah dalam kerendahan hati, yang dapat menuntun mereka kepada kebenaran. Walaupun mereka berbangga dalam pengetahuan, mereka sebenarnya bodoh dalam Alkitab dan kuasa Allah. Mereka pasti mempunyai cara untuk mendiamkan hati nurani mereka, dan mereka mencari yang kurang rohani dan merendahkan. Apa yang mereka inginkan adalah metode untuk melupakan Allah yang akan melampaui metode mengingat-Nya. Kepausan dapat menyesuaikan diri untuk menghadapi semua ini. Kepausan dipersiapkan bagi dua kelompok umat manusia, yang mencakup hampir seluruh dunia — mereka yang akan diselamatkan oleh jasa-jasa perbuatan mereka sendiri, dan mereka yang akan diselamatkan di dalam dosa-dosanya sendiri. Inilah rahasia kuasanya.

     Telah ditunjukkan bahwa suatu masa kegelapan intelektual adalah masa yang menguntungkan demi suksesnya kepausan. Masih akan ditunjukkan bahwa suatu masa terang intelektualpun sama menguntungkan kesuksesannya. Pada zaman yang lampau bilamana orang-orang tanpa firman Allah, dan tanpa pengetahuan kebenaran, mata mereka ditutupi, dan ribuan orang terjerat, tidak dapat melihat jerat yang ditebarkan di kaki mereka. Pada genersai ini banyak orang yang matanya menjadi silau oleh gemerlapnya spekulasi manusia, “yang secara salah dikatakan ilmu pengetahuan.” Mereka tidak mengetahui jaring itu, dan berjalan masuk ke dalamnya seolah-olah matanya ditutupi dengan kain.  Allah merencanakan bahwa kuasa intelektual manusia itu dipertahankan sebagai suatu karunia dari Penciptanya, dan harus digunakan untuk melayani kebenaran dan keadilan. Tetapi bilamana kesombongan dan ambisi menguasai, dan manusia meninggikan teori mereka sendiri di atas firman Allah, maka intelektual manusia dapat mendatangkan bahaya yang lebih besar daripada kebodohan. Demikianlah ilmu pengetahuan palsu zaman ini, yang merusakkan kepercayaan kepada Alkitab, akan membuktikan kesuksesannya dalam menyediakan jalan untuk menerima kepausan, dengan bentuk-bentuknya yang menyenangkan, sebagaimana dengan menahan pengetahuan membuka jalan kepada keagunagnnya pada Zaman Kegelapan.

      Dalam pergerakan-pergerakan yang sekarang berlangsung di Amerika Serikat untuk memperoleh dukungan pemerintah kepada institusi-institusi dan tradisi gereja, Protestan mengikuti jejak para pengikut kepausan. Bahkan, lebih dari itu, mereka membuka pintu kepada kepausan untuk mendapatkan kembali dalam Protestan Amerika supremasi yang telah hilang di Dunia Lama (Eropa). Dan apa yang paling penting dalam gerakan ini ialah kenyataan bahwa tujuan utama yang terkandung di dalamnya ialah pemaksaan pemeliharaan hari Minggu — suatu kebiasaan yang bermulai dari Roma, dan yang dikatakannya sebagai tanda kekuasaannya. Adalah roh kepausan, — roh menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan dunia, meninggikan tradisi manusia di atas perintah-perintah Allah —  yang menembusi gereja-gereja Protestan, dan menuntun mereka terus melakukan pekerjaan yang sama, yaitu meninggikan hari Minggu, yang telah dilakukan oleh kepausan sebelum mereka.

      Jikalau pembaca mau  mengerti agen-agen yang akan digunakan dalam pertarungan yang akan segera datang, maka pembaca harus menelusuri catatan mengenai sarana-sarana yang digunakan Roma untuk tujuan yang sama pada zaman lampau. Jikalau hendak mengetahui bagaimana para pengikut kepausan dan Protestan yang bersatu itu memperlakukan mereka yang menolak dogma-dogma mereka, perhatikanlah roh yang ditunjukkan oleh Roma terhadap hari Sabat dan para pendukungnya.

      Titah kerajaan, konsili-konsili umum dan pertauran-peraturan gereja yang didukung oleh kekuasaan sekular atau pemerintah, adalah langkah-langkah oleh mana perayaan-perayaan kekafiran mendapat tempatnya yang terhormat di dunia Kristen. Undang-undang pertama yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu adalah undang-undang yang diberlakukan oleh Constantine (AD. 321, Lihat lampiran). Perintah ini mengharuskan penduduk kota beristirahat pada  “hari matahari yang dihormati,” tetapi mengizinkan penduduk desa meneruskan pekerjaan bertani mereka. Walaupun perintah itu sebenarnya adalah suatu undang-undang kekafiran, namun telah dipaksakan oleh kaisar setelah ia menerima Kekristenan secara nominal.

      Perintah raja itu tidak terbukti sebagai pengganti kekuasaan ialahi, oleh karena itu Eusebius, seorang uskup yang mengupayakan perkenan para pangeran, dan yang menjadi teman khusus dan penyanjung Constantine, mengajukan pernyataan bahwa Kristus telah memindahkan Sabat ke hari Minggu. Tidak satupun kesaksian Alkitab yang membuktikan dukungan kepada doktrin yang baru ini. Eusebius sendiri secara tidak sadar mengakui kepalsuannya, dan menunjuk kepada mereka-mereka yang mengadakan perubahan itu. “Segala sesuatu,” katanya, “apa sajapun yang menjadi kewajiban yang dilakukan pada hari Sabat, semua ini telah kami pindahkan ke hari Tuhan.”  —  Cox, R., “Sabbath Laws and Sabbath Duties,” p. 538 (ed. 1853). Tetapi argumentasi mengenai hari Minggu ini, meskipun tidak berdasar, memberikan semangat kepada orang-orang untuk menginjak-injak Sabat Tuhan. Semua yang mau dihormati oleh dunia menerima perayaan populer ini.

Bersambung …….

Inspirational Story
BAIT

 

A

da seorang ayah dalam satu keluarga.  Ia adalah pekerja keras yang mencukupi seluruh kebutuhan hidup bagi istri dan ketiga anaknya.  Ia menghabiskan malam-malam sesudah bekerja dengan menghadiri kursus-kursus pengembangan diri dengan harapan suatu hari nanti dia bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih baik.  Kecuali hari minggu, sang ayah sangat susah untuk bisa makan bersama keluarganya.  Dia bekerja dan belajar sangat keras karena ingin menyediakan apa saja yang bisa dibeli dengan uang untuk keluarganya.

Setiap kali keluarganya mengeluh kalau dia tidak punya cukup waktu dengan mereka, dia selalu beralasan bahwa semua itu dilakukan untuk mereka.  Tetapi, sering kali dia sangat ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya.  Suatu hari tibalah saatnya hasil ujian diumumkan.  Dengan sangat gembira, sang ayah ini lulus, dengan prestasi gemilang pula!  Segera sesudah itu, dia ditawari posisi yang baik sebagai senior supervisor dengan gaji menarik.

Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, sekarang sang ayah mampu memberi keluarganya kehidupan yang lebih mewah, seperti pakaian bagus, makanan enak, dan juga liburan ke luar negeri.  Namun, keluarganya masih saja tidak bisa bertemu dengan sang ayah hampir dalam seluruh minggu.  Dia terus bekerja sangat keras, dengan harapan bisa dipromosikan ke jabatan manajer.  Nyatanya, untuk membuat dirinya calon yang cocok untuk jabatan itu, dia mendaftarkan diri pada kursus lain di Universitas terbuka.

Lagi, setiap saat keluarganya mengeluh kalau sang ayah tidak menghabiskan cukup waktu untuk mereka.  Dia beralasan melakukan semua ini demi mereka.  Tetapi, sering kali muncul keinginannya untuk menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengan keluarganya.  Kerja keras sang ayah berhasil dan dia dipromosikan.  Dengan penuh sukacita, dia memutuskan untuk mempekerjakan pembantu untuk membebaskan istrinya dari tugas rutinnya.  Dia juga merasa kalau flat dengan tiga kamar sudah tidak cukup besar lagi.  Akan sangat baik keluarganya untuk bisa menikmati fasilitas dan kenyamanan di sebuah kondominium.

Setelah merasakan jerih payah kerja kerasnya selama ini, sang ayah memutuskan untuk lebih jauh lagi belajar dan bekerja supaya bisa di promosikan lagi.  Keluarganya masih tidak bisa sering bertemu dengan dia.  Kenyataannya, kadang-kadang sang ayah harus bekerja pada hari minggu untuk menemani tamu-tamunya.  Lagi, setiap kali keluarganya mengeluh kalau dia tidak menghabiskan cukup waktu dengan mereka, dia beralasan kalau semua ini dilakukan demi mereka.

Tetapi, sering kali dia sangat ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya.  Seperti yang diharapkan, kerja keras sang ayah berhasil dan dia membeli kondominium yang indah dan menghadap ke pantai Singapura.  Pada malam pertama di rumah baru mereka, sang ayah mengatakan kepada keluarganya bahwa dia memutuskan untuk tidak mau mengambil kursus dan mengejar promosi lagi.  Sejak saat itu dia ingin memberikan lebih banyak waktu lagi untuk keluarganya.  Namun, sang ayah tidak bangun-bangun lagi keesokan harinya….!!!

Inspirasi

Untuk direnungkan :  Waktu tidak punya perasaan.  Dia akan terus berjalan apa pun yang terjadi.  Jika tidak menggunakannya dengan bijak, kita akan ditinggal.  Penyesalan karena tidak memakai waktu dengan baik tidak akan membuat waktu kembali.  Pergunakanlah sekarang!

Untuk Dilakukan  :  “Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”  Efesus 5 : 16

Inilah paradoks yang senantiasa berulang :  saat muda, kita mencari uang untuk membahagiakan keluarga.  Namun, saat mendapatkan uang, kita tidak lagi bisa melakukan hal yang membahagiakan keluarga kita.  Waktu tidak mengenal status seseorang, tidak mengenal posisi seseorang, tidak mengenal  tanggungjawab  seseorang, dia akan terus berjalan terus dan terus dan tidak akan pernah kembali, waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali.  Sering kita berjanji dalan diri kita sendiri kalau nanti tiba waktunya aku akan berbuat begini dan begitu kepada keluargaku, kepada anak-anakku, kepada kantorku, kepada orangtuaku dan banyak lagi.  Tetapi jangan menunggu waktu yang baik duluh baru kita memberi yang terbaik buat terkasih kita!  Karena keadaan bisa berubah sedangkan waktu tidak peduli  akan anda.  Ingat, keluarga adalah segalanya dalam hidup, merekalah yang memperhatikan, menghibur, memberi kedamaian dan mempedulikan dan yang terpenting mencintai anda.  Oleh karena itu bukan berapa banyak waktu yang anda gunakan untuk keluarga yang terpenting tetapi seberapa besar kualitas waktu diberikan untuk anda, ironisnya kita terlalu sibuk bekerja dan bekerja dengan alasan keluarga!  Tetapi lupa bahwa mereka merindukan kebersamaan ayah ditengah keluarga.  Nasihat buat ayah, sesibuk apapun anda dalam pekerjaan ingat keluarga penting diperhatikan.  Jangan menunggu waktu yang baik, karena mungkin saat tiba waktunya kita sudah tiada!  Sediakan waktu untuk keluarga tercintah

Artikel
BAIT

Respon terhadap video

“Does the Command to Observe 7th Day Sabbath”

Bagian I

Oleh: Sonny F. Maromon

MAR, Biblical Languages student

Adventist International Institute of Advanced Studies

S

eiring dengan berkembangnya pengetahuan dan informasi melalui internet, semakin banyak juga anggota jemaat menggunakan media ini untuk memperdalam pengetahuan mereka. Di satu sisi, dari segi positifnya, mereka boleh mengaksesnya dengan cepat dan murah serta membandingkan berbagai pendapat secara objective dan lebih dewasa memutuskan pendirian mereka. Namun di sisi yang lain, ketika seseorang memiliki dasar yang benar, boleh jadi dia akan mengambil keputusan untuk menerima pengajaran yang keliru. Dalam hal ini semua perlu belajar dan menilai sendiri dan mencari bukti yang jelas dari Alkitab sebagaimana yang dianjurkan juga oleh Ellen G. White dalam buku Kemenangan Akhir bab 37. Tentu saja semua harus dengan rendah hati mau dituntun oleh Roh Suci.

Belakangan ini ada seorang “mantan” anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh  (GMAHK) bernama Dale-Ratzlaff mengemukakan pengajaran yang menolak Pekan Penciptaan dan pemeliharaan Sabat. Dia mengembangkan pengajaran D. M Canright (mungkin yang dimaksudkan pengkhotbah adalah D. M. Canright, seorang mantan pendeta GMAHK yang mengajarkan hal yang sama). Ajarannya diunggah di Youtube https://www.youtube.com/watch?v=-_zaWd0IAPM. Dia telah memberikan beberapa bukti sederhana termasuk mengutip bahasa text Alkitab[1] (dalam hal ini bahasa Ibrani) untuk membuktikan pengajarannya bahwa ajaran GMAHK dalam hal ini tidak sesuai dengan Alkitab mengenai pemeliharaan hari Sabat.  Apakah benar demikian? Untuk menjawabnya, adalah baik ketika kita menggunakan metode yang sama dan bukan berdasarkan terjemahan text Alkitab sebagai argumentasinya. Sebagai sebuah motivasi, biarlah text Firman Tuhan itu sendiri yang menyatakan kebenaran-Nya bagi kita.

Oleh karena itu, sebagai suatu respon terhadap argumentasinya, saya mencoba menyampaikan bukti dari sebuah penelitian sederhana berdasarkan bahasa Ibrani bahwa ajaran GMAHK tentang Sabat sebagaimana yang ditegaskan juga dalam tulisan Ellen G. White[2] adalah sesuai dengan text Alkitab.  Melalui hal ini, anggota jemaat juga dapat melihat perbandingan-perbandingan yang ada dan membuktikannya sendiri sehingga dapat mengerti dan mengambil keputusan di atas dasar text firman Tuhan. Semoga penyampaian ini bermanfaat.

Statement

“Tidak ada Pekan Penciptaan” sebab penciptaan telah selesai, ‘completed,’ pada hari keenam.”

Jawaban:

  1. Penulisan Kejadian 1, 2 dan kitab Kel. 20:8-11 (bukan tulisan pada loh batu) adalah Musa[3]  sekalipun jarak waktu antara penulisan Kej. 1& 2 dan Kel 20:8-11 lebih dari 2000 tahun sehingga penulisan itu berdasarkan gaya bahasa dan pemahaman zaman penulis yang sudah mengerti tentang sirkulasi minggu setidaknya pada Kel 16.
  2. Kata   “,שְׁבֻ֣עַ ” šübù`a, adalah kata yang digunakan penulis lima kali dalam Alkitab untuk menggambar pekan/ minggu[4]. Arti dari kata itu adalah tujuh hari secara berurutan, “7 consecutive days” / minggu.[5] Dalam hal ini penulis mengatahui dengan jelas sirkulasi satu pekan adalah tujuh hari.
  3. Peristiwa penciptaan adalah tujuh hari berturut-turut yaitu tindakkan peniciptaan selama enam hari, dan penutupan pada hari ke 7. (Kej. 2:2).
  4. Kata “כָּלָה,” kalah, “complete,” pada peristiwa penciptaan ini ditulis dua kali dengan bentuk yang berbeda.
    1. Untuk penciptaan langit dan bumi selama enam hari ditutup dengan kata yang sama dalam format pual imperfect yaitu  “,וַיְכֻלּ֛וּ” wayükullû, “completed” (Kej 2:1). Kelihatanya pembicara hanya berhenti sampai pada kata ini dan ia mengambil kesimpulan bahwa tidak ada Pekan Penciptaan.
    1. Namun text melanjutkan dengan kata yang sama pada ayat 2. Penulisan kata ini ditulis dalam format piel imperfect yaitu “וַיְכַ֤ל,” wayükal. Hal ini menunjuk pada semua aktivitas keseluruhan penciptaan yang sedang terjadi dan ditutup dengan kata “completed” pada hari ke 7. (Kej 2:2). Dengan kata lain kata “completed” pada ayat 1 merujuk pada tindakkan penciptaan, tetapi kata “completed” yang kedua yang dilanjutkan dengan kata kerja berikutnya yaitu , “וַיִּשְׁבֹּת,” wayyišböt, “dan dia berhenti,” merupakan aktivitas penutup untuk keseluruhan peristiwa.
    1. Kedua kata yang sama ini ditulis dengan menggunakan Wayyiqtol yang berfungsi juga sebagai pluperfect dalam pengertian logika rujukan. [6] Dengan kata lain, ini merupakan sebuah peristiwa yang bersambung dan tak terpisah.
  • Tidak ada hari kedelapan setelah hari ketujuh . Hal ini menunjukkan suatu gambaran arti dari formula sirkulasi mingguan.

Statement

“Statement tentang formula hari penciptaan pada enam hari penciptaan “jadilah petang, jadilah pagi,” tetapi tidak ada pada hari yang ketujuh.”

Jawaban.

  1. Dengan adanya fungsi “pluperfect” sebagaimana penjelasan di atas, maka Kej. 2:3 merujuk secara logika pada gambaran hari yang digambarkan pada enam hari penciptaan sekalipun tidak menggunakan formula yang sama.
  • Kata “petang dan pagi” pada enam hari penciptaan identik dengan pekerjaan penciptaan yang dibuat melalui kata “ וַֽיְהִי,” wayühî, “jadilah,”  sementara pada hari yang ketujuh, kata itu tidak ada seiring dengan Tuhan berhenti dari pekerjaan yang telah dibuatnya.
  • Enam hari penciptaan menyatakan penciptaan terhadap hal yang tidak ada sebelumnya. Sementara hari ketujuh berhubungan dengan Hukum Tuhan yang kekal (Kel 20:8-11). Dengan kata lain hari ketujuh merupakan sebuah penutup namun bukan tindakan penciptaan sebagaimana enam hari sebelumnya.

Statement

“Sabat hari ketujuh  adalah adalah waktu yang tak berkesudahan untuk hubungan Ilahi dan manusia setelah enam hari penciptaan jika tidak ada dosa karena tidak adanya formula ‘jadilah petang, jadilah pagi.’”

Jawaban.

  1. Pengkhotbah sendiri sudah mengemukakan bahwa itu adalah sebuah asumsi.
  2. Tidak ada bukti text Alkitab yang menyatakan bahwa sabat adalah waktu yang berkesudahan.
  3. Dengan tidak adanya formula “petang dan pagi,” bukan berarti bahwa itu diasumsikan kepada waktu yang tidak berkesudahan.
  4. Hari ketujuh pada context ini di hubungkan dengan kata “ שָׁבַת֙ מִכָּל־מְלַאכְתּ֔וֹ,” šäbat mikkol-müla´kü, “Ia berhenti dari semua pekerjaan-Nya.” Jika kata “שָׁבַת֙,” šäbat, “berhenti” di tulis dalam bentukan kata kerja infinitive, maka asumsinya tentang “waktu yang tak berkesudahan” pada hari ketujuh dalam hal ini dapat dipertimbangkan. Namun sebaliknya penulisan kata ini dalam bentukkan kata kerja qal perfect. Dengan demikian asumsi pengajarannya pada text ini belum bersesuaian dengan text itu sendiri.
  5. Analisa di atas menunjukkan bahwa enam hari penciptaan pada hari pertama sampai keenam dalam Kej. 1 hingga hari ketujuh dalam Kej. 2:2, adalah peristiwa tujuh hari literal secara berurutan, dan setelah itu tidak ada perhitungan hari yang kedelapan dan selanjutnya. Dengan demikian hari ketujuh memiliki hubungan hari yang sama dengan hari-hari sebelumnya sebagaimana penjelasan-penjelasan di atas.
  6. Hal ini lebih menunjukan arti dari formula satu pekan. Berdasarkan catatan Alkitab, inilah formula pekan atau sirkulasi mingguan yang  pertama kali dikemukakan.

Berdasarkan alasan-alasan yang telah dikemukakan di atas, maka hari ketujuh pada Kej. 2:2 bukanlah waktu yang tidak berkesudahan. Itu adalah hari yang sama dengan enam hari lainya.

Statement

“Tidak ada catatan Alkitab tentang pemeliharaan Sabat sebelum zaman Musa” Sambil merujuk kepada tulisan Canright.

Jawaban

Ada! Tuhan sendiri yang menuliskannya pada 10 hukum[7] dalam Kel 20:8 pada kata pertama yaitu kata “זָכ֛וֹר,” zäkôr, “ingat.” Ada tiga alasan yang dikemukanan melalui penulisan kata ini.

  1. Berdasarkan  arti kata, bentuk kata dasarnya bisa berarti “ingat,” atau juga “menyebut/ memanggil”. Namun format yang digunakan pada kata ini berarti sesuatu yang sudah terjadi dan diingat. Dalam MT,[8] kata yang sama ditulis enam kali, dan empat kali ditulis oleh Musa yaitu masing-masing dua kali dalam buku Keluaran dan Ulangan. Semuanya menggunakan arti kata “ingat” untuk makna kontextualnya. Dengan kata lain arti kata ini sendiri bukan menyatakan sesuatu yang baru terjadi saat hukum itu diucapkan melainkan hal ini merujuk kepada sesuatu yang sudah ada dalam hal ini merujuk kepada pemeliharaan Sabat yang sudah ada sebelumnya. Apakah hal ini merujuk hanya kepada pemeliharaan Sabat pada Kel. 16 bahwa pemeliharaan Sabat sudah ada sebelum 10 hukum diberikan sebagaimana yang di klaim oleh D. M. Canright?[9] Alasan berikut ini akan menjawabnya.
  2. Berdasarkan bentuk kata kerja, kata ini ditulisakan dalam bentukkan Infinitive absolute sementara sembilan hukum lainnya ditulis dalam bentukkan kata kerja imperfect termasuk hukum kelima yang ditulis dalam bentuk imperative dan bersifat imperfect dari segi aturan grammar dan arti. Bentukkan kata kerja Infinitive tidak dapat diartikan sebagai suatu tindakkan yang baru dilakukan pada zaman Musa namun itu adalah bentukan kata kerja yang tidak memiliki batasan waktu. Dengan demikian tidak seorangpun dapat mengasumsikan bahwa itu baru terjadi pada zaman Musa tetapi harus dimengerti dari fungsi kata Infinitive itu sendiri. Kata “זָכ֛וֹר,” zäkôr, “ingat,” berdasarkan bentuk kata kerjanya berlaku untuk semua zaman tanpa batas termasuk juga ke masa lampau sebelum zaman Musa. Demikian pula halnya dengan Ulangan 5:12 pada kata “  שָׁמ֣֛וֹר,” šämôr, “pelihara” saat Musa menyebutkan kembali 10 Hukum kepada bangsa Israel. Hal ini membuktikan juga bahwa hukum keempat juga telah berlaku juga sejak di taman Eden.
  3. D. M. Canright yang menyanggah adanya Pekan Penciptaan, dan dalam tulisannya sendiri melihat bahwa kata “ingat” hanya merujuk kepada Sabat dalam Kel 16 sebagai perhitungan sirkulasi mingguan / pekan.[10] Karena Kel. 20 :11 merujuk kepada peristiwa penciptaan, maka tanpa ia sadari, ia juga telah menyetujui bahwa peristiwa itu  bukan cuman disebut enam hari bekerja, dan hari ketujuh istirahat, tatapi itu juga adalah Pekan Penciptaan.

Melalui penjabaran di atas, kita dapat melihat bahwa pemeliharaan Sabat bukanlah sesuatu yang baru terjadi pada zaman Musa. Sebaliknya, itu adalah sesuatu yang sudah ada sebelumya dan di ingat kembali berdasarkan kata itu sendiri. Dalam hal ini bukan manusia yang menuliskannya di atas loh batu, tetapi Tuhan sendiri yang menuliskannya.

Sepuluh hukum itu sendiri adalah satu kesatuan. Salah satu bukti bahwa hukum itu secara keseluruhan bukan hanya kepada Bangsa Israel terdapat pada hukum keenam. Hal ini terlihat dari tindakkan Tuhan yang tidak setuju kepada Kain karena pelanggaran hukum keenam saat ia membunuh adiknya Habel (Kej. 4:8-15).

Statement

Frase Tuhan “memberkati dan menguduskan” pada penciptaan berbeda dengan frase yang sama di zaman Musa dalam Kel 20:11.

Jawaban

Tidak! Mari kita perhatikan kedua kata ini satu persatu dari segi bahasanya. Kata kerja “בָּרַךְ,” bäºrak, “memberkati,” dalam Kej. 2:3 dituliskan dalam bentukkan imperfect sementara dalam  Kel 20:11 menggunakan bentukkan perfect. Dengan kata lain, kata ini  pada zaman Musa menunjuk kepada peristiwa penciptaan pada saat Tuhan sendiri mulai melaksanakan kata kerja itu bagi manusia. Dengan kata lain berkat itu sudah berlaku sejak hari penciptaan.

Kata “קדשׁ,” qaDaš, “menguduskan” dalam Kej. 2:3 dan Kel 20:11 dituliskan dalam bentukkan yang sama yaitu piel imperfect. Hal ini menunjukkan tindakkan yang Tuhan tetap lakukan baik di zaman Musa ataupun pada saat penciptaan. Penggunaan bentukkan piel menunjukkan kata kerja aktif yang berkesinambungan, sementara bentukkan imperfect dari segi aspek dapat berarti tindakkan yang berlum berakhir sekalipun dalam bentukkan waktu dapat berarti bentukan waktu “present” atau.”future.” Kata pada kedua ayat ini memiliki bentuk kata kerja dan arti yang sama.

Karena kedua kata ini dalam Kel 20:11 merujuk pada Pekan Penciptaan maka pengertian pada kedua kata ini bisa keliru jika diartikan berbeda dengan Kej. 2:3.

Statement

“Sabat adalah tanda dari Perjanjian yang sudah tua ‘old’ yang Tuhan buat ‘hanya’ untuk bangsa Israel sebagaimana terdapat pada pusat sepuluh hukum (Kel 31:12-17).”

Jawaban

Berdasarkan kata “זָכ֛וֹר,” zäkôr,  “ingat” dalam Kel. 20:8 yang ditulis dalam bentukkan infinitive, maka format ini bukan hanya tidak dibatasi pada bentukkan waktu tetapi juga tidak membatasi penekanannya pada sekelompok orang.[11] Dengan kata lain pernyataan ini tidak hanya hanya berlaku kepada bangsa Israel saja tetapi dengan jelas kita dapat melihat bahwa ungkapan ini berlaku juga orang-orang yang hidup di zaman sebelum dan zaman Musa.

Hal yang perlu dimengerti juga dalam Kel 31:12-17 ini adalah frasa “  בְּרִ֥ית עוֹלָֽם” Bürît `ôläm,  “perjanjian yang kekal”. Jika hal ini hanya berlaku kepada Israel kuno, bukan frase ini yang harus dituliskan. Namun pembicara juga mengutip perjanjian baru sehingga kita perlu mengerti arti kata Israel secara keseluruhan dalam Alkitab yang bukan berarti Israel secara literal.

Bersambung… (berdasarkan kesempatan dan waktu yang ada)..   ***

BAIT
Cerita Anak-Anak

Pemuka Rumah Tuhan Mengunjungi Yesus

Dikirim oleh Max Kaway

Yohanes 2-3, Bilangan 21.

K

etika suatu hari Yesus menuju ke rumah Allah, Ia menemukan orang-orang yang tidak menghormati rumah Allah.  Mereka menjual binatang dan menjadi tempat menukar uang!

Membuat cambuk dari tali, Yesus mendorong para penjual keluar dari rumah Allah.  “Bawalah semua barang keluar” perintahNya “Jangan membuat rumah Bapa Ku untuk tempat berdagang”.  Yesus sangat cinta rumah BapaNya.  Para pemuka meminta tanda bahwa Yesus punya hak untuk mengusir orang dari rumah Allah.  “Robohkan rumah Allah ini dan Aku akan dirikan lagi dalam tiga hari, “ jawab Yesus.  Tidak mungkin.  Rumah Allah ini dibangun dalam waktu empat puluh enam tahun.  Tetapi Yesus berbicara tentang tubuhNya.  Serupa dengan rumah Allah.  TubuhNya adalah tempat Allah berdiam.  Yesus tahu Ia akan wafat di kayu salib,  Ia tahu Allah akan membangkitkan Dia dari kubur pada hari ketiga.

Pada malam hari soerang dari pemuka rumah Allah mengunjungi Yesus.  Ia tahu mukjizat yang dibuat Yesus berasal dari Allah Bapa.  Nikodemus berkunjung ke Yesus untuk belajar tentang Allah.  Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa orang harus lahir baru untuk dapat masuk ke kerajaan Allah.  Nikodemus tidak mengerti.  Bagaimana orang sudah dewasa menjadi bayi lagi?  Disamping itu ia sangat taat beragama.  Apakah itu tidak cukup?  “Yang lahir dari roh adalah Roh “ Yesus menjelaskan.  “Roh Allah bagaikan angin.  Orang tidak dapat melihat atau mengerti angin.  Mereka hanya melihat apa yang dibuat oleh angin”.

Yesus mengingatkan Nikodemus tentang bangsa Israel selalu mengeluh kepada Musa pada masa lalu.  “ Kita tidak punya makanan, tidak ada air, dan tidak suka roti yang diberi Allah kepada kita, “ seru mereka”.  Dosa mereka membuat Tuhan marah.  Ia mengirim ular beludak diantara mereka.  Ular tersebut menggigit mereka.  Banyak yang mati.  “Kita berdosa.  Berdoa supaya Allah menyingkirkan ular-ular,” pinta orang-orang.   Musa berdoa untuk mereka.  Tetapi Allah tidak menyingkirkan ular-ular.  Allah berseru kepada Musa untuk membuat tongkat berbentuk ular.  “Siapa yang digigit akan hidup jika menatap tongkat ular.”  Janji Allah. Musa membuat tongkat ular dari tembaga dan siapa yang menatap akan sembuh. 

Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa Anak manusia harus diangkat seperti tongkat tembaga.  Yesus berkata tentang salib dimana Ia mati untuk dosa-dosa manusia.  Yesus berkata,  “Kerena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tungal supaya setiap orang yang percaya padaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16.  Ini berarti bahwa siapa yang percaya akan Yesus berarti lahir ke dalam keluarga Allah.  Barangkali Nikodemus tidak menjadi murid Yesus pada malam itu.  Tetapi beberapa waktu kemudian, Nikodemus menunjukan bahwa dia mencintai dan percaya Yesus dengan membantu memakamkan Anak Allah yang wafat di salib.

Setelah itu, Yesus bersama murid-muridNya menuju ke Utara.  Orang lain perlu juga mendengar tentang kerajaan Allah, dan mempunyai kesempatan untuk percaya kepada Yesus dari Nazareth,  Anak Allah.

Cerita ini mengatakan kepada kita tentang Allah kita yang hebat yang telah menciptkan kita dan ingin kita mengenal Dia.  Allah tahu kita telah berbuat hal yang buruk, yang Ia sebut dosa.  Hukuman dosa ialah maut, tetapi Allah sangat mengasihi kita.  Ia mengutus putraNya, Yesus, untuk mati di kayu salib dan dihukum karena dosa-dosa kita.  Kemudian Yesus hidup kembali dan pergi ke Surga!  Jika kamu percaya pada Yesus dan minta Dia mengampuni dosa-dosamu, Ia akan melakukannya!  Ia akan datan dan tinggal di dalammu sekarang, dan kamu akan hidup bersama Dia selamanya. +++

BAIT
Kelas Kemajuan

Cerita Orang Muda Advent

BATU-BATU FONDASI UNTUK

PELAYANAN ORANG MUDA MASA DEPAN

(Pemuda Advent Milenia Baru)

Oleh Baraka G. Muganda (Direktur Pemuda Sedunia,

Masehi Adent Hari Ketujuh General Conference)

Lanjutan …..

PELAYANAN ORANG MUDA DAN KELUARGA

                Keluarga-keluarga di masa yang akan datang akan tetap menjadi sangat kritis kepada perkembangan psikologis, sosial dan moral serta spiritual dari orang-orang muda kita. Dan oleh karena fasilitas-fasilitas akan menjadi sangat melelahkan, terlalu banyak dipakai dan kaku dibandingkan dengan yang ada pada saat ini, pekerja-pekerja orang muda yang berhasil harus perlu untuk menarik keluarga-keluarga di bawah payung pelayanan mereka.

                Untuk beberapa orang muda, jemaat yang penuh dengan persahabatan sajalah yang akan menjadi “keluarga” yang sesungguhnya atau komunitas antar jemaat yang akan selalu mereka kenal. Anggota-anggota gereja dewasa dan teman-teman sebaya yang peduli akan dapat menjadi pengganti kakek-nenek, orangtua, peman, tante, sepupu, saudari perempuan dan saudara laki-laki.

                Walaupun sangat sulit, salah satu dari tugas-tugas yang sangat penting di dalam pengembalaan kepada orang muda Masehi Advent Hari Ketujuh adalah dengan melengkapi orangtua mereka untuk siap menjadi orangtua. Tidak ada yang akan dapat membentuk iman dan sikap dari orang-orang mudah ktia lebih dari pada harga diri dari orang-orangtua mereka, gaya orangtua mereka, dan iman serta teladan dari orangtua mereka. Pelayanan Orang Muda dapat menawarkan program-program dan acara –acara yang dapat memperkuat kesejahteraan keluarga, hubungan-hubungan perkawinan, komunikasi-komunikasi keluarga, disiplin, saling membagi iman dan nilai-nilai moral.

GEREJA-GEREJA YANG BERSAHABAT DENGAN ORANG MUDA

                Gereja-gereja harus menjadi “gereja yang bersahabat dengan orang muda”. Orang muda akan mungkin mengalami kehidupan di dalam sebuah kebaktian gereja dan misi atau, sebagai seorang remaja saya tahu bahwa “melakukan apa yang tidak penting, menggunakan bahasa dan kegiatan-kegiatan yang kita tidak mengerti.” Gereja-gereja yang berhasabat dengan orang muda akan memiliki sebuah kehadiran orang muda yang baik. Orang muda akan ikut mengambil bagian di dalam kebaktian, dengan menggunakan musik dan lambang-lambang mereka dan menunjukkan kepedulian-kepedulian mereka. Mereka akan ikut terlibat di dalam Penyelidikian Alkitab antar generasi, seminar-seminar tentang masalah hidup dan acara-acara kemasyarakatan.

                Jemaat-jemaat yang bersahabat dengan orang muda akan menghargai orang muda. Gereja akan mendengar mereka dan mendukung mereka dengan doa-doa, waktu, fasilitas dan uang. Jemaat-jemaat ini akan memberikan respons kepada kebutuhan-kebutuhan orang muda dan melihat mereka sebagai sebuah komponen yang kritis di dalam tubuh Kristus.

PEMURIDAN

                Dunia ini telah menjadi sebuah gambar patung suci di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Dan dimasa yang akan datang itu akan menjadi semakin banyak digunakan dari pada sebelumnya. Orang-orang muda yang tidak memiliki nilai-nilai gereja dan yang telah terpengaruh dengan keadaan sekularisme akan membutuhkan pelayanan-pelayanan orang muda yang berfokus pada dasar-dasar dari iman Kristen dan dasar-dasar dari kepemimpinan.

                Orang-orang muda pria dan wanita akan menjadi pencari-pencari. Dan pekabaran injil akan menjadi sangat asing dan membangkitkan minat. Jadi penyelidikan Alkitab dalam kelompok kecil, kelompok-kelompok pendukung hidup, masalah-masalah penyelidikan atau seminar-seminar pelatihan ketrampilan, kegiatan-kegiatan jangkauan keluar dan penasehat publik akan memberikan kepada anak-anak kesempatan untuk saling peduli kepada satu dengan yang lain, dewasa di dalam iman mereka dan bersedia untuk kepemimpinan. Penekanan pada orang muda harus menggaris-bawahi pentingnya mengembangkan orang muda di dalam peta Yesus Kristus. Tabiat seperti Yesus harus menjadi fokus dari pemuridan. Orang muda bukan saja mengetahui tentang Allah tetapi harus mengalami Dia di dalam perjalanan mereka setiap hari. Ini harus menjadi sebuah kombinasi yang seimbang—pengalaman dan pengetahuan.

PELAYANAN

                Banyak orang muda akan rindu untuk ikut serta di dalam program yang berorientasi pada pelayanan di dalam komunitas-komunitas mereka atau bahkan lebih luas lagi. Semakin banyak orang muda akan mendapat sukacita di dalam melayani orang lain. Pelayanan Orang Muda di dalam gereja setempat perlu untuk membuat pelayanan menjadi salah satu dari prioritas-prioritasnya. Keselamatan dan Pelayanan berjalan saling bergandengan. Di masa yang akan datang, sebuah pelayanan orang muda tanpa komponen ini yaitu mengutamakan keselamatan maka akan terlihat sebagai satu pelayanan yang bukan untuk orang muda. Orang-orang Muda akan menghadapi tantangan untuk mengambil bagian di dalam acara-acara pelayanan, beberapa akan meluangkan waktu mereka untuk mengajar teman-teman mereka tentang ketrampilan-ketrampilan hidup dasar sambil mengajarkan kepada mereka tentang Yesus Kristus. Masa depan akan menyaksikan dalamnya kepuasan dari melayani orang lain dengan cara mengisi tempat-tempat yang kosong di dalam hati dari orang muda. Pelayanan Orang Muda akan semakin hari menjadi pelayanan yang berdasarkan pada pelayanan kepada masyarakat.

ABAD DIGITAL

Tahap teknologi akan terus bergerak maju dengan sangat cepat

dimasa yang akan datang. Telepon genggam, PDA, e-mail, web, peralatan tanpa kabel, iPods, mp3 dan kamera digital hanyalah merupakan beberapa peralatan yang perlu diperhatikan oleh pemimpin-pemimpin orang muda. Disamping kemajuan teknologi dari dunia kita, orang-orang muda akan selalu membutuhkan hubungan-hubungan. Ini sangat penting dan dapat dimungkinkan dengan teknologi tetapi tidak akan pernah dapat menggantikan pertemuan muka dengan muka dengan makluk manusia yang lain.

                Tetapi sebagai pemimpin-pemimpin orang muda masa depan, kita perlu berhati-hati dengan perubahan-perubahan dan menggunakannya di dalam sebuah cara yang berguna dan positif. Masa depan tentunya akan selalu menjadi cepat dan visual dan media akan secara ekstrim dapat terakses oleh setiap orang, jadi pemimpin-pemimpin lebih baik sekarang mulailah berpikir tentang bagaimana mereka akan dapat terlibat secara berhasil di dalam hal ini. Teknologi tinggi akan mencakup satu bagian yang besar dari Pelayanan Orang Muda-mu. Orang-orang muda secara alami tersangkut paut secara visual, inilah waktu mereka, budaya mereka dan masa sekarang dan masa depan yang semakin dekat dan itu akan menjadi semakin lebih visual. Pemimpin Orang Muda akan perlu untuk menggunakan waktu dengan teknologi tinggi untuk dapat bergaul atau mengenal dengan peralatan di dalam masa kita yang selalu berubah di dalam bidang ini. Seorang pemimpin orang muda tanpa sebuah tanda/bukti di dalam tekonologi tinggi akan hilang di dalam bekerja dengan orang muda. Teknologi tinggi akan menjadi bahasa masa depan untuk orang muda dengan atau tanpa gereja.

TREN-TREN BUDAYA

                Gereja akan dipanggil untuk melayani orang muda dengan sebuah kewapadaan dari tren-tren budaya dan efek mereka pada orang muda. Kekuatan yang menarik di dalam masyarakat kita akan banyak kelihatan seperti yang ada sekarang ini, hanya lebih besar dan lebih jelas. Kita akan hidup di dalam sebuah budaya yang sekuler, materialistik, relativistis dan untuk diri sendiri. Adventisme sebagaimana yang kita kenal akan menjadi dunia yang asing kepada mereka, dan mereka tidak ingin untuk mengetahui lebih banyak tentang cerita atau pakabaran Alkitab. Sejarah denominasi kita dan tempat dari Roh Nubuat di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh akan perlu untuk diberikan banyak penekanan di dalam Pelayanan Orang Muda.

                Kehidupan akan menjadi semakin rumit, dengan tahap yang cepat, keputusasaan dan kekerasan. Oleh karena ini, masa transisi dari masa kanak-kanak kepada masa remaja akan lebih lama, penuh dengan ancaman dan lebih penuh dengan resiko. Gereja sedang dalam keadaan dikepung dan satu-satunya cara kita dapat menghadapinya adalah dengan membangun sebuah pelayanan orang muda yang kuat untuk menghadapi tren-tren budaya yang akan mengancam untuk menghancurkan gereja. Pelayanan Orang Muda Masehi Advent Hari Ketujuh harus menjadi sarana untuk menolong gereja untuk menghasilkan orang-orang Advent yang kuat dengan dasar Alkitabiah yang kuat.

                Jika anda tidak dapat memberikan kepada orang muda “sebuah peta jalan” untuk menolong mereka menemukan jalan mereka di dalam kehidupan, seseorang yang lain akan memberikannya. Dan masih ada satu kesempatan yang baik  bahwa “seseorang yang lain,” tidak akan menuntun orang muda “pada jalan yang patut bagi mereka.” (Amsal 22:6).

MEMBENTUK vs. MENGHIBUR

                Dengan rasa takut akan kehilangan orang muda dari gereja, beberapa gereja akan tergoda untuk memperkenalkan kedalam Pelayanan Orang Muda pendekatan-pendekatan yang menghibur untuk tetap mempertahankan orang muda itu di dalam gereja dan tidak akan menguncangkan perahu terlalu banyak. Ketakutan ini akan menciptakan jalan masuk yang berbahaya kedalam Pelayanan Orang Muda yang telah dinikmati oleh gereja ini di dalam 100 tahun terkahir. Di masa yang akan datang Pelayanan Orang muda tidak harus kelihatan sebagai sebuah pelayanan yang memberikan hiburan atau sebagai pengasuh bayi. Pelayanan Orang Muda di masa yang akan datang harus terus untuk menantang orang muda untuk menjadi seperti Yesus. Membentuk tabiat dari orang muda menjadi seperti Yesus haruslah menjadi alasan penting dari memiliki sebuah Klub Adventurer, Klub Pathfinder, Pemuda Senior atau program-program Orang Dewasa di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Untuk dapat mencapai sasaran ini, pemimpin-pemimpin orang muda yang berdedikasi pada dasar-dasar Alkitab dan pendeta-pendeta orang muda perlu untuk menunjukkan jalan itu, yaitu mereka yang akan tetap menjadi fokus dari pelayanan orang muda tentang menciptakan kembali peta Allah di dalam Orang Muda Masehi Advent Hari Ketujuh. Orang Muda perlu untuk ditantang secara berkseinambungan untuk mengasihi Allah dan menjadi seperti Dia.

PENEGASAN KEMBALI

                Pelayanan Orang Muda di masa yang akan datang akan terus berlangsung untuk menegaskan kembali alasan mendasar mengapa Pelayanan Orang Muda didirikan di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh—menyelamatkan orang-orang muda dan melibatkan mereka di dalam misi gereja. Setiap program pelayanan orang muda gereja harus menjadi sebuah tempat perlindungan untuk menyelamatkan orang muda kita dan menantang mereka untuk ikut berpartisipasi di dalam misi dari gereja. Gereja harus menciptakan kesempatan-kesempatan untuk orang muda dalam mana mereka dapat membagikan kasih Allah kepada dunia yang sedang sekarat. Misi dari mengabarkan “pekabaran malaikat ketiga kepada setiap suku, bahasa dan kaum”, harus diberikan lebih banyak penekanan.

                Kita telah melihat secara sepintas sejarah masa lalu kita. Kita telah membuka masa sekarang kita untuk akses masa depan. Kita telah berusaha untuk melihat kedepan melalui kabut dari mata yang kita yang fana. Apa yang akan ditemukan Yesus bila Dia datang? “Tuhan telah menunjuk orang muda untuk menjadi tangan-Nya yang memberikan pertolongan.” T7 64.

                “Dengan barisan prajurit pekerja sebagai orang-orang muda kita, yang telah dilatih dengan benar, akan dapat terlengkapi, maka betapa cepatnya pekabaran dari Juruselamat yang telah disalibkan, dan telah bangkit, dan segera akan datang akan dapat disampaikan keseluruh dunia. Sungguh sangat segera akhir masa itu akan tiba—akhir dari penderitaan dan kesukaran dan dosa. Segera, menggantikan kita yang akan tetap tinggal didunia ini, dengan kesenangan dosa dan sakitnya, anak-anak kita dapat menerima warisan mereka dimana “orang-orang benar akan mewarisi tanah perjanjian dan tinggal di sana selama-lamanya”; tidak ada lagi yang mengatakan, aku sakit, dan suara tangisan tidak akan terdengar lagi.” MYP 196.

                “Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” Yesaya 35:3, 4.

Bersambung…..

Artikel
BAIT
K057  rev

Kesaksian-Kesaksian Dari Orang-Orang Gereja Yang Berwewenang

D

alam artikel sebelumnya kita telah melihat bahwa Alkitab tidak pernah memberikan perintah pemeliharaan hari Minggu sebagai hari suci. Mari kita lihat bagaimana orang-orang penting dari berbagai gereja Kristen bersaksi tentang pemeliharaan hari Minggu sebagai Hari Tuhan.

Kesaksian Gereja Anglican:

                “Dimana dalam Alkitab kita disuruh memelihara hari pertama? Kita diperintahkan untuk memelihara hari ketujuh; dan tidak ada dimanapun kita disuruh memelihara hari pertama. . . Alasan mengapa kita memelihara hari pertama dalam minggu sebagai hari suci gantinya hari ketujuh adalah alasan yang sama kita memelihara hal-hal yang lain, bukan karena Alkitab, tetapi karena gereja telah menyenanginya.” (Issac Williams, D.D., Plain Sermons on the Catechism, vol. 1, pp.334-336).

                “Kami telah membuat perubahan dari hari ketujuh ke hari pertama, dari Sabtu kepada Minggu, atas wewenang dari Gereja Katolik yang suci.” (Bishop Seymour, Why We Keep Sunday. Article 12.)

Kesaksian Gereja Baptis:

 “Memang ada dan mejadi suatu perintah untuk memelihari suci akan hari Sabat, tetapi hari Sabat itu bukanlah hari Minggu. . . Sudah tentu, Saya mengetahui bahwa Minggu tidak digunakan dalam awal sejarah Kekristenan sebagai hari keagamaan, seperti yang kita pelajari dari Bapa-Bapa  Kristen dan sumber-sumber yang lain. Tetapi betapa disayangi karena itu telah muncul dengan cap dari kekafiran, dan diberi nama dari dewa matahari, ketika diangkat dan disucikan oleh kepausan yang telah murtad, dan diwariskan sebagai warisan suci kepada kaum Protestan.” (Dr. Edward T. Hiscox, author of The Baptist Manual, dikutib dalam The New York Examiner, Nov. 16, 1890).

Kesaksian Gereja Kristen:

                “Saya tidak percaya bahwa hari Tuhan telah masuk keruangan Sabat Yahudi, atau bahwa Sabat sudah diganti dari hari ketujuh ke hari pertama dalam minggu. . . Sekarang tidak ada kesaksian dari semua sabda surga bahwa hari Sabat sudah dirobah, atau bahwa hari Tuhan telah menggantikannya. . . tidak ada kesaksian ilahi bahwa Sabat sudah diganti.” (Alexander Campbell, pendiri Gereja Kristen. Washington Reporter, Oct. 8. 1821).

                “Tidak ada wewenang langsung dari injil untuk menentukan hari pertama hari Tuhan” (Dr. D. H. Lucas, Christian Oracle, Jan. 23, 1890.

Kesaksian gereja Congregationalist

                “Sangatlah jelas bahwa, betapapun kerasnya atau salehnya kita menggunakan hari Minggu, kita tidak memelihara Sabat. . . Sabat telah ditemukan secara spesifik atas perintah Ilahi. Kita tidak menemukan perintah seperti itu terhadap hari Minggu… Tidak ada satu kalimatpun dalam Perjanjian Baru yang menganjurkan suatu hukuman terhadap pelanggaran terhadap yang dianggap kesucian hari Minggu.” (The Ten Commandments, R.W. Dale, D.D.)

Text Box: Dari kitab Kejadian sampai Wahyu tidak ada satupun ayat yang memerintahkan untuk memelihara hari Minggu sebagai hari suci.                “Pendapat sekarang bahwa Kristus dan rasul-rasul mempunyai kuasa untuk menggantikan hari ketujuh dengan hari pertama, sama sekali tidak ada wewenang didalam Perjanjian Baru.” (Dr. Lyman Abbott, Christian Union, Jan. 19, 1882.)

Kesaksian Gereja Lutheran:

                “Mereka (orang-orang Katolik) menyatakan Sabat, hari Tuhan, bertentangan dengan sepuluh hukum, seperti yang nampak, tidak ada contoh yang lebih berani dari pada menggantikan hari Sabat. Besarlah kuasa dan wewenang gereja, mereka katakan, sejak mereka telah mengeluarkan salah satu dari sepuluh hukum.” (Martin Luther, Augsburg Confession of Faith, Art. 28, Par. 9.)

                “Tetapi mereka bersalah dalam mengajarkan bahwa hari Minggu telah mengambil tempat dari Sabat Perjanjian Lama dan itulah sebabnya harus dipelihara seperti hari ketujuh telah dipelihara oleh orang-orang Israel. Dengan kata lain, mereka menegaskan  bahwa hari Minggu adalah Sabat perjanjian Baru yang ditentukan ilahi, jadi mereka berusaha untuk memaksakan pemeliharaan sabat terhadap hari Minggu oleh hukum yang dinamakan blue laws. . . Gereja-gereja ini bersalah dalam pengajaran mereka, karena Injil tidak mempunyai cara untuk mengurapi hari pertama dalam minggu menggantikan hari Sabat. Tidak ada hukum dalam Perjanjian Baru yang mengatur demikian.” (John T. Mueller, Sabbath or Sunday?, pp. 15,16).

Kesaksian Gereja Methodist:

                “Memang benar tidak ada perintah positif  untuk membaptiskan bayi. . . atau menyucikan hari pertama dalam minggu.” (Dr. Binney, M.E. Theological  Compedium, p. 103)

                “’Surat hutang’ ini Tuhan kita tidak nodai, buang, dan pakukan kesalib (Kolosi 2:14). Tetapi hukum moral yang berada dalam sepuluh hukum, yang dikuatkan oleh para nabi, Ia tidak hapuskan. . . .Hukum moral berdiri diatas dasar yang sama sekali berbeda dari hukum upacara atau  hukum keagamaan. . . Setiap bagian dari hukum ini harus tetap diberlakukan kepada semua manusia disegala zaman.” (John Wesley, Sermons on Several Occasions, 2 vol. ed., vol. 1, pp. 222.)

                “Orang-orang menjadi Kristen dan diperintahkan oleh seorang Kaisar yang bernama Constantine (312-317AD). Kaisar ini menjadikan hari Minggu sebagai Sabat Kristen, oleh sebab berkat terang dan panas yang datang dari matahari. Jadi, Minggu kita adalah hari matahari bukan? (Sunday School Advocate, Dec. 31, 1921.)

Kesaksian dari Moody Bible Institute:

“Sabat telah diikat di Eden, dan telah di laksanakan sejak itu. Hukum keempat mulai dengan kata ‘ingatlah,’ menunjukkan bahwa Sabat sudah ada ketika Tuhan menulis hukum diatas dua loh batu di Sinai. Bagaimana boleh jadi seorang mengatakan bahwa yang satu ini telah ditiadakan sementara yang Sembilan masih berlaku?” (Dwight L. Moody, Weighed and Wanting, p. 47.)

“Ketika Kristus masih berada diatas bumi ini Ia tidak melakukan sesuatu untuk mengesampingkannya (Sabat); Ia malah membebaskannya dari bekas-bekas yang telah diletakkan orang-orang Parisi dan ahli-ahli hukum, dan memullihkan tempatnya yang sebenarnya. ‘Sabat telah dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat.’ Hal itu adalah penting sekali dan praktis sekali bagi manusia sekarang ini seperti dijaman dahulu—buktinya, lebih lagi dari sebelumnya, karena kita sedang hidup dijaman yang sangat genting.” (Ibid, p. 46.)

Kesaksian gereja Presbyterian:

Hari Sabat Kristen (Minggu) tidak terdapat dalam Injil, dan gereja kuno tidak menyebutkannya Sabat.” (Dwight’s Theology, vol. IV, p. 401)

“Allah mendirikan Sabat pada waktu manusia diciptakan, menyendirikan hari ketujuh untuk maksud itu, dan mengharuskan pemeliharaannya, yang bersifat universal dan kekal sebagai kewajiban moral bagi umat manusia.” Dr. Archibald Hodges, dalam Traktat no. 175 dari Komite Publikasi Presbyterian.)

“Sabat adalah bagian dari dekalog—sepuluh hukum. Ini saja telah mengatasi pertanyaan kelangsungan institusi ini. . .sampai waktunya ditunjukkan bahwa hukum moral telah dicabut, Sabat akan tetap. . . Pengajaran Kristus meneguhkan kekekalan hari Sabat.” (T.C. Blake, D.D., Theology Condensed, pp. 474,475.)

Kesaksian Gereja Katolik:

                “Pemeliharaan hari Minggu oleh kaum Protestan adalah suatu penghormatan mereka sendiri terhadap gereja Katolik.” Father Segur, (Plain Talk about Protestantism Today, p. 213.)

                “Kaum Protestant, dalam mengabaikan kekuasaan gereja, tidak mempunyai alasan yang baik tentang teori hari Minggu, dan secara logis, harus memelihara hari Sabtu bersama orang Yahudi.” (American Catholic Quarterly Review, Jan. 1883.)

                “Sekarang setiap anak  di-sekolah sekolah mengetahui bahwa hari Sabat adalah hari Sabtu, hari ketujuh dalam minggu, namun, dengan pengecualian orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh, semua orang Protestan memelihara hari Minggu gantinya hari Sabat, sebab gereja Katolik membuat perobahannya dalam abad kekristenan.” (Father Gerritsman, dalam Winnipeg Free Press, April 21, 1884.)

                “Gereja Katolik selama lebih dari seribu tahun sebelum lahirnya Protestan, oleh kebajikan misi ilahi, merobah hari dari Sabtu ke Minggu.” (Catholic Mirror, Sept. 1893.)

                Ada penulis Katolik yang mengomentari posisi Protestan tentang perobahan Sabat. Mereka membuat tuduhan sebagai berikut: “Kamu adalah seorang Protestan, dan mengaku untuk berpegang kepada Alkitab saja; namun kamu  pergi bertentangan dengan tulisan Alkitab; dan meletakkan hari yang lain sebagai pengganti Sabat. Perintah untuk menyucikan hari ketujuh adalah salah satu dari sepuluh perintah: siapa yang memberi kamu wewenang untuk merusakkan hukum keempat?” (Library of Christian Doctrine, p. 3)

                “Adakah Perjanjian Baru mengajar kita untuk menyucikan hari Minggu? Kardinal Gibbons yang terkenal dari Gereja Katolik, menulis buku The Faith of Our Fathers, mengatakan bahwa tidak ada satu ayatpun dari Kejadian sampai Wahyu yang terdapat perintah untuk memelihara hari Minggu sebagai hari suci. Kitab Injil memerintahkan agar hari Sabat dipelihara dengan penuh kesadaran.” (James Gibbons, The Faith of Our Fathers, 92end ed. Baltimore, Johns Murphy, Co.), p. 89.

Bersambung ….. 


[1] Text Alkitab yang dimaksud adalah tulisan Alkitab dalam bahasa-bahasa saat Firman itu dituliskan oleh para penulisnya yaitu bahasa Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama, dan bahasa Gerika untuk Perjanjian Baru.

[2] Ellen G. White, Christian Education (Battle Creek, MI: International Tract Society, 1893, 1894), 190.

[3] Victor P. Hamilton, The Book of Genesis. Chapters 1-17, The New International Commentary on the Old Testament (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1990), 37.

[4] See, Gen 29:27, 28; Ex 34:22; Num 28:26, Deut 16:9

[5] Koehler, Ludwig, Walter Baumgartner, M.E.J Richardson and Johann Jakob Stamm. The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament (HALOT) (Leiden; New York: E.J. Brill, 1999), s.v. “שָׁבוּעַ.” See also, Brown, Francis, Samuel Rolles Driver and Charles Augustus Briggs, Enhanced Brown-Driver-Briggs Hebrew and English Lexicon (BDB) (Oxford: Clarendon Press, 1907), s.v. “שְׁבֻ֣עַ.”

[6] C . John Collins, “The Wayyiqtol as ‘Plu perfect’: When and Why,” TynB 46 (1995): 117-140,

esp. 127-128.

[7] Cf. Exo. 31:18; Deut 4:13.

[8] MT = Masoretic Text

[9] D. M. Canright, Ellen G. White Prophet? or Plagiarist!, s.v. “The Sabbath in the Old Testament,” Accessed January 1, 2017, http://www.bible.ca/7-Seventh-day-Adventism-RENOUNCED-by-D-M-Canright.htm#c13.

[10] D. M. Canright, Ellen G. White Prophet? or Plagiarist!, s.v. “The Sabbath in the Old Testament.”

[11] Mark David Futato, Beginning Biblical Hebrew (Winona Lake, Ind.: Eisenbrauns, 2003), 120.

Editorial Renungan